Tel: (021) 316 9534   Email: humas@bppt.go.id

Dunia Rancang Bangun Dalam Negeri Mampu Bersaing Dengan Luar Negeri

BPPT memberikan Gelar Perekayasa Utama Kehormatan Tahun 2014 Bidang Rekayasa Industri kepada Dr HC Ir H Hartarto Sastrosoenarto. Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul "Perjalanan kemampuan rancang bangun dan perekayasaan industri di Indonesia sampai saat ini dan yang akan datang", Hartarto mengatakan sebagian industri dan jasa di Indonesia telah tumbuh kuat dan bersaing.

"Perekayasa Indonesia mampu bersaing dengan perekayasa luar negeri, khususnya dalam hal plant design, engineering and contruction (rancang bangun, perekayasaan dan konstruksi pabrik). Indonesia bisa dikatakan memiliki skema yang serupa dengan Cina, yaitu skema broad based yang artinya Indonesia banyak melakukan ekspor karena memiliki banyak sumber daya," kata Hartarto, dalam orasi ilmiahnya di depan Majelis Perekayasa, di Auditorium Gedung II BPPT, (20/8).

Saat ini, kemampuan putra-putri Indonesia dalam rancang bangun sangat kompetitif. Perekayasa Indonesia mampu bersaing dengan perekayasa dari Eropa, AS dan Jepang. Rancang bangun menurut Hartarto, baru bisa bergerak cepat apabila industri tumbuh cukup banyak dan didukung oleh perekayasa yang kuat. Dengan begitu, daya saing industri Indonesia akan semakin kuat.

"Saya berharap agar perusahaan dalam negeri memakai kontraktordari Indonesia. Karena kontraktor dari Indonesia selain mampu membuat pabrik, juga mampu membuat mesin-mesinnya. Oleh karena itu, pemerintah harus lebih mengembangkan industri rancang bangun di Indonesia. Dan itu, adalah kewajiban dari BPPT dan Kementerian Perindustrian untuk mengimplementasikannya," ujar Menteri Perindustrian tahun 1983-1993.

Menanggapi hal itu, Kepala BPPT Unggul Priyanto mengatakan bahwa BPPT saat ini harus menghasilkan inovasi dalam jumlah yang banyak. Sebab, jumlah inovasi yang beragam akan berdampak pada jumlah produk yang diproduksi oleh industri. 

"Indonesia sangat berat untuk bisa bersaing dengan Cina . Apalagi kalau dengan pengadaan barang dengan sistem tender, tentu produk Cina yang murah yang akan dipilih. Oleh karena itu, perlu ada keberpihakan terhadap produk-produk dalam negeri, khususnya terhadap produk-produk yang masih 'bayi'," jelas Unggul.

Unggul juga menyampaikan, agar produk dalam negeri bisa laku maka perlu payung hukum. Maka perlu sekali-kali dalam proses tender dilakukan penunjukan langsung terhadap produk dalam negeri dan tentunya juga perlu diawasi dengan ketat proses tendernya. Dengan begitu, produk dalam negeri bisa bersaing dengan produk-produk luar negeri. "Masa kita hanya mengandalkan produk-produk impor dalam membangun pabrik-pabrik yang notabene Indonesia mampu membuatnya sendiri," tuturnya.

Banyak contoh produk-produk yang sudah bisa dihasilkan oleh industri dalam negeri, tapi masih terus mengimpor, seperti pipa, boiler, turbin dan generator. "Intinya bangsa ini harus belajar membuat sesuatu serta memanfaatkannya sendiri untuk kepentingan dalam negeri," tutup Unggul. (tw/SYRA/Humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 9534

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id