Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Kepala BPPT: Fokus Pada Program Yang Memiliki Dampak Nasional

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) RI gelar acara Refleksi BPPT 2016. Acara ini dilaksanakan sebagai upaya untuk diseminasi informasi Iptek, khususnya hasil inovasi BPPT, kegiatan perekayasaan dan layanan teknologi, serta rekomendasi teknologi BPPT, yang ditujukan guna meningkatkan daya saing Bangsa Indonesia. 

 

Kepala BPPT, Dr. Unggul Priyanto dalam pidatonya menyampaikan  capaian BPPT 2016, dengan menyebutkan bahwa Pelaksanaan  program dan kegiatan perekayasaan teknologi oleh BPPT sepanjang tahun 2016 ditandai dengan upaya-upaya untuk memberikan solusi teknologi guna meningkatkan daya saing perekonomian  dan kedaulatan Bangsa Indonesia.  

 

Dipaparkan Unggul bahwa  kaji terap teknologi yang diusung jajarannya saat ini, utamanya fokus dalam tiga bidang teknologi, yakni; Energi, Kemaritiman, serta Pangan. "Tahun ini BPPT fokus dalam kegiatan yang menjadi cita nasional, yaitu untuk mendukung industri nasional, serta peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa. Hal inipun sesuai dengan Program Nawacita Pemerintah dan RPJMN Tahap III 2015-2019," papar Unggul di Auditorium BPPT.

 

Unggul lantas menyebut bahwa saat ini harus diakui bahwa teknologi di Indonesia masih tertinggal dari negara maju. Oleh karena itu pria lulusan Jepang ini menuturkan agar Indonesia tidak melulu hanya riset untuk menghasilkan invensi. 

 

"Yang kita butuhkan adalah inovasi. Jangan hanya riset saja, kalau riset melulu, masih banyak tahapan untuk menuju penerapan. Kita ubah mindset, cari lisensi teknologi yang sudah matang untuk kita reverse engineering agar dapat segera diterapkan di Indonesia," tegas Unggul.

 

Lebih lanjut menghadapi fenomena pemotongan anggaran Kementerian dan Lembaga Pemerintah,  Unggul menuturkan BPPT terus mendorong skema Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), Badan Layanan Umum dan Royalti bagi peneliti. Tahun 2015 penerimaan negara bukan pajak yang diperoleh BPPT mencapai lebih dari Rp 140 miliar. 

 

"Dari beberapa inovasi yang sudah diproduksi massal oleh industri, perekayasa peneliti BPPT telah mengantongi royalti, misalnya dari garam farmasi yang telah di produksi Kimia Farma, BPPT mendapat 1-3 persen dari nilai produknya. Sekali lagi, BPPT fokus pada inovasi bukan sekadar penelitian. Ke depan, BPPT akan terus meningkatkan inovasi dan layanan teknologi," pungkasnya.

 

Sementara, menyikapi pemotongan anggaran tersebut, Anggota DPR Komisi VII, Satya Widya Yudha menyebut peran BPPT dalam pertumbuhan ekonomi sangat signifikan. Satya berpandangan, pemotongan anggaran haruslah mengacu pada kajian mendalam dan perlu dilaporkan ke DPR. 

 

"Penghematan anggaran harusnya memerhatikan kinerja lembaga, apalagi yang berkontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi," tandasnya. (Humas/HMP)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id