Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Kunjungi Lahan Garam Kupang, Menko Kemaritiman: Teknologi Garam Rekayasa BPPT akan Stop Impor Garam

 
Kelangkaan pasokan garam yang sempat melanda negeri, membuat harga garam di sejumlah daerah melambung tinggi. Kebijakan Impor pun terpaksa dilakukan guna memenuhi kebutuhan negeri ini.  
 
Namun demikian, sejumlah cara terus dilakukan pemerintah untuk menghindarkan impor garam di tahun mendatang. Salah satunya oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), yang menghadirkan inovasi teknologi untuk meningkatkan produksi garam agar Indonesia mandiri, mampu penuhi kebutuhan garam nasional. 
 
Dikatakan Kepala BPPT Unggul Priyanto saat hadir dalam Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Pembangunan dan Pengembangan Komoditas Pergaraman di Provinsi NTT, Kupang, Nusa Tenggara Timur (30/10/2017), bahwa BPPT telah mampu melakukan rekayasa teknologi untuk meningkatkan produksi garam.   Rekayasa teknologi yang dimaksud yakni produksi garam harus bisa dilakukan setiap saat dan tanpa mengenal musim. 
 
“Isu krisis garam nasional menjadi perhatian kami. Untuk meningkatkan produksi garam nasional dengan rekayasa teknologi ini memungkinkan untuk bisa dilakukan setiap saat. Jadi  produksi tak hanya dilakukan pada musim kemarau saja,” ucapnya.
 
Seperti diketahui, curah hujan di sentra-sentra garam seperti Pantai Utara Jawa (Pantura), Pulau Madura, dan sebagainya masih cukup tinggi.  Dampaknya, panen garam terganggu dan kekurangan garam pun terjadi.
 
Untuk mengatasi masalah pasokan garam ini, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, menyebut bahwa pemanfaatan teknologi harus dapat membantu petani meningkatkan produksi maupun kualitas garam.
 
Hasil inovasi BPPT (teknologi garam, red) yang diuji coba di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini dikatakan Menko Luhut, jika produksi garamnya bagus, akan diaplikasikan juga di Madura dan sentra-sentra garam lainnya.
 
"Kalau ada nanti langsung kita praktik, langsung kita bikin lahan garam satu di Kupang, kalau bagus langsung kita bikin lagi di Madura dan sebagainya," paparnya. 
 
Pihaknya yakin solusi teknologi BPPT bisa mengatasi masalah pasokan garam di Indonesia. Tak perlu impor lagi, bukan hanya untuk jangka pendek saja, tapi untuk jangka panjang.
 
"Dengan begitu, cost lebih rendah, tidak lagi terlalu berpengaruh dengan cuaca, produksi dapat kita angkat dan kita tidak impor lagi. Itu salah satu rekayasa dari BPPT," tegas Menko Luhut. 
 
 
Di tempat yang sama Gubernur Nusa Tenggara Timur, Frans Leburaya juga menyatakan komitmennya untuk meningkatkan produktivitas garam di NTT. Untuk itu, dirinya juga meminta dukungan berbagai pihak demi mewujudkan cita Indonesia agar terbebas dari impor garam.
 
 
"Sudah saatnya industri garam dan petani garam kita di NTT lebih berdaya saing. Semoga dengan dukungan pemerintah pusat, hal ini dapat segera terwujud," pungkasnya. (Humas/HMP)
 
 
FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id