Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT-PICES Optimalkan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Kelautan Dengan Teknologi

 

BPPT bersama PICES (North Pacific Marine Science Organization) adakan Pelatihan Teknologi Hydrocolour dan Harmful Algae Broom (HAB) Untuk Pengolahan Sumber Daya Pesisir dan Perikanan di Gedung BPPT, Jakarta (10/07). Pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan kerja sama antara BPPT dengan PICES (North Pacific Marine Science Organization) Maret lalu.

 

Kepala BPPT Unggul Priyanto mengungkapkan bahwa BPPT sangat mendukung dan berterima kasih kepada PICES karena telah berkenan membawa teknologi ini ke Indonesia dan memberikan pelatihan kepada para petani tambak dan nelayan, serta pihak akademisi.

 

“Dengan adanya pelatihan teknologi Hydrocolour dan HAB, para peserta, khususnya petani tambak dan nelayan dari Muara Gembong dan Indramayu, dapat meningkatkan kemampuan dalam pemantauan kondisi lingkungan perairan di wilayah pesisir dengan lebih baik lagi,” harap Unggul.

 

Unggul menerangkan dengan panjang pantai mencapai 95.181 Km dan luas wilayah laut sebesar 5,4 juta Km2, Indonesia dikaruniai sumber daya kelautan dan perikanan yang besar. Kekayaan keanekaragaman hayati dan non hayati kelautan termasuk yang terbesar didunia. "Seharusnya semua itu dapat dijadikan andalan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat terutama para pembudidaya, nelayan dan masyarakat pesisir,” tegasnya.

 

“Semoga teknologi Hydrocolour dan HAB dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh nelayan dan petani tambak, dan kedepannya para perekayasa dan peneliti Indonesia dapat melakukan alih teknologi yang dibawa oleh PICES untuk bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia. Tidak hanya di Muara Gembong dan Indramayu saja,” tutup Unggul dalam sambutannya.

 

Dalam kesempatan yang sama Kepala Pusat Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan (PUSBINDIKLAT) BPPT, Suhendar I. Sachoemar mengatakan Pelatihan Teknologi Hydrocolour dan HAB ditujukan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dalam pemantauan kondisi lingkungan perairan dan sumber daya di wilayah pesisir dan kelautan secara berkelanjutan dengan menggunakan teknologi.

 

“Pelatihan ini akan mengenalkan dan mengajarkan petani tambak dan nelayan bagaimana menggunakan teknologi Hydrocolour untuk memantau kualitas perairan, teknologi FoldScope untuk identifikasi biota/plankton perairan serta prediksi HAB, dan teknologi Geographic Information System (GIS) untuk monitoring penangkapan ikan,” jelas Suhendar.

 

Kepala PUSBINDIKLAT BPPT juga berharap BPPT sebagai lembaga alih teknologi dan technology clearing house, harus mampu menguasai teknologi yang dibawa oleh PICES, sehingga dapat meningkatkan ilmu pengetahuan ilmuwan Indonesia dalam pengelolaan sumber daya perikanan, kelautan yang lebih baik lagi.

 

“Intinya BPPT siap untuk menerapkan teknologi Hydrocolour dan HAB ini,” pungkas Suhendar.

 

Sedangkan dari pihak PICES, Mitsutako Makino mengatakan tujuan PICES dalam proyek ini secara keilmuan yaitu untuk meningkatkan kapasitas petani tambak dan nelayan kecil di wilayah pesisir, karena merekalah yang paling mengenal ekosistem disekitarnya.

 

“Selanjutnya dengan ilmu yang telah didapat, mereka bisa memaksimalkan sumber daya yang ada di sekitar mereka, khususnya dalam bidang perikanan, menggunakan teknologi yang tersemat di telepon seluler mereka.” Tutur Makino.

 

Makino menerangkan petani tambak dan nelayan kecil akan diajak untuk ikut berkontribusi memasukan data ekosistem di sekitar mereka ke dalam satu pusat data, dan selanjutnya data tersebut bisa diakses oleh seluruh komunitas.

 

Data yang dimaksud adalah data kualitas air, sebaran ikan di suatu area, resiko terjadinya HAB/gangguan, stok/ketahan ikan, perubahan iklim, dan informasi cara tata kelola perikanan yang lebih baik lagi.

 

Lebih lanjut, Makino bercerita bahwa selama ini petani tambak dan nelayan kecil harus membayar untuk mendapatkan informasi seperti lokasi sebaran ikan dan data perikanan lainnya. Namun dengan proyek ini, semua data bisa diakses secara cuma-cuma oleh para petani tambak dan nelayan kecil, mereka cukup ikut berkontribusi mengembangkan proyek ini.

 

“Tujuannya agar mereka memiliki kemampuan yang cukup untuk meningkatkan manajemen perikanan sekitarnya, melakukan konservasi lingkungan, terlebih bisa turut berkontribusi mengembangkan data untuk turut serta menjaga keberlangsungan perikanan dunia,” harap Makino.

 

Sebagai informasi Pelatihan Teknologi Hydrocolour dan HAB Untuk Pengolahan Sumber Daya Pesisir dan Perikanan terselenggara oleh kerja sama BPPT dengan PICES, serta didukung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan RI (KKP) dan Pusat Penelitian Oseanografi LIPI.

 

Pelatihan ini akan dilaksanakan selama tiga hari, dimulai dari tanggal 10 – 12 Juli 2018 yang terdiri dari kelas teori, kegiatan praktek lapangan dan laboratorium, serta diskusi dengan ahli dan praktisi.

 

Peserta pelatihan terdiri dari para petani, petambak, dan nelayan dari Muara Gembong dan Indramayu, yang didampingi staf Pemerintahan Daerah Dinas Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Bekasi, Indramayu, serta wilayah Banten. Dari pihak akademisi hadir juga perekayasa dan peneliti dari BPPT, KKP, dan LIPI untuk mendukung pelaksanaan pemantauan kondisi lingkungan perairan di wilayah pesisir dan HAB secara berkelanjutan. (Humas/HMP)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id