• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

BPPT Dorong Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik (KBL)

Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai pun telah diterbitkan pada 8 Agustus 2019.

 

Oleh karena itu, untuk membuktikan keseriusan pemerintah dalam menyambut era baru transportasi ini, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pun terus mendorong agar teknologi ini mampu diadaptasi secara masif.

 

Satu diantaranya melalui sinergi dengan banyak lembaga, baik dari pemerintah maupun non pemerintah.

 

BPPT pun kini menjajaki kerja sama dengan sejumlah pihak, yakni melalui penandatangan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan PT Len Industri, serta kerja sama PLN dengan mitra lainnya terkait Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) atau Charging Station.

 

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan bahwa kehadiran KBL saat ini telah mengubah tren gaya hidup masyarakat tanah air.

 

"Kendaraan bermotor listrik merupakan salah satu tren transportasi terkini yang mengubah gaya hidup kita," ujar Hammam usai Penandatanganan MoU terkait kerjasama Percepatan Program KBL Berbasis Baterai, di Kantor BPPT, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (16/10/2019).

 

Perpres Nomor 55 Tahun 2019 yang telah diterbitkan itu tentunya akan menjadi acuan dalam upaya penerapan KBL sebagai transportasi ramah lingkungan.

 

"Perpres ini membuka lembaran baru bagi penerapan teknologi kendaraan bermotor listrik yang diharapkan akan menggairahkan semangat penerapan maupun pemanfaatannya secara lebih luas," jelas Hammam.

 

Perlu diketahui, dalam upaya mendorong agar penerapan teknologi satu ini bisa diimplementasikan pada masyarakat luas, BPPT telah memberikan edukasi maupun sosialisasi melalui sebuah event besar bertajuk 'Indonesia Electric Motor Show (IEMS) 2019' yang digelar selama 3 hari yakni 4 dan 5 September 2019 di Gedung Balai Kartini Jakarta, lalu diakhiri pada 7 September lalu dengan konvoi kendaraan listrik dari BPPT Thamrin ke BPPT Kawasan Pupiptek Serpong. 

 

 

Hal itu bertujuan untuk memberikan pemahaman secara mendalam kepada masyarakat Indonesia terkait KBL sebagai contoh disruptive technology terbaru.

 

BPPT pun kini telah dipercaya untuk menjalankan Flagship mengacu pada Prioritas Riset Nasional (PRN) khususnya terkait Fast Charging Station.

 

Hammam menuturkan, ini merupakan bagian dari Flagship Penyimpanan Energi dan Charging Station untuk 5 tahun ke depan, yakni periode 2020-2024.

 

Program ini pun diharapkan mampu memberikan dorongan agar pembangunan industri charging station dalam negeri bisa direalisasikan secara optimal.

 

"Ini merupakan wujud kepercayaan terhadap inisiatif pengembangan KBL dan Infrastruktur KBL berupa charging station yang telah dilakukan oleh BPPT selama ini," tutur Hammam.

 

Terkait inisiatif yang mengacu pada infrastruktur KBL, sebelumnya BPPT telah berhasil meluncurkan dua Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik atau Electric Vehicle Charging Station (EVCS) pada 2018 lalu.

 

EVCS itu meliputi fasilitas fast charging station 50 kW yang ditempatkan di kantor BPPT Jakarta Pusat, dan di Klaster Energi BPPT yang terletak di kawasan PUSPIPTEK Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

 

Dalam perkembangannya, penggunaan fasilitas EVCS itu cukup efektif karena banyak masyarakat yang mulai memanfaatkan fast charging station ini untuk kebutuhan mereka, "Ini adalah salah satu bentuk dari kliring teknologi yang merupakan salah satu peran BPPT,".

 

Selain terus mendorong penggabungan sumber energi terbarukan dalam sistem yang disebut 'smart grid' sebagai bagian dari upaya pengimplementasian terhadap peran lainnya, yakni perekayasaan maupun alih teknologi.

 

BPPT juga berupaya berkontribusi dalam mendorong Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sebesar 15 persen dari keseluruhan sistem charging station di tahap awal.

 

Tentunya nilai itu diharapkan dapat ditingkatkan menjadi 30%.

 

SINERGI BERSAMA

 

Terkait kerja sama pengembangan charging station, BPPT bersinergi dengan PT Len Industri melalui pertimbangan terhadap sejumlah faktor.

 

Mulai dari alokasi penempatan charging station di kota lainnya selain ibu kota yakni Bandung, kemudian kombinasi dengan PLTS lantaran kompetensi dalam pengembangan sistem PLTS merupakan ranah PT Len Industri.

 

Hingga potensi terkait peningkatan TKDN yang menggunakan perangkat hasil pengembangan yang dilakukan perusahaan tersebut.

 

Sementara terkait kerja sama BPPT dengan PLN, perlu diketahui bahwa SPKLU telah diatur dalam Perpres Nomor 55 tahun 2019, di mana PLN ditunjuk sebagai penyedia infrastruktur pengisian listrik bagi KBL untuk kali pertama.

 

"Karenanya, hari ini merupakan momentum penting karena kita semua berkumpul untuk menjalin kerjasama yang lebih konkrit, guna menindaklanjuti amanat Perpres tersebut," papar Hammam.

 

BPPT memang berharap bisa bersinergi dengan para pemangku kepentingan terkait penerapan teknologi pada industri SPKLU ini.

 

"Ini menjadi pijakan awal terbentuknya semacam wadah seperti sebuah konsorsium charging station. Bukan tidak mungkin nanti akan ada MoU lanjutan antara mitra-mitra yang berkumpul di sini terkait teknologi atau model bisnis charging station," tegas Hammam.

 

Hammam berharap agar penandatanganan MoU yang dilakukan hari ini, mampu membentuk sebuah komunitas teknologi dan industri charging station KBL.

 

Sehingga perekonomian Indonesia bisa tumbuh dan negara ini mampu mandiri dan berdaya saing pada masa mendatang, "Ke depan, upaya yang kita mulai hari ini saya harap terus dapat dikembangkan lebih luas lagi untuk mewujudkan ekosistem industri teknologi KBL yang kondusif, yang mampu memberikan dukungan terhadap kemandirian dan daya saing bangsa,".

 

Hammam kembali menyampaikan harapannya, agar hasil inovasi karya anak bangsa, baik KBL maupun inovasi lainnya seperti baterai, sistem pengisi cepat (fast charger system) maupun ide inovasi lainnya yang belum tercetus, mampu mendukung pemanfaatan smart electric vehicle secara masif di era industri 4.0.

Hasil inovasi karya anak bangsa harus mampu bersaing di tengah pesatnya perkembangan kendaraan listrik global dari berbagai pabrikan kendaraan ternama dunia, baik itu kendaraan listrik hybrid, kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle), hingga autonomous vehicle.

 

"Semua harapan itu menjadi tantangan bagi kita semua, apakah kita mampu bersinergi, berkolaborasi dan saling mendukung agar mampu mewujudkan terbangunnya sebuah ekosistem, di mana kita dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri," pungkas Hammam. (Humas/HMP)

 


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2020 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT