• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Hilirasi Inovasi, BPPT Perkenalkan Rumah Tahan Gempa dan Teknologi Coating Buah Ke Mitra Industri

BPPT perkenalkan dua inovasi teknologi, Rumah Tahan Gempa Bale Kohana, dan Teknologi Coating Buah, kepada mitra industri serta pemerintah daerah/pusat dalam acara Hilirisasi Teknologi BPPT di Gedung Pusat Inovasi dan Bisnis Teknologi BPPT, Puspiptek, Tangerang Selatan, Rabu (16/10).

 

Membuka acara Direktur Pusat Teknologi Kawasan Spesifik dan Sistem Inovasi BPPT Iwan Sudrajat menyampaikan bahwa acara ini diselenggarakan guna memperkenalkan National Science and technology Park (NSTP) BPPT yang mempunyai fungsi salah satunya memfasilitasi pengembangan dan hilirisasi hasil teknologi ke industri untuk meningkatkan produktivitas, kompetensi, kualitas produk, dan daya saing perusahaan/industri.

 

“NSTP sebagai hub (penghubung –red) tidak hanya sebagai penghasil inovasi, namun juga hub bagi penyedia teknologi dan yang menggunakan. Karena BPPT tidak dapat memproduksi maka hasil inovasi teknologi yang direkayasakan harus dihilirkan kepada mitra industri,” terang Iwan.

 

Dilanjutkannya kegiatan Business Gathering ini pertama kali dilakukan oleh NSTP BPPT dengan maksud untuk mempercepat dan mempermudah aliran hilirisasi hasil riset BPPT, dan memperkuat jejaring inovasi dan bisnis dengan para pebisnis maupun pemerintah daerah.

 

“Untuk kegiatan kali ini akan disampaikan hasil riset tentang larutan coating Buah dari Pusat Teknologi Agroindustri dan Rumah Bale Kohana/Rumah Tahan Gempa dari Pusat Teknologi Material,” sebut Iwan.

 

Dirinya mengungkapkan hasil penelitan atau kerekayasaan belum dapat dikatakan sebagai inovasi kalau belum diproduksi dan dikomersialisasikan oleh industri.

 

“Semoga dengan adanya acara ini, bisa menjadi langkah awal yang baik untuk mengenal hasil inovasi BPPT, serta diharapkan mitra industri serta pemerintah daerah mendapatkan layanan teknologi yang dibutuhkan dan berkenan untuk bermitra dengan BPPT melalui NSTP BPPT,” tutup Iwan.

 

INOVASI BPPT – Bale Kohana dan Coating Buah

  

Hadir mewakili Tim Bale Kohana BPPT, Vian Marantha, menerangkan bahwa sebagian besar kawasan Indonesia berada dalam kawasan rawan bencana yang acapkali menimbulkan kerusakan bangunan dan berujung pada timbulnya korban jiwa.

 

“Menyikapi hal ini BPPT melalui Pusat Teknologi Material (PTM), coba menawarkan inovasi Bale Kohana, dimana rumah ini konstruksi dan materialnya mampu menahan gempa hingga skala 9 SR,” terang Vian.

 

Posisi rumah ini urainya, disambung dalam ikatan yang utuh, jadi ketika terkena beban gempa, sambungan tersebut tidak tercerai berai, atau tidak terjadi roboh. Terlebih kami telah menambahkan teknologi seismic rubber bearing di setiap pondasi rumah yang ditujukan untuk meredam goncangan gempa.

 

"Rumah ini juga disusun per panel, kalaupun roboh tidak mencelakai penghuni. Karena material ringan yang terbuat dari komposit sandwich. Kalaupun ada yang jatuh menimpa berat panel hanya 2 kilogram. Jadi tidak begitu berbahaya," paparnya.

 

Vian kemudian menyebut bahwa BPPT telah didukung oleh mitra industri  dalam hal ini PT. Bondor Indonesia dan PT. Tata Logam Lestari, dalam penyediaan komponen bangunan Bale Kohana yang telah memenuhi standar nasional indonesia (SNI) untuk kebutuhan rumah tahan gempa.

 

“Rumah ini diklaim mampu bertahan hingga 20 Tahun lebih, dan sudah mendapatkan sertifikat anti bakteri. Selain itu material komposit Bale Kohana bersifat tahan api, sehingga apabila terjadi kebakaran, penghuni rumah memiliki waktu untuk menyelamatkan diri serta barang bawaan penting lainnya,” ujar Vian.

 

Inovasi selanjutnya yakni teknologi coating buah, dalam hal ini komoditas Mangga. Dimana produksi mangga Indonesia saat ini sudah menduduki nomor empat di dunia.  Data 2015 menunjukkan bahwa mangga Indonesia jumlah produksinya mencapai  2,4 juta ton, setara dengan 5% dari produksi dunia.

 

Wiwik Handayani selaku perwakilan dari Tim Teknologi Coating Buah BPPT berujar bahwa dengan teknologi ini dapat memperpanjang masa kesegaran buah.

 

"Teknologi ini telah berhasil diterapkan pada tanaman mangga. Bisa tahan dan aman dikonsumsi hingga empat minggu," terang Wiwik.

 

Wiwik menambahkan bahwa dengan diterapkannya teknologi coating, hasil uji menunjukan bisa membantu mengurangi susut bobot, karena susut bobot itu sangat penting dalam bisnis.

 

“Susut bobot kurang lebih 5% - 10% dapat mengalami kerugian bagi produsen, susut bobot itu menyebabkan produk itu menjadi keriput sehingga tampilannya kurang menarik,” detilnya.

 

Lebih lanjut, teknologi coating atau yang disebut dengan pelapisan memang telah banyak beredar di pasaran, namun bahannya masih impor semua, ditambah bahan utamanya yaitu lilin lebah cenderung mahal. Oleh karena itu kita melakukan perekayasaan untuk menemukan bahan penggannti seperti turunan sawit, rumput laut, maupun dari pati

 

“Kami telah melakukan pengujian dan perbandingan dari semua bahan yang disebutkan sebelumnya. Dari hasil pengujian penggunaan bahan turunan sawit untuk coating mangga mendapatkan hasil yang sangat bagus dan dapat menekan atau mencegah susut bobot hingga 3-4 minggu, artinya kurang dari 5%, itu sangat membantu produsen nantinya,” urai Wiwik.

 

Dirinya mengatakan teknologi coating ini juga bisa diterapkan untuk komoditas buah atau sayuran lain. Bahkan saat ini tim sedang menyusun formulasi terbaik untuk buah naga.

 

“Apabila ada yang berminat untuk melakukan coating pada komoditas lain, kami siap membantu secara teknologi, mitra industri tinggal mempersiapkan komoditas dan ruangan operasional untuk coating,” tutup Wiwik. (Humas/HMP)

 


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2020 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT