• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Alat Uji PCR Covid-19 Buatan Anak Negeri Segera Diproduksi Massal

Alat uji test kit berbasis Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mendiagnosis Covid-19 yang dibuat perusahaan dalam negeri, kini memasuki tahap uji coba dan siap untuk diproduksi.

 

Melalui sebuah projek bertajuk Indonesia Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan Covid-19 (TFRIC19), sebentar lagi bangsa kita bisa memproduksi sendiri test kit Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) secara mandiri Rencananya, Alat tes PCR yang diberi nama Indonesia TFRIC19 itu akan diproduksi sebanyak 100.000 unit.

 

Proyek TFRIC19 sendiri dibentuk atas inisiasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang ditunjuk sebagai koordinator percepatan pengembangan produk dalam negeri, guna mengatasi wabah Covid-19 yang menjadi pandemik dunia dan Indonesia. Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, melalui TFRIC19 pihaknya akan terus memberikan dukungan penuh dalam percepatan produksi test kit PCR ini.

 

“BPPT juga yakin, produk tes kit PCR dalam negeri segera terwujud setelah PT Bio Farma menyatakan kesediaan dan kesiapannya. Donasi masyarakat melalui gerakan Indonesia Pasti Bisa telah memberikan kekuatan yang luar biasa untuk mewujudkan test kit PCR dalam negeri, sebagai bagian penguatan kemampuan nasional dalam menangani pandemi Covid-19,” kata Hammam beberapa waktu lalu.

 

Sementara, Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengutarakan, bahwa Geomika Nusantic akan menyelesaikan prototype RT - PCR dalam waktu dua minggu dan rencananya, pada tahap pertama Biforma akan memproduksi 100 ribu unit RT-PCR.


Ia berharap produksi alat tes kit mampu membantu pemerintah dalam percepatan penanganan menghadapi pandemi corona. “Jadi bisa 100 ribu test setiap hari di masyarakat sehingga kita dapat menangani covid-19 bisa lebih cepat,” katanya saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI lewat konferensi video, (21/4).

 

Alat tes ini, menurutnya memenuhi golden standard dalam pemeriksaan virus corona sekaligus penentuan penegakan diagnosis status positif atau negatif dari sampel swab yang berasal dari pasien yang terduga terpapar virus tersebut.

 

Nantinya, proses produksi secara massal itu akan memanfaatkan fasilitas produksi Bio Farma, termasuk proses pengujian, packaging, dan distribusi. Sumber daya manusia nya pun berasal dari Bio Farma yang memiliki kompetensi di bidang biomolekuler.

Bio Farma juga menjalankan peran sesuai dengan kompetensinya, antara lain untuk membuat kit diagnostik berbasis PCR, produksi dan packaging, quality control sekaligus validasinya serta registrasi untuk mendapatkan ijin edar," ujarnya.

 
Ia pun menyebut, fasilitas produksi sudah siap sejak 20 April 2020 kemarin, sementara durasi produksi maksimal selama dua minggu dengan jumlah 100 ribu kit. Selain itu pihaknya juga berperan aktif dalam distribusi kit ini ke seluruh fasilitas kesehatan rujukan pemerintah yang berada di seluruh pelosok Indonesia.

 

Dengan kemampuan Perseroan dalam membuat test kit berbasis RT-PCR akan mengurangi ketergantungan impor alat kesehatan. Keterlibatan Induk Holding BUMN Farmasi tak terlepas dari keberadaan BPPT dan TFRIC19 serta Tes kit ini yang diklaim 100 persen buatan dalam negeri, pungkasnya.

 

Sebagai informasi, selain perusahaan startup asal Indonesia, ada beberapa pihak lain yang terlibat dalam produksi alat tes ini, di antaranya Badan Litbangkes dan Lembaga Biologi Molecular Eijkman. (Humas,) Sumber : https://katadata.co.id, https://akurat.co.id

 


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2020 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT