• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

BPPT dan TFRIC-19 Hadirkan Inovasi Teknologi Dalam Penanganan Pandemi Covid-19

BPPT melalui sinergi kelembagaan bernama Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk penanganan Covid-19 (TFRIC19) telah menghasilkan berbagai produk buatan dalam negeri untuk mengatasi wabah virus yang terus merebak itu. Saat ini TFRIC19 telah melakukan akselerasi dalam mengembangkan lima produk utama yang tertuang dalam rencana aksi cepat.

 

Kelima kategori produk utama yang dikembangkan tersebut, yakni: (1) Non-PCR diagnostic test Covid-19 (dalam bentuk dip stick dan micro-chip); (2) PCR test kit, labo- ratorium uji PCR dan sequencing; (3) sistem informasi dan aplikasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI); (4) data whole genome Covid-19 origin orang Indonesia yang terinfeksi; dan (5) sarana dan prasarana deteksi, penyediaan logistik kesehatan dan ekosistem inovasi dalam menangani pandemi Covid-19.

 

Penggunaan teknologi AI guna penanganan Covid-19 dilakukan TFRIC19 melalui Sub-tim Artificial Intelligence. Adapun prinsip kerjanya yakni berdasarkan data X-Ray dan CT-Scan dari pasien yang positif dan negatif Covid-19, akan dibangun model AI, dikatakan Kepala BPPT Hammam Riza saat konferensi pers di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang disiarkan secara daring (3/5/2020).

 

Lebih lanjut diungkapkan, model ini dapat digunakan untuk membantu mendeteksi dini pasien dengan validasi dari radiolog dan dokter guna menjadi landasan pengambilan keputusan dan kebijakan oleh pejabat yang berwenang.

 

Model AI berdasarkan dataset CT-scan dan X-ray yang dikumpulkan baik dari luar negeri maupun dalam negeri, secara umum prosesnya adalah sebagai berikut: 1) akuisisi data citra melalui platform data-mining, 2) anotasi oleh radiolog, 3) pengembangan model AI melalui supervised training, 4) validasi oleh radiolog/dokter dan penyempurnaan model, 5) deployment system di Cloud. Dengan menggunakan sistem berbasis AI ini dalam menegakkan diagnosis Covid-19 diharapkan dapat menyelesaikannya.

 

Perangkat lunak berbasis AI yang dikembangkan saat ini merupakan Versi 0.5. Pada versi ini model AI dengan machine learning dibangun berdasarkan dataset CT-scan dari luar negeri, diantaranya dari IEEE, Cornell University, dan Italia.

 

Dengan pendekatan machine learning ini telah berhasil dilakukan segmentasi lapang paru. Dari segmentasi lapang paru ini, selanjutnya diperoleh segmentasi tampakan radiologig yang berupa GGO (Ground Glass Opacity) dan Konsolidasi. Kedua tampakan radiologis ini dipandang sebagai tampakan yang sering muncul pada pasien Covid-19. Dari GGO dan Konsolidasi yang diperoleh ini selanjutnya dilakukan ekstraksi fitur berupa rasio luasan area, posisi, dan banyaknya sebaran GGO dan Konsolidasi, untuk selanjutnya diterapkan ke Algoritma Machine Learning untuk mendeteksi Covid-19 dari data CT-scan. 

 

Pendekatan Deep Learning diterapkan untuk deteksi Covid-19 dari data X-ray. Algoritma yang digunakan berbasis pada Convolutional Neural Networks. Dengan pendekatan ini citra X-ray dapat diklasifikasi berdasarkan tampakan radiologis disertai dengan tingkat/nilai probabilitas yang menyatakan tingkat keyakinan tampakan radiologis diklasifikasi.

 

Untuk dapat menerima data CT-scan dan data X-ray serta data-data non-image dalam jumlah besar, telah dibangun platform data mining. Platform ini sedang dlam proses untuk dihubungkan dengan RS-online, yang merupakan pusat data rumah-sakit nasional.

 

Sistem pendukung pengambilan keputusan untuk deteksi Covid-19 sedang dalam proses pengembangan. Sistem ini menghasilkan rekomendasi yang dapat digunakan dokter dalam menegakkan diagnosis Covid-19, berdasarkan data-data citra dan data klinis lainnya.

 

Diharapkan sistem yang dikembangkan ini akan melengkapi atau bersifat komplemen terhadap pengujian berbasis PCR, maupun whole genome sequencing Covid-19 Indonesia, ujarnya.

 

Mobile Lab BSL-2 untuk Swab Test

 

Lanjut Hammam, Inovasi lain yang dikembangkan BPPT adalah membangun Laboratorium Keamanan Level 2 (Bio-Safety Level 2) mobile dengan kontainer yang ditargetkan beroperasi pada akhir Mei 2020. Laboratorium mobile ini akan dikirimkan ke berbagai daerah untuk memudahkan pelaksanaan uji PCR dalam rangka mendeteksi Covid-19.

 

Mobile lab BSL 2 ini juga telah mengikuti standar WHO yang dilengkapi sejumlah peralatan untuk mendukung pemeriksaan swab Covid-19 antara lain: peralatan PCR untuk tes swab Covid-19, bio-safety cabinet, dan sistem pemprosesan limbah medis.

 

Sebelumnya, BPPT juga sudah meluncurkan Covid Track, yakni aplikasi untuk memonitor keberadaan pasien positif Covid-19 dalam rangka melindungi tenaga medis. Melalui aplikasi ini, ketika seorang dokter akan melakukan anamnesa dan mulai mendata pasien, berdasarkan NIK yang dimasukkan, dokter akan tahu apakah pasien tersebut sudah pernah terdata sebelumnya. Bila data menunjukkan bahwa pasien berstatus PDP atau konfirmasi positif, aplikasi akan mengirimkan notifikasi ke dokter, untuk mengambil tindakan preventif.

 

Inovasi Portable Ventilator

 

Selain itu, BPPT juga telah mengembangkan ventilator portabel semi-automatic. Produk ini mengadopsi desain open source yang dikembangkan di Eropa dengan modifikasi sesuai material dan komponen yang ada di pasar lokal. Ventilator portabel ini menggunakan ambu bag (alat untuk memompa oksigen atau pipa berkatup). Cara kerjanya: ambu bag ini akan dipompa dengan alat yang dimekanisasi menggunakan motor listrik yang dikendalikan secara otomatis.

 

Guna mengantisipasi kebutuhan terhadap produksi massal, BPPT juga telah menjalin kesepakatan dengan tiga industri nasional dari kalangan BUMN dan swasta. Saat ini BPPT sedang melakukan uji fungsi dan klinis oleh yang dijalankan oleh tim dokter yang berasal dari rumah sakit BUMN dan rumah sakit swasta.

 

Hammam menyebut, diperkirakan kebutuhan ventilator di Indonesia pada saat puncak pandemi akan lebih dari 70.000 unit. Padahal, sementara ini jumlah ventilator  yang tersedia di rumah sakit di seluruh Indonesia diperkirakan tidak sampai 7.000 unit.

 

Berbagai inovasi yang dihasilkan tersebut merupakan hasil upaya anak bangsa melalui superteam yang dipimpin BPPT dengan menggandeng berbagai stakeholder ABCG (academician, business, community, government).

 

Pengembangan Non PCR dan PCR Test Kit

 

Saat ini, alat test kit berbasis Polymerase Chain Reaction (PCR) kini telah memasuki tahap uji coba dan siap untuk diproduksi. Rencananya, alat tes PCR ini akan diproduksi sebanyak 100.000 unit. Alat tes PCR yang dikembangkan ini memanfaatkan strain atau varian genetik virus corona yang menginfeksi orang Indonesia dengan status transmisi lokal.

 

Lebih lanjut Hammam mengungkapkan, bahwa proses produksi secara massal akan memanfaatkan fasilitas produksi Bio Farma, termasuk untuk proses pengujian, packaging, dan distribusi. “Namun, pengembangan ini masih terkendala oleh ketersediaan alat reagen yang saat ini masih harus impor,” ujarnya.

 

disebutkannya, bahwa paling cepat 10 Mei 2020 sudah bisa didistribusikan ke rumah sakit serta laboratorium yang menguji spesimen Covid-19. Selain alat tes PCR, BPPT bersama dengan Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 juga melakukan pengembangan alat lainnya untuk mendukung penanganan virus di Indonesia. Alat tersebut adalah Rapid Detection Test (RDT) Kit yang terdiri dari dua perangkat, yakni RDT Kit untuk deteksi antibodi IgG/IgM, dan RDT Kit untuk deteksi antigen micro-chip.

 

BPPT bersama tim dari UGM, ITB, dan sejumlah pelaku industri mengembangkan RDT antibodi IgG/IgM dalam bentuk strip. Produk ini mampu mendeteksi secara cepat keberadaan virus Covid-19 dalam waktu 5-10 menit cukup dengan meneteskan darah atau serum pada alat RDT Kit IgG/IgM.

 

“RDT Kit ini didesain  menggunakan platform teknologi imunokromatografi yang berbasiskan virus lokal Indonesia, sehingga diharapkan lebih sensitif dan lebih spesifik untuk orang Indonesia dibandingkan produk impor,” jelasnya.

 

Sementara itu perangkat RDT Kit micro-chip merupakan alat pendeteksi antigen yang mampu mendeteksi secara dini (early detection) keberadaan virus Covid-19 pada pasien dalam pengawasan (PDP), orang dalam pemantauan (ODP) dan orang tanpa gejala dengan menggunakan sensor Surface Plasmon Resonance (SPR). Satu micro-chip dapat mendeteksi sekaligus delapan sampel dari hasil swab.

 

“Meski demikian, alat ini baru akan diproduksi dalam jangka waktu 1 tahun, karena pekerjaannya lebih rumit dan lama dibandingkan yang berbasis antibodi,” katanya.

 

Lanjutnya, RDT Kit hasil pengembangan tim UGM akan diproduksi di tahap awal kurang lebih sebanyak 10.000 unit RDT Kit yang akan dilakukan oleh PT Hepatika Mataram paling lambat pada Mei 2020. Selanjutnya 100.000 RDT Kit akan diproduksi paling lambat bulan Juni 2020.

 

“Persembahan BPPT untuk menanggulangi Covid-19 ujar Hammam adalah membangun ekosistem inovasi teknologi dengan cepat, agar produk kesehatan dihasilkan secara mandiri”.

 

Menurutnya, konsorsium ini menjadi wujud nyata kolaborasi quadruple helix atau yang dikenal dengan sebutan kolaborasi ABGC. Hal inipun dilengkapi pula dengan dukungan East Ventures dalam menghimpun dana, serta dorongan semangat kuat dari gerakan Indonesia PASTI BISA.

 

“Saya optimistis seluruh komponen bangsa dapat bergotong-royong menghadapi pandemi ini,” katanya yakin. (Humas)


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2020 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT