• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Berikut, Produk Inovasi Alat Kesehatan Karya Anak Bangsa

BPPT bersama TFRIC-19 telah melakukan akselerasi dalam mengembangkan produk inovasi alat kesehatan untuk mendukung penanganan wabah Covid-19. Lima produk inovasi tersebut, pagi tadi telah diluncurkan oleh Presiden RI Joko Widodo, secara virtual dari Istana Presiden. Beberapa produk inovasi Covid-19, diantaranya RDT Kit, PCR Test Kit, Artificial Intelligences untuk deteksi Covid-19, Mobile Lab Bio Safety Lab lvl.2, dan Emergency Ventilator yang merupakan Pengembangan BPPT bersama Task Force Riset dan Inovasi Teknologi Untuk Penanganan Covid-19.

 

Pengembangan PCR Test Kit dan Non PCR Test Kit

Perlu diketahui, dari hasil produksi terkini telah berhasil diproduksi sebanyak 50.000 PCR test kit. Rencananya, alat test PCR ini telah akan diproduksi sebanyak 100.000 unit pada akhir Mei 2020. 

 

Alat test PCR yang dikembangkan bersama oleh BPPT, NUSANTICS dan PT Biofarma ini di design dengan target gen deteksi Sarscov-2 sesuai dengan sekuens virus Indonesia. PCR test kit ini mempunyai sensitivitas tinggi (100%) terhadap Sarscov-2 dengan menggunakan Open system (bisa digunakan di berbagai alat RTPCR, memiliki kemudahan distribusi dengan harga terjangkau).

 

Telah pula dilakukan distribusi untuk uji komparasi di 10 institusi (Mikrobiologi UI, RS Tanggerang, RSND Semarang, RSPI, Litbangkes, Eijkman, Labkesda DKI, Labkes Provinsi Jawa Barat, Kimia Farma, Bio Farma). Proses produksi secara massal ini memanfaatkan fasilitas produksi PT Bio Farma, termasuk untuk proses pengujian, packaging, dan distribusi. 

 

Pengembangan ini pun sempat terkendala oleh ketersediaan alat reagen yang saat ini masih harus impor. Meski begitu pada akhir Mei 2020 akan rampung didistribusikan ke rumah sakit serta laboratorium yang menguji spesimen Covid-19. 

 

Di samping alat tes PCR, BPPT bersama dengan Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 yaitu UGM, Unair, Hepatika Mataram, Universitas Mataram, ITB, Unpad dan sejumlah pelaku industri melakukan pengembangan Rapid Detection Test (RDT) Kit yang terdiri dari dua perangkat, yakni RDT Kit untuk deteksi antibodi IgG/IgM, dan RDT Kit untuk deteksi antigen micro-chip.

 

RDT antibodi IgG/IgM mampu mendeteksi secara cepat keberadaan virus Covid-19 dalam waktu 5-10 menit cukup dengan meneteskan darah atau serum pada alat RDT Kit IgG/IgM. RDT Kit ini didesain menggunakan platform teknologi imunokromatografi yang berbasiskan virus lokal Indonesia, sehingga diharapkan lebih sensitif dan lebih spesifik untuk orang Indonesia dibandingkan produk impor.

 

Salah satu produk IgG/IgM yang dikembangkan merupakan hasil bersama antara BPPT, UGM, ITB, Unair, PT Hepatika /UNRAM. RDT ini mempunyai manfaat untuk deteksi antibody IgM dan IgG orang terpapar Covid19 baik digunakan untuk OTG, ODP, PDP, Post Infeksi dan gambaran Herd Immunity.

 

Alat ini mempunyai keunggulan praktis/mudah diaplikasikan, spesifik, tanpa alat, dimana saja, cepat paling lama 15 menit serta murah. Pada tanggal 19 Mei 2020, telah didapatkan Nomor Ijin Edar (NIE) dari Kementerian Kesehatan RI dengan nomor AKD 20303020697.

 

Pada minggu ke-2 Mei 2020 telah dilakukan uji validasi pada beberapa rumah sakit di Yogyakarta, Solo, Semarang dan Surabaya. Pada bulan Mei ada sebanyak 10.000 test untuk validasi lapangan di RS di Yogyakarta, Semarang, Solo dan Surabaya. Bulan Juni : 40.000 test (distribusi ke rumah sakit) dan pada Juli – Agustus :  100.000 – 500.000 test (produksi massal oleh PT Hepatika Mataram, BPPT dan industri lainnya).

Sementara itu perangkat RDT Kit micro- chip merupakan alat pendeteksi antigen yang mampu mendeteksi secara dini (early detection) keberadaan virus Covid-19 pada pasien dalam pengawasan (PDP), orang dalam pemantauan (ODP) dan orang tanpa gejala dengan menggunakan sensor Surface Plasmon Resonance (SPR).

 

Satu micro-chip dapat mendeteksi sekaligus delapan sampel dari hasil swab. “Reagen biosensor yang dikembangkan lebih sederhana dibandingkan dengan teknik PCR. Setelah diuji validasi reagen biosensor menggunakan microchip SPR, akhir Juli 2020 produk reagen sejumlah 100 kit diserahkan ke RS. Kemudian dilakukan evaluasi produk dari feedback RS akan diberikan di Agustus 2020. Tahapan produksi scale up reagen akan ditawarkan ke industri yang berminat menjadi mitra.” katanya.

 

BPPT, ITB, UNPAD, PT Pakar Biomedika Indonesia juga mengembangkan   RDT untuk deteksi IgG/IgM berbasis protein S1 dan protein N. Yang akan dilakukan validasi pada akhir Juli dan akan diproduksi 10.000 pada awal Agustus 2020.

 

Penggunaan Teknologi AI untuk Penanganan Covid-19

Mengenai penggunaan teknologi AI untuk penanganan Covid-19, akan dilakukan TFRIC19 melalui Sub-tim Artificial Intelligence. Prinsip kerjanya, berdasarkan data X-Ray dan CT-Scan dari pasien yang positif dan negatif Covid-19, akan dibangun model AI.

 

Selanjutnya dibuat software berbasis Artificial Intelligence utk Deteksi Covid-19 dari CT-scan & X-ray yang dapat digunakan untuk membantu mendeteksi dini pasien dengan validasi dari radiolog dan dokter guna menjadi landasan pengambilan keputusan dan kebijakan oleh pejabat yang berwenang.

 

Keunggulan software ini yang dibangun adalah cepat, mudah, relatif murah, membantu radiolog dan dokter dlm menegakkan diagnosis Covid-19. Saat ini versi 0.6, akan dirilis versi 1.0 pada akhir Juni dan dipasang di Cloud. Insitusi yang terlibat diantaranya adalah ITB, BPPT, RSCM-UI, RS-Koja, Untag, Unesa, Politeknik Negeri Malang, Univ. Atmajaya, Unsyiah, Neurabot Lab, Riset.ai, Zi.care, dan IAIS. Diharapkan sistem yang dikembangkan ini akan melengkapi atau bersifat komplemen terhadap pengujian berbasis PCR, maupun whole genome sequencing Covid-19 Indonesia.

  

Whole Genome Sequencing Covid-19 Origin Indonesia

Dalam TFRIC-19 ini untuk tujuan desain vaksin dan kegiatan epidemiologi Covid-19 di Indonesia dilakukan pula sequencing virus 2019-nCoV Indonesia dari beberapa daerah di Indonesia yaitu dengan melakukan identifikasi whole genome dari virus 2019-nCoV dari beberapa daerah di Indonesia, membandingkan sequence dari berbagai virus Indonesia dengan virus yang ada di berbagai negara, menganalisa mutasi yang terjadi pada sampel virus 2019-nCoV Indonesia dan membandingkan sequence virus dari penderita dengan symptom dan asymptomatic.

 

Diharapkan kegiatan ini mampu mendesain genome pada daerah lestari sehingga bisa digunakan universal khususnya di Indonesia untuk produksi seed vaccine covid-19.

 

Mobile Lab BSL2 (“drive thru”)

Lebih lanjut dikatakan Kepala BPPT Hammam Riza, salah satu inovasi terbaru adalah Mobile laboratorium Bio Safety Level-2 (BSL-2). Inovasi ini siap untuk difungsikan, dan telah diserah terimakan di Rumah Sakit (RS) Ridwan Meuraksa, Jakarta Timur (19/05).

 

"Kami telah merampungkan pembangunan Mobile Lab, atau Laboratorium Bio Safety Level 2 (BSL-2), yang dapat beroperasi secara mobile," urai Hammam.

 

Mobile Lab BSL-2 ini  dibangun diatas kontainer, yang ditargetkan untuk dapat dikirimkan ke berbagai daerah untuk memudahkan pelaksanaan uji PCR dalam rangka mendeteksi Covid-19.

 

"Mobile lab BSL-2 ini juga telah mengikuti standar WHO yang dilengkapi sejumlah peralatan untuk mendukung pemeriksaan swab Covid-19 antara lain: peralatan PCR untuk tes swab Covid-19, bio-safety cabinet, dan sistem pemprosesan limbah medis," terangnya.

 

Sebagai informasi, Mobile Lab BSL-2 merupakan laboratorium yang dirancang secara mobile untuk deteksi Covid-19. Memiliki feature diantaranya memenuhi standar WHO (BSL 2+), memiliki Biosafety Cabinet Level II A2, mencegah virus menginfeksi penguji, ruang utama bertekanan negative, mencegah virus keluar ke lingkungan, memiliki autoclave (alat pemusnah limbah), limbah virus dapat langsung dimusnahkan, pemantauan suhu, tekanan, kelembaban, limbah, cctv secara otomatis 24 jam (Building automation system), menjamin keamanan lingkungan laboratorium, memenuhi standar laboratorium pengujian, alur pengujian satu arah (unidirectional flow), mencegah kontaminan saat proses pengujian, sistem pencatatan sampel dan pelaporan hasil yang terintegrasi, mencegah kesalahan pelaporan.

 

Benefit/Keunggulan yang dimiliki diantaranya bentuk berupa standar container 20 feet sehingga mudah untuk dipindahtempatkan, mobilitas tinggi untuk kondisi pandemi, pengoperasian relatif cepat, membantu pengolahan sampel dari rumah sakit dan laboratorium wilayah terdampak wabah, dilengkapi teknologi Biosafety dan Sistem kendali terotomasi serta sistem pengawasan terintegrasi, dilengkapi reagen/ test kit BioCoV-19 karya tim TFRIC-19 sendiri dan dirancang dan dimanufaktur oleh para perekayasa Indonesia (BPPT).

 

Inovasi Emergency Ventilator

Guna membantu pasien terinfeksi virus corona yang mengalami gangguan pernapasan, BPPT, PT LEN, PT Polijaya telah mengembangkan Emergency Ventilator. Produk ini mengadopsi desain open source yang dikembangkan di Eropa dengan modifikasi sesuai material dan komponen yang ada di pasar lokal. Ventilator portabel ini menggunakan ambu bag (alat untuk memompa oksigen atau pipa berkatup). Cara kerjanya: ambu bag ini akan dipompa dengan alat yang dimekanisasi menggunakan motor listrik yang dikendalikan secara otomatis. 

 

Guna mengantisipasi kebutuhan terhadap produksi massal, BPPT juga telah menjalin kesepakatan dengan tiga industri nasional dari kalangan BUMN dan swasta. Saat ini BPPT sedang melakukan uji fungsi dan klinis oleh yang dijalankan oleh tim dokter yang berasal dari rumah sakit BUMN dan rumah sakit swasta.

 

Diperkirakan kebutuhan ventilator di Indonesia pada saat puncak pandemi akan lebih dari 70.000 unit. Padahal, sementara ini jumlah ventilator yang tersedia di rumah sakit di seluruh Indonesia diperkirakan tidak sampai 7.000 unit.

 

Ventilator ini mempunyai feature terbuat dari bahan: Acrylic/ stainless steel casing dan aluminium /acrylic gear yang dilengkapi dengan Bagging bag, Bearing, Breathing circuit + humidifier+ cable heater, Motor Wiper, DC motor driver, LCD 7”, Oxygen sensor, Pressure sensor (manometer), Control + Monitoring Board, Flow sensor (Rotameter), Humidity + thermal sensor, Buzzer + alarm lamp dan Power supply (24 V,5A). Alat ini mempunya benefit/Keunggulan produk telah memenuhi standar dan lulus uji kelayakan teknis di BPFK Kemenkes, hasil karya anak bangsa dan diproduksi didalam negeri sehingga mudah diperoleh dan kualitas terjamin dengan dukungan aftersales service dari industri pembuat

 

Aplikasi Covid Track

Di luar itu, belum lama ini BPPT juga sudah meluncurkan Covid Track, yakni aplikasi untuk memonitor keberadaan pasien positif Covid-19 dalam rangka melindungi tenaga medis. Melalui aplikasi ini, ketika seorang dokter akan melakukan anamnesa dan mulai mendata pasien, berdasarkan NIK yang dimasukkan, dokter akan tahu apakah pasien tersebut sudah pernah terdata sebelumnya. Bila data menunjukkan bahwa pasien berstatus PDP atau konfirmasi positif, aplikasi akan mengirimkan notifikasi ke dokter, untuk mengambil tindakan preventif.

 

Boleh dibilang, berbagai inovasi yang dihasilkan tersebut merupakan hasil upaya anak bangsa melalui superteam yang dipimpin BPPT dengan menggandeng berbagai stakeholder ABCG (academician, business, community, government).

 

“Persembahan BPPT untuk menanggulangi Covid-19 adalah membangun ekosistem inovasi teknologi dengan cepat, agar produk kesehatan dihasilkan secara mandiri,” ujar Hammam.

 

Menurutnya, konsorsium ini menjadi wujud nyata kolaborasi quadruple helix atau yang dikenal dengan sebutan kolaborasi ABGC. Hal inipun dilengkapi pula dengan dukungan East Ventures dalam menghimpun dana, serta dorongan semangat kuat dari gerakan Indonesia PASTI BISA. “Saya optimistis seluruh komponen bangsa dapat bergotong-royong menghadapi pandemi ini,” tutupnya yakin. (Humas BPPT)


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2020 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT