• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Deteksi Dini Tsunami, KR Baruna Jaya BPPT Pasang CBT di Pulau Siberut

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi melalui Balai Teknologi Survei Kelautan (BTSK BPPT) melakukan teleconfrence dengan Kapal Riset (KR) Baruna Jaya III yang sedang memasang Cable Base Tsunameter (CBT) di Pulau Siberut (25/07).

 

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, Kapal Riset Baruna Jaya III saat ini sedang melaksanakan tugas merecovery kabel CBT lama dan mendeploy kabel CBT baru dalam rangka inovasi teknologi pendeteksi tsunami berbasis kabel optik bawah laut. Pengembangan teknologi CBT hybrid ini merupakan kerjasama BPPT dengan Pittsburgh University, Woods Hole Oceanography Institute USA, ITB, dan Universitas Andalas.

 

Inovasi Teknologi ini juga merupakan upaya membangun sistem peringatan dini tsunami dengan pendekatan teknologi baru yaitu kombinasi antara kabel optic dan tanpa kabel (hybrid CBT) dalam sistem komunikasi dan pengiriman data.

 

Jika teknologi ini berhasil, maka inovasi ini menurut Hammam akan menjadi salah satu metode yang akan digunakan dalam membangun teknologi pendeteksi dini gempa dan tsunami bukan hanya di Indonesia tetapi global.

 

Selain itu, super program BPPT yakni pengembangan teknologi CBT hybrid untuk penguatan Ina TEWS, BPPT juga sedang dalam proses transformasi digital di seluruh unit-unit kerja.

 

Dalam menghadapi era transformasi digital seperti yang terus didengungkan Presiden RI Joko Widodo. KR Baruna Jaya III juga dilengkapi sistem kamera pengawas (CCTV) yang handal, sehingga proses monitoring dan pengambilan data survei, dapat dilakukan secara daring walau dari tengah lautan serta dapat memonitor upaya pemasangan kabel bawah laut dari aplikasi daring tersebut, ujarnya.

 

Sementara, Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT Yudi Anantasena menyampaikan, kegiatan tersebut sangat penting dalam rangka pemasangan Cable Base Tsunameter (CBT) dan ini perjalanan  kegiatan yang sangat panjang untuk memasang satu terobosan teknologi BPPT.

 

Teknologi CBT yang dipasang di pulau Siberut sepanjang 7 kilo meter, tetapi dititik 7 kilo meter akan berhubungan secara akustik wireless dengan sensor lain yang menuju jalur hijau ke dasar laut, kedepan jika teknologi ini sukses maka akan mengefisienkan anggaran.

 

Kedepan ungkap Yudi, teknologi ini akan menggunakan sensor-sensor bawah laut  dengan menghubungkan sensor tesebut ke darat. Kesuksesan Ina-TEWS khususnya CBT diperlukan kerjasama dan kontribusi serta partisipasi seluruh elemen baik pemerintah maupun mitra untuk menjaga kesinambungan alat-alat ini.

 

Dikesempatan yang sama, Kepala Balai Teknologi Survey Kelautan BPPT M. Ilyas menambahkan bahwa Balai yang dipimpinnya sebagai salah satu unit yang diberikan tanggung jawab untuk program tsunami buoy berkomitmen untuk merecovery dan mendevelop CBT yang berada di pulau Siberut.

 

Diharapkan kegiatan dalam membangun teknologi sistem peringatan dini tsunami secara nasional guna mewujudkan pelaksanaan transformasi digital sehingga menghasilkan inovasi dibidang kebencanaan melalui transformasi digital di bidang kelautan. (Humas BPPT)


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2020 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT