• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

BPPT Siap Wujudkan Cita-Cita Energi Hijau Bagi Pembangunan Nasional

 

Untuk memenuhi kebutuhan energi, pemerintah melalui Dewan Energi Nasional (DEN) sudah mengeluarkan Rencana Umum Energi Nasional dengan mengidentifikasi sumber energi primer yang dibutuhkan. Berdasarkan outlook tersebut renewable energy adalah salah satu faktor kunci keberhasilan pemenuhan energi dengan berdasarkan roadmap itu pula, renewable energy adalah kunci ketahanan energi Indonesia di masa mendatang, kata Kepala BPPT Hammam Riza diacara Deklarasi dan Munas Pertama Masyarakat Energi Biomassa Indonesia (MEBI) secara daring (15/09).

 

Prognosis yang dilakukan oleh BPPT melalui outlook bauran energi primer pada 2018, pencapaian kontribusi energi terbarukan dalam energi mix Indonesia baru mencapai 11% dan pada tahun 2025 diperkirakan hanya mencapai 13% dari target 23%.

 

Dikatakan Hammam, suatu hal yang masuk akal adalah dengan memanfaatkan biomassa untuk keperluan energi, baik dalam bentuk bahan bakar cair maupun padat.  Indonesia yang dikarunia sinar matahari sepanjang tahun, memiliki banyak jenis biomassa yang dapat dimanfaatkan.

 

Saat ini paling populer adalah biomassa berbasis sawit yakni kombinasi bahan bakar padat berbasis sawit seperti palm kernel shell, serabut, tandan kosong  dan palm oil mill effluent, memberikan potensi sekitar 4,000 MW. Selain itu sebut Hammam, alternatif kayu kaliandra, Pilang, Turi juga memberikan alternatif bahan baku biomassa sebagai bahan bakar pembangkit. 

 

Lebih lanjut Hammam menuturkan, BPPT telah menyelesaikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) dari POME atau air limbah pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 700 kW dan sejauh ini sudah dioperasikan dengan baik di Trantam, Riau.

 

PLT Biogas ini sudah dioperasikan sejak Januari 2020 dengan skema Kerjasama Operasi antara BPPT dan PTPN V, di mana listrik yang dihasikan dipakai untuk Pabrik Kernel Oil (PKO) milik PTPN V di Tandon yang berjarak 9 km dari PLTbg Terantam dengan suplai daya rata-rata 600 kW dan beroperasi 20-24 jam per hari.

 

Selain itu, potensi pengembangan teknologi biogas mendatang adalah dengan memaksimalkan dan menstabilkan produksi biogas antara lain dengan teknologi codigestion yaitu mengolahan tandan kosong kelapa sawit/EFB dan POME dalam satu sistem.

 

Sementara itu yang tidak kalah pentingnya menurutnya adalah upaya memunculkan alternative-alternatif pemanfaatan biogas. Selain untuk listrik, biogas dapat digunakan untuk cofiring pada boiler dimana cangkang inti kelapa sawit dapat dihemat dan dapat dijual.

 

BPPT melalui berbagai laboratorium uji dan kemampuan engineers dan scientist siap membatu Masyarakat Energi Biomassa Indonesia guna mewujudkann cita-cita energi hijau ini. Mari gunakan sumber daya iptek bidang energi bagi pembangunan nasional, pungkasnya.

Sebagai informasi, dalam acara ini juga Kepala BPPT Hammam Riza melakukan penandatanganan deklarasi sebagai wujud dukungan ketahanan energi dan ekonomi nasional. (Humas BPPT)

 


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2020 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT