• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

TFRIC-19 Next Generation: Potensi Pengembangan Ekosistem Riset dan Inovasi Teknologi untuk Indonesia Hari Ini dan Masa Depan   Tauhid Nur Azhar dan Hammam Riza

 

 

Beberapa catatan disini bersifat evaluasi dan foresight dari perjalanan Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanggulangan COVID-19  (TFRIC-19) generasi pertama,  yang digagas oleh BPPT sejak 15 Maret 2020. Disini  tertoreh semangat #SolidSmartSpeed “kajiterap” dalam menghasilkan karya inovasi, yang meliputi pengembangan metoda diagnostik berbasis imunologi dan biologi molekuler; analisis citra medik dengan menerapkan kecerdasan artifisial; pemetaan genom virus melalui metoda whole genome sequencing (WGS); pembuatan ventilator darurat; penyusunan standar pengujian material alat pelindung diri (APD); piranti pendukung penerapan protokol Kesehatan (mobile handwasher, hand sanitizer), asupan imunomodulator; piranti lunak pemantauan OTG, PDP PC-19 dan SimBSL-2, sampai pengembangan unit laboratorium berstandar BSL-2 bergerak.

 

Ruh dari setiap produk inovasi tersebut adalah memutus mata rantai pandemi secara rasional dan tepat sasaran. Proses testing dan detecting yang diikuti tracing diimbangi dengan upaya preventif (isolating) dan upaya untuk mencari solusi konstruktif (treating). Data genomik virus dapat digunakan sebagai referensi untuk mengembangkan alat deteksi, obat, dan vaksin. Peta kerentanan dapat menjadi acuan perumusan kebijakan terkait upaya mitigasi terhadap pandemi. Demikian sekilas gambaran ringkas dari keluaran TFRIC-19 generasi pertama.

 

Hari ini kita mendapati kenyataan bahwa pandemi COVID-19 masih terus berlangsung dan upaya pengembangan vaksin serta berbagai regimen pengobatan juga masih terus diakselerasi dengan semangat tinggi. Kita juga mendapati kenyataan bahwa pendekatan berbasis ekosistem dengan kesatuan visi-misi dalam mencari solusi menghadapi pandemi telah melahirkan sebuah genre baru kolaborasi dalam mensinergikan potensi, bahkan lintas institusi, lintas disiplin ilmu, dan juga lintas generasi. Mengacu pada materi Prof Sofia Mubarika dalam serial Webinar TFRIC-19, ini adalah momentum kebangkitan nasional kedua. Tentu momentum ini harus dijaga kelembamannya agar terus dapat bergulir dan menghasilkan solusi inovatif dalam menghadapi permasalahan bangsa menghadapi virus SARS-Cov-2.

 

Apa yang telah dan akan terjadi karena pandemic COVID-19? Dari aspek kesehatan kita masih melihat tingginya kebutuhan akan proses testing untuk membantu proses isolasi dan pencegahan transmisi. Di sisi lain terjadi peningkatan kebutuhan kapasitas layanan kesehatan. Tak dapat dipungkiri bahwa pandemi telah mengakibatkan proses layanan non-Covid juga mengalami kesulitan. Aktivitas pasien dan tenaga medis menjadi sangat terbatas. Padahal masalah kesehatan di Indonesia ini kompleks dan beragam. Untuk itu perlu dilakukan inventarisasi berbagai solusi terintegrasi yang dapat membantu mengoptimalkan kembali layanan kesehatan dasar yang amat dibutuhkan masyarakat. Untuk itu terbetiklah pemikiran bahwa ke depan TFRIC-19 Next Generation dapat berkontribusi dengan mendorong lahirnya inovasi teknologi antara lain:

 

  1. Unit layanan kesehatan remote area berbasis teknologi Telemedicine dengan konsep interoperabilitas dengan perangkat diagnostik seperti digital radiography DR/DDR/RSFD, USG, EKG, piranti laboratorium klinik dll. Peralatan ini menyediakan data yang dapat dianalisis oleh sistem pemandu diagnostik berbasis kecerdasan artifisial. Unit ini dapat bersifat lokal (statis), maupun mobile (dinamis). Unit ini juga dapat dilengkapi dengan pembaca surface plasmon resonance (SPR) atau juga metoda deteksi portable seperti GeNose UGM untuk skrining adanya penularan SARS-CoV-2. Pengembangan unit fasyankes dinamik untuk daerah terluar, terdepan, terpencil ini dapat mengacu pada pengalaman pengembangan unit mobile lab BSL-2 di Sub TF-5.

 

  1. Pengembangan sistem integrator data medis (kesehatan) nasional yang dapat dimulai dari pengembangan sistem analisis data kerentanan berbasis Knowledge Growing System (KGS) yang merupakan produk Sub TF-3. Piranti lunak analisis yang mendukung proses pengambilan keputusan (Decision Support System) dapat menjadi pintu masuk untuk mengintegrasikan data yang tersedia saat ini (existing), yang saat ini tersebar dan sebagian belum terstruktur. Penggunaan AI dalam perumusan kebijakan pengembangan fasyankes, logistik, sumber daya manusia, sampai strategi epidemiologi pada saat diterapkan (misal di Kemenkes, Kemenko PMK, dan KSP) akan "memaksa" restrukturisasi data mulai dari fasilitas kesehatan tingkat primer (FKTP) hingga satuan terkecil (puskesmas).

Secara paralel dapat dikembangkan model Electronic Medical Record (EMR) berbasis Block Chain sebagai model pengelolaan data medis secara terintegrasi. Penerapan yang dapat meningkatkan efektifitas administrasi, manajemen, dan mekanisme layanan kesehatan sampai aktuaria (sistem penjaminan kesehatan) dapat menjadi model dalam upaya pengintegrasian data medis nasional.

 

  1. Mengembangkan aplikasi berbasis AI dalam ranah Bioinformatika untuk merancang bahan baku obat, vaksin, pemanfaatan bahan alam, sampai precision medicine (miRNA-eksosom, dll). Pengembangan aplikasi nasional ini bermodal kapasitas dan inovasi terkini yang ada di Sub TF-1, 2, 3, dan 4 serta di Pusat Teknologi Bioindustri (PTB) dan Pusat Teknologi Farmasi dan Medika (PTFM), dan juga Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) BPPT.

 

  1. Pengembangan imunomodulator berbasis microbiome yang dibutuhkan sebagai salah satu aspek proteksi di masa pandemi, juga untuk mencegah terjadinya berbagai penyakit metabolik degeneratif. Hasilnya dapat diintegrasikan dengan produk inovasi generasi pertama seperti BiskuNeo dan Purula. Sementara potensi ini dapat ditingkatkan hasilnya dengan sinergi Nusantics, PTFM, dan PTB BPPT.
  2. Pengembangan desain dan produksi aptamer untuk panel kit pemeriksaan antigen dan protein terkait beberapa penyakit endemik di Indonesia. Keberhasilan tim Sub TF-1 dalam pengembangan microchip SPR bersama mitra (PT. TMC) berbasis antibodi IgY dan aptamer, membuka peluang pembuatan panel deteksi dini berbagai penyakit di Indonesia, baik yang dibaca melalui sistem lateral flow immunoassay maupun SPR. Potensi yang ada tentu saja tim Sub TF-1, 2, dan 4 serta PTFM BPPT.

 

Demikian sedikit ulasan dan usulan terkait dengan apa yang telah kita kerjakan bersama dalam TFRIC-19 versi pertama, dan gambaran apa saja yang sekiranya mungkin untuk dikembangkan di masa depan.

The Future is Now….


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2020 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT