• 021 316 9457
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Upaya Efektif Hadapi Pandemi, Melalui Teknologi Karya Anak Negeri

Beberapa skenario upaya pengendalian tingkat penularan Covid-19 terlihat dapat menurunkan kasus terkonfirmasi harian. Namun demikian berhasilnya upaya pengendalian yang dilakukan sangat tergantung pada kebijakan pemerintah dan peran serta masyarakat dalam menerapkan langkah pengendalian yang dilakukan untuk menurunkan mobilitas masyarakat dan probabilitas penularan.

 

Saat ini, hampir dapat dipastikan sebagian besar pasien yang dirawat di rumah sakit adalah pasien Covid-19. Karena itu pasien Covid-19 dengan gejala klinis ringan atau mereka yang termasuk orang tanpa gejala disarankan untuk melakukan isolasi mandiri (Isoman). Hal ini menjadi sangat penting agar rumah sakit dan fasilitas kesehatan terkait tidak overloaded dan dapat tetap berfungsi dengan baik.

 

Berdasarkan kajian yang dilakukan Kedeputian Pengkajian Kebijakan Teknologi BPPT, pada kasus penularan yang tanpa kendali akan terjadi satu puncak yang tinggi kemudian melandai dengan sendirinya. Namun hal ini akan berakibat banyak kematian sehingga dilakukan upaya-upaya untuk melandaikan puncak kurva (flattening the curve) sehingga puncak kasus dapat melandai.

 

Sebagai Lembaga pengkajian dan penerapan teknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah dan terus mengambil peran dalam berbagai kegiatan inovasi teknologi untuk memberikan solusi mengatasi permasalahan bangsa, termasuk dalam upaya menangani pandemi Covid-19.

 

Melalui delapan bidang fokus utama teknologi kesehatan dan pangan, BPPT merespon kondisi pandemi Covid-19 dengan membentuk sebuah tim task force yang dinamai TFRIC-19 (Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk penanganan Covid-19) yang bertugas menginisiasi pengembangan solusi multi dimensi dengan dukungan peneliti dan perekayasa lintas disiplin, bahkan lintas institusi, kata Kepala BPPT Hammam Riza di acara Talk Show TFRIC-19 Next Generation dengan tema Isoman Cerdas, Upaya Efektif Hadapi Gelombang Covid-19 (15/07). Hal tersebut sebagai bagian dari upaya BPPT untuk memberikan edukasi dan informasi yang tepat bagi masyarakat umum.

 

Selama tahun 2020, TFRIC-19 telah berhasil melahirkan produk inovasi teknologi karya anak bangsa. Berangkat pada pengalaman. Maka di 2021 ini, lanjut Hammam TFRIC-19 hadir dalam versi Next Generation dengan lima aksi yang akan terus dikawal untuk membangun kepercayaan dan kebanggaan terhadap inovasi dan produk-produk dalam negeri karya anak bangsa.

 

Sebutnya, lima aksi tersebut yakni Penguatan kajian keekonomian dan teknologi, Penguatan kerjasama, Komersialisasi dan media, Inovasi teknologi alat Kesehatan, Inovasi teknologi suplemen kesehatan, Penguatan data sains dan aplikasi kecerdasan artifisial.

 

Inovasi TFRIC-19 Next Generation

Pada kesempatan tersebut, Hammam juga akan memperkenalkan inovasi-inovasi terbaru dari TFRIC-19 Next Generation antara lain BPRO, Rapid Diagnostic test Antigen Covid-19 yang dikembangkan bersama antara tim BPPT dengan ProLINE Diagnostics.

 

Kemudian inovasi produk lainnya sebut Hammam adalah suplemen kesehatan berbasis black garlic, yang diberi nama STAMILIC yang bermanfaat untuk peningkatan daya tahan tubuh dan pengendalian komorbid dalam menghadapi Covid-19. STAMILIC ini mengandung ekstrak cair black garlic dan ekstrak jahe, kombinasi yang semakin memperkaya kandungan antioksidan.

 

Suplemen kesehatan lainnya WHOLEBETA, yang mengandung betaglukan hasil fermentasi ragi hitam, yang berperan membantu meningkatkan imunitas dalam masa pandemic Covid-19. Betaglukan adalah polisakarida yang mempunyai berbagai fungsi kesehatan, antara lain melawan infeksi yang disebabkan oleh virus (anti virus), membantu mengatasi kolesterol dan mencegah hiperlipidemia, menjaga kekseimbangan gula darah, dan bersifat antumor/kanker, serta mempunyai sifat anti inflamasi.

 

Kemampuan betaglukan ragi hitam dalam membantu meningkatkan sistim immun adalah dengan cara mengaktifkan sel-sel imun dalam tubuh (Sel B, dan Sel T) serta meningkatkan ekspresi sensor virus yang efektif dengan menghambat replikasi virus.

 

Selain itu, TFRIC-19 Next Generation berhasil melakukan inovasi teknologi dengan pengayaan gizi vitamin dan mineral dalam pangan pokok beras dengan gizi vitamin dan mineral yang terpenuhi dengan harapan daya tahan tubuh akan semakin membaik.

 

Beras terfortifikasi adalah beras yang di dalamnya ditambahkan mikronutrien, guna meningkatkan kualitas makanan dan mengurangi masalah kesehatan penduduk. Kernel Beras Terfortifikasi (FRK) adalah kernel beras yang diperkaya dengan premiks vitamin (Vit A, B1, B3, B6, B9, B12), yang diproduksi melalui teknologi ekstrusi dengan menggunakan bahan baku lokal.

 

Saat ini sudah produk inovasi tersebut sudah dikerjasamakan dengan mitra Perum BULOG, nantinya FRK akan didistribusikan dan dipasarkan dalam bentuk sachet suplemen dan juga beras Fortivit, yang merupakan campuran antara FRK dengan beras premium dengan rasio pencamuran 1 : 100.

 

Dalam upaya mengatasi pandemi ini BPPT bersama-sama mitra dengan membentuk ekosistem inovasi ini diharapkan menjadi langkah solutif dan nyata serta menghasilkan karya-karya anak bangsa yang bermanfaat, pungkasnya.

 

Sebagai informasi pada webinar tersebut juga diadakan diskusi dengan pembicara dan narasumber yang kompeten, antara lain Agung Eru Wibowo Direktur PTFM BPPT, Lula Kamal, Telly Kamelia dari RSCM/FKUI, Aryati Ketua Umum PDS Patklin, Setiaji Chief DTO Kemenkes dan Kadiskominfo Jabar, Rita Ramayulis Nutrisionis, serta moderator Vivid F. Argarini. Diskusi membahas tentang isolasi mandiri yang benar dan efektif, penggunaan obat dan suplemen secara bijak serta dukungan psikologis bagi pasien dan anggota keluarga. (Humas BPPT)

 

 


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 14
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9457
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2021 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT