• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

SP.008/I/2020 - Modifikasi Cuaca, Terus Dilaksanakan untuk Cegah Banjir

SP.No. 08/HMP/HMS/HKH/I/2020

 

Minggu, 19 Januari 2020

 

Modifikasi Cuaca, Terus Dilaksanakan untuk Cegah Banjir

 


Teknologi Modifikasi Cuaca, terus digalang pemerintah untuk mencegah banjir di wilayah Jabodetabek.

 

Disampaikan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hammam Riza sebelumnya, teknologi ini dilakukan bersinergi dengan BNPB, TNI AU,  dan BMKG.

 

Lebih lanjut disampaikan Kepala Balai Besar TMC-BPPT, Tri Handoko Seto, Operasi Modifikasi Cuaca masih terus dilaksanakan. Menyusul prakiraan cuaca yang dirilis oleh BMKG.

 

“Selain prakiraan yang dirilis BMKG, tim TMC-BPPT juga memprediksi bahkan cuaca ekstrem masih akan terjadi hingga 25 Januari," ujar Seto dalam keterangan persnya, Ahad (19/1).

 

Meski harus tetap waspada akan kemungkinan hujan ekstrem tersebut, dia berharap masyarakat tidak panik. Itu karena timnya akan berupaya semaksimal mungkin melaksanakan operasi TMC mengurangi ancaman banjir di Jabodetabek.

 

Seto menjelaskan, secara teknis tim TMC lebih intensif memonitor pertumbuhan dan pergerakan awan-awan yang diperkirakan akan bergerak menuju wilayah Jabodetabek. Pemantauan tersebut dilakukan sejak dinihari hingga setelah matahari terbenam.

 

"Awan-awan tersebut jauh-jauh akan segera disemai, biasanya awan-awan tersebut masih berada di Laut Jawa, Selat Sunda dan wilayah Ujung Kulon agar segera turun hujan sebelum memasuki wilayah Jabodetabek,” katanya.

 

Pada operasi pencegahan banjir, ia menjelaskan, tim TMC dalam sehari harus melaksanakan penerbangan penyemaian awan empat hingga lima kali. Itu berbeda dengan operasi TMC kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lalu yang mengoperasikan rata-rata dua kali penerbangan penyemaian awan perhari.

 

“Tentunya pada situasi yang memungkinkan dengan tetap berpegang pada keamanan yang utama,” ujar Seto.

 

Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dilakukan oleh BPPT bekerja sama dengan BNPB, TNI-AU dan BMKG sudah dimulai sejak tanggal 3 Januari 2020 dan hingga saat ini masih berlangsung dengan posko di Lanud Halim Perdanakusuma.  TMC ini bertujuan untuk mengurangi ancaman banjir di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya.

 

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksikan hujan lebat masih berpotensi terjadi di wilayah Jabodetabek pada 17-23 Januari 2020 namun tidak seekstrem hujan yang terjadi pada tahun baru 1 Januari lalu. Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti angin kencang, genangan, banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang, dan jalan licin.

 

Menyikapi prediksi dari BMKG tersebut, bahwa di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya pada 17 sampai 23 Januari 2020 akan terjadi cuaca ekstreem, maka Tim TMC BPPT kembali meningkatkan eskalasi Operasi TMC. Tim TMC BPPT akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengurangi ancaman banjir di Jabodetabek.  Selain prakiraan yang direlease oleh BMKG, Tim TMC, BPPT juga memprediksi bahkan cuaca ekstreem masih akan terjadi hingga tanggal 25 Januari 2020. Namun demikian, kami berharap agar masyarakat tidak panik, namun harus tetap waspada akan kemungkinan hujan ekstreem tersebut.

 

Tim TMC akan secara lebih intensif memonitor pertumbuhan dan pergerakan awan-awan yang diperkirakan akan bergerak menuju wilayah Jabodetabek. Monitoring ini dilakukan sejak dinihari hingga setelah matahari terbenam. Awan-awan tersebut jauh-jauh akan segera disemai, biasanya awan-awan tersebut masih berada di Laut Jawa, Selat Sunda dan wilayah Ujung Kulon agar segera turun hujan sebelum memasuki wilayah Jabodetabek. Tim TMC akan terbang 4 hingga 5 sorti sehari pada situasi yang memungkinkan dengan tetap berpegang safety first.

 

Sejak 3 Januari 2020, operasi TMC dilakukan untuk penanggulangan banjir di wilayah Jabodetabek dengan cara mempercepat penurunan hujan sebelum mencapai wilayah Jabodetabek. Teknologi Modifikasi Cuaca pada misi ini ditujukan untuk meredistribusi dan mengurangi potensi curah hujan di wilayah Jabodetabek. Penerbangan penyemaian dilakukan pada awan-awan potensial hujan di wilayah Kepulauan Seribu, sepanjang Selat Sunda, Ujung Kulon dan sekitarnya.

 

Hingga Sabtu 18 Januari 2020, pelaksanaan TMC telah dilakukan sebanyak 44 sorti dengan total jam terbang lebih dari 95 jam dan total bahan semai yang digunakanlebih dari 73 ton, dengan ketinggian penyemaian sekitar 9.000- 12.000 feet. Operasi TMC ini didukung dua unit pesawat TNI-AU, yakni pesawat CN 295 registrasi A-2901 Skadron 2 dan pesawat Casa 212 registrasi A-2105 Skadron 4 Malang. Dari data Posko TMC ditunjukkan bahwa operasi ini telah mampu mengurangi curah hujan wilayah hingga mencapai sekitar 44 persen dari prakiraan. Hasil operasi ini juga  menunjukkan bahwa curah hujan di wilayah Jabodetabek relatif lebih kecil daripada curaah hujan disekitarnya. Operasi TMC pernah juga dilakukan untuk mengurangi dampak ancaman banjir Jakarta pada 2013. Selain untuk penanggulangan banjir, TMC juga dapat digunakan untuk keperluan lain antara lain pencegahan bencana kekeringan, mengantisipasi gagal panen, penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, hingga mengisi debit air di waduk untuk keperluan pembangkit listrik tenaga air.

 

Tag:

TPSA, BBTMC. Operasi TMC, Banjir Jabodetabek


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2020 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT