• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

SP.030/IV/2020 - BPPT Wujudkan Ekosistem Inovasi Teknologi, Hadirkan Alkes Buatan Lokal, untuk Penanganan Pandemi Covid-19

SIARAN PERS BPPT

SP.No.  30/HMP/HMS/HKH/V/2020

Jakarta, Rabu 20 Mei 2020

BPPT Wujudkan Ekosistem Inovasi Teknologi, Hadirkan Alkes Buatan Lokal, untuk Penanganan Pandemi Covid-19

 

 

BPPT, Jakarta - Pemerintah terus menyiapkan sejumlah langkah dalam peningkatan upaya penanganan pandemi virus corona (COVID-19) yang terus mewabah di tanah air. Satu diantaranya melalui peran inovasi dan teknologi yang kini tengah difokuskan dalam sinergi kelembagaan bernama Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan Covid-19 (TFRIC-19) yang dipimpin oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

 

Dikatakan Kepala BPPT Hammam Riza, TFRIC-19 merupakan model ekosistem inovasi yang terbangun karena adanya dorongan “kebutuhan” bersama, dan karena ada rasa kebersamaan yang sangat kuat untuk berbuat sesuatu.  Untuk itu ditegaskan olehnya, ekosistem inovasi yang sudah terbangun ini harus diteruskan dan diberi penguatan. Berbagai produk inovasi karya anak bangsa pun telah dihasilkan dari sinergi ini yang memang difokuskan untuk penanganan pandemi ini.

 

“COVID-19 telah membangunkan kita semua, telah menyadarkan kita semua, bahwa kesiapan dan ketahanan nasional kita, khusunya dalam menangani penyakit menular, perlu mendapatkan perhatian serius. Ketergantungan pada bahan, alat dan produk impor lainnya sangat tinggi. Kita seolah tidak berdaya. Kita sangat merasakan bangunan industri nasional kita belum kuat. Industri hulu dan industri antara yang menopang industri manufaktur kita, belum tumbuh, belum berkembang. Semoga kondisi ini menjadi pembelajaran nasional yang baik dan harus kita sikapi dengan positif,” terang Hammam saat menyampaikan pemaparan virtual kepada awak media, di Kantor BPPT, Jakarta, Rabu (20/05).

 

Perlu diketahui, untuk menunjukkan keseriusan dalam menghasilkan produk inovasi yang bisa menopang upaya pemerintah dalam mengatasi wabah ini, saat ini TFRIC-19 pun telah melakukan akselerasi dalam mengembangkan produk inovasi alat kesehatan untuk mendukung penanganan wabah Covid-19.

 

Lima produk inovasi tersebut, pagi ini telah diluncurkan oleh Presiden RI Joko Widodo, secara virtual dari Istana Presiden. Beberapa produk inovasi COVID-19, diantaranya RDT Kit, PCR Test Kit, Artificial Intelligences untuk deteksi COVID-19, Mobile Lab Bio Safety Lab level.2, dan Emergency Ventilator yang merupakan Pengembangan BPPT bersama Task Force Riset dan Inovasi Teknologi Untuk Penanganan COVID-19.

 

Dalam sambutannya, Presiden memamerkan deretan alat kesehatan yang dikembangkan dan diproduksi dalam negeri.

 

“Kita mampu hasilkan karya-karya yang sangat dibutuhkan. Saya lihat sendiri, ada rapid test yang waktu saya tanya produksi berapa, sudah kira-kira 100 ribu (unit). PCR test kit sama, apakah sudah produksi, sudah, apakah sudah uji, sudah 100 ribu (unit). Kemudian ada emergency ventilator yang ini kemarin saya lihat ada karya BPPT, ITB, UI, UGM, PT Dharma, PT Poly Jaya, yang mulai dan ini tinggal produksinya," urai Presiden Jokowi pada sambutannya yang disiarkan kanal YouTube Setpres.

 

Terkait pernyataan Presiden Jokowi itupun Hammam berharap agar inovasi teknologi untuk substitusi impor, untuk ketahanan nasional, sudah saatnya menjadi prioritas, termasuk upaya mendorong tumbuhnya industri hulu dan industri antara. Ekosistem inovasi yang dibangun dalam TFRIC-19 kata Hammam, merupakan sinergi dan kerja bersama antara 11 lembaga litbang, 18 perguruan tinggi, 11 asosiasi/komunitas, 3 rumah sakit, 2 industri dan 6 start up.

 

“Sudah semestinya kita patut bersyukur, aksi-aksi TFRIC-19 telah dapat dilaksanakan dengan sangat baik, dan beberapa produk inovasi TFRIC-19 telah berhasil kita luncurkan kepada masyarakat, dan mendapatkan apresiasi serta dukungan penguatan hilirisasi dari Bapak Presiden Joko Widodo dalam acara peluncuran virtual, siang tadi,” ungkapnya.
 
Pengembangan PCR Test Kit dan Non PCR Test Kit

 

Perlu diketahui, dari hasil produksi terkini telah berhasil diproduksi sebanyak 50.000 PCR test kit. Rencananya, alat test PCR ini telah akan diproduksi sebanyak 100.000 unit pada akhir Mei 2020.

 

Alat test PCR yang dikembangkan bersama oleh BPPT, Nusantics dan PT Biofarma ini di design dengan target gen deteksi Sarscov-2 sesuai dengan sekuens virus Indonesia. PCR test kit ini mempunyai sensitivitas tinggi (100%) terhadap Sarscov-2 dengan menggunakan Open system (bisa digunakan di berbagai alat RTPCR, memiliki kemudahan distribusi dengan harga terjangkau).

 

Telah pula dilakukan distribusi untuk uji komparasi di 10 institusi (Mikrobiologi UI, RS Tanggerang, RSND Semarang, RSPI, Litbangkes, Eijkman, Labkesda DKI, Labkes Prov Jabar, Kimia Farma, Bio Farma). Proses produksi secara massal ini memanfaatkan fasilitas produksi PT Bio Farma, termasuk untuk proses pengujian, packaging, dan distribusi.

 

Pengembangan inipun sempat terkendala oleh ketersediaan alat reagen yang saat ini masih harus impor. Meski begitu pada akhir Mei 2020 akan rampung didistribusikan ke rumah sakit serta laboratorium yang menguji spesimen COVID-19.

 

Di samping alat tes PCR, BPPT bersama dengan Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 yaitu UGM, Unair, Hepatika Mataram, Universitas Mataram, ITB, Unpad dan sejumlah pelaku industri melakukan pengembangan Rapid Detection Test (RDT) Kit yang terdiri dari dua perangkat, yakni RDT Kit untuk deteksi antibodi IgG/IgM, dan RDT Kit untuk deteksi antigen micro-chip.

 

RDT antibodi IgG/IgM mampu mendeteksi secara cepat keberadaan virus COVID-19 dalam waktu 5-10 menit cukup dengan meneteskan darah atau serum pada alat RDT Kit IgG/IgM. RDT Kit ini didesain menggunakan platform teknologi imunokromatografi yang berbasiskan virus lokal Indonesia, sehingga diharapkan lebih sensitif dan lebih spesifik untuk orang Indonesia dibandingkan produk impor.

 

Salah satu produk IgG/IgM yang dikembangkan merupakan hasil bersama antara BPPT, UGM, ITB, Unair, PT Hepatika /UNRAM. RDT ini mempunyai manfaat untuk deteksi antibodi IgM dan IgG orang terpapar COVID-19 baik digunakan untuk OTG, ODP, PDP, Post Infeksi dan gambaran Herd Immunity. Alat ini mempunyai keunggulan praktis/mudah diaplikasikan, spesifik, tanpa alat, dimana saja, cepat paling lama 15 menit serta murah. Pada tanggal 19 Mei 2020, telah didapatkan Nomor Ijin Edar (NIE) dari Kementerian Kesehatan RI dengan nomor AKD 20303020697. Pada minggu ke-2 Mei 2020 telah dilakukan uji validasi pada beberapa rumah sakit di Yogya, Solo, Semarang dan Surabaya. Pada bulan Mei ada sebanyak 10.000 test untuk validasi lapangan di RS di Yogya, Semarang, Solo dan Surabaya. Bulan Juni : 40.000 test (distribusi ke rumah sakit) dan pada Juli – Agustus :  100.000 – 500.000 tes (produksi massal oleh PT Hepatika Mataram, BPPT dan industri lainnya).

 

Sementara itu perangkat RDT Kit micro- chip merupakan alat pendeteksi antigen yang mampu mendeteksi secara dini (early detection) keberadaan virus Covid-19 pada pasien dalam pengawasan (PDP), orang dalam pemantauan (ODP) dan orang tanpa gejala dengan menggunakan sensor Surface Plasmon Resonance (SPR). Satu micro-chip dapat mendeteksi sekaligus delapan sampel dari hasil swab. “Reagen biosensor yang dikembangkan lebih sederhana dibandingkan dengan teknik PCR. Setelah diuji validasi reagen biosensor menggunakan microchip SPR, akhir Juli 2020 produk reagen sejumlah 100 kit diserahkan ke RS. Kemudian dilakukan evaluasi produk dari feedback RS akan diberikan di Agustus 2020. Tahapan produksi scale up reagen akan ditawarkan ke industri yang berminat menjadi mitra.” katanya.

 

BPPT, ITB, UNPAD, PT Pakar Biomedika Indonesia juga mengembangkan RDT untuk deteksi IgG/IgM berbasis protein S1 dan protein N. Yang akan dilakukan validasi pada akhir Juli dan akan diproduksi 10.000 pada awal Agustus 2020. (HUMAS BPPT)

 

 


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2020 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT