• 021 316 9457
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

SP.006/I/2021 - Pusat Inovasi Kecerdasan Artifisial, Wadah Akselerasi Pemanfaatan KA di Indonesia

SIARAN PERS BPPT

 SP.No. 006/HMP/HMS/HKH/I/2021

Jakarta, 21 Januari 2020

Pusat Inovasi Kecerdasan Artifisial, Wadah Akselerasi Pemanfaatan KA di Indonesia

 

Peran kecerdasan artifisial (KA) atau artificial intelligence dalam kehidupan sehari-hari sudah tidak terelakan lagi. Hampir seluruh negara maju sudah memiliki strategi penerapan KA yang sesuai dengan kebutuhan serta karakteristik negaranya, bahkan Uni Emirat Arab sampai memiliki jabatan Menteri Artificial Intelligence pertama di dunia. Ini membuktikan berapa vitalnya peran KA pada saat ini.

 

Indonesia juga dengan cepat merespon tren perkembangan KA, dengan meluncurkan Strategi Nasional Kecerdasa Artifial (Stranas KA) Tahun 2020 -2045 yang diresmikan oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Menteri Riset Teknologi/Ka.BRIN Bambang P.S. Brodjonegoro serta Kepala BPPT Hammam Riza dalam acara Hari Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-25, pada Agustus 2020 lalu.

 

Stranas KA  yang diluncurkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini merupakan arah kebijakan nasional dalam pengembangan teknologi KA di beberapa sektor priotas pembangunan nasional, diantaranya sektor kesehatan, reformasi birokrasi, pendidikan & riset, ketahanan pangan, serta mobilitas / kota cerdas (smart city).

 

Menurut Kepala BPPT Hammam Riza, Indonesia memiliki beberapa tantangan untuk mengembangkan kecerdasan buatan. Di antaranya, kesiapan regulasi yang mengatur etika penggunaan, kesiapan tenaga kerja, kesiapan infrastruktur dan data pendukung  pemodelan, serta kesiapan industri dan sektor publik dalam mengadopsi inovasi KA.

 

Untuk mendorong penerapan KA yang selaras dengan kepentingan nasional, maka BPPT mempersiapkan infrastruktur serta ekosistem untuk mengorkestrasi riset dan inovasi yang berkelanjutan dalam sebuah wadah, yaitu Pusat Inovasi Kecerdasan Artifisial (PIKA).

 

PIKA merupakan wadah bagi semua unsur quad helix yaitu Pemerintah, Industri, Akademisi, dan Komunitas dalam berkolaborasi pada riset dan inovasi KA dengan memaksimalkan seluruh sumber daya riset dan inovasi nasional.

 

PIKA sendiri dikatakan Hammam bersifat terbuka, partisipatif, berbasis nilai (value-based synergy), demand-driven, mandiri, serta memiliki tata kelola yang adaptif dan lincah.

 

Dalam mendukung pengembangan kegiatan KA di Indonesia, PIKA telah dilengkapi dengan NVIDIA DGXA A100, dan merupakan Instansi Pemerintah pertama yang memiliki supercomputer ini.

 

Sebagai langkah awal pemanfaatan supercomputer adalah penggunaan kecerdasan artifisial di bidang kebencanaan. BPPT telah membangun sistem berbasiskan KA untuk memprediksi potensi terjadinya tsunami pada saat ada gempa. Selain itu juga dibangun sistem untuk memprediksi potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan agar bisa dilakukan langkah-langkah mitigasi.

 

Hammam pun menjelaskan kedua sistem yang dibangun tersebut sangat penting dalam mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan akurat untuk meminimalisir dampak bencana, maupun untuk menghindari terjadinya bencana.

 

Kecerdasan Artifisial Untuk Deteksi Tsunami

 

BPPT melalui Flagship Inovasi Teknologi Ina-TEWS (Tsunami Early Warning System) telah mempersiapkan Sistem Penanganan Kebencanaan dengan menggunakan teknologi mitigasi bencana berbasis Kecerdasan artifisial (KA), dalam hal ini adalah KA-Tsunami. Sistem ini berperan penting dalam membantu dan mempercepat pengambilan keputusan di DSS (Decision Support System) serta meningkatkan akurasi dan kecepatan Peringatan Dini Tsunami yang dikeluarkan oleh BMKG.

 

Kecerdasan Artifisial (KA)-Tsunami yang dikembangkan BPPT terbagi menjadi dua sub sistem: pertama adalah kecerdasan artifisial untuk memprediksi akan terjadinya tsunami jika terjadi gempa. Pembelajaran sistem kecerdasan artifisial ini memerlukan data sejarah gempa dan tsunami yang cukup panjang. Input yang digunakan adalah data gempa dari Program InaTEWS BMKG, data USGS, serta data katalog kejadian tsunami. Ketiga sumber data ini digabung untuk membangun model KA. Model yang dihasilkan tersebut untuk memprediksi tsunami jika memperoleh informasi gempa yang berisi gempa skala tertentu dan lokasi tertentu.

 

KA pada sub sistem kedua adalah untuk memprediksi waktu tempuh dan tinggi gelombang tsunami di sepanjang pantai. Sistem kecerdasan artifisial ini dibangun menggunakan data simulasi model tsunami di seluruh wilayah Indonesia. Sistem KA-Tsunami di atas dibangun berbasis machine learning dengan menggunakan berbagai parameter penyebab terjadinya tsunami. Sistem KA yang telah-sedang dilatih ini nantinya terintegrasi dengan Pusat Data BMKG, bersifat otomatis, tanpa campur tangan manusia serta berjalan mandiri melakukan proses komputasi prediksi jika ada kejadian gempa bumi.

 

Sistem ini juga bersifat open-source yang berarti sistem dapat dikembangkan dan dimodifikasi serta fleksibel untuk perubahan parameter sesuai keperluan pengguna. Di bagian akhir sistem ini juga dilengkapi dengan sistem monitoring secara terintegrasi sehingga dapat diperiksa hasilnya pada masing-masing tahapan prosesnya. Kemudian informasi yang dihasilkan selanjutnya dirangkum pada Dashboard Kecerdasan Artifisial berbasis Web.

KA-Tsunami diharapkan menjadi bagian penting dalam proses kemandirian teknologi kebencanaan untuk Penguatan dan Pembangunan Sistem Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami dalam Program InaTEWS sampai dengan tahun 2024.

 

Kecerdasan Artifisial Untuk Penanggulangan Karhutla

 

Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia setiap tahun terus berulang, meskipun berbagai macam tindakan telah dilaksanakan, termasuk pelaksanaan layanan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dilaksanakan oleh BPPT.

 

Kondisi saat ini TMC dilaksanakan pada saat kondisi cuaca sangat kering dan sudah terjadi kebakaran di lahan gambut. Idealnya, TMC dilaksanakan sebagai langkah antisipatif untuk menghindari karhutla dengan cara pembasahan lahan gambut untuk mencegah lahan gambut semakin kering.

 

Selain itu TMC juga harus dilaksanakan ketika masih ada potensi pertumbuhan awan-awan penghujan, sehingga hasilnya dapat lebih optimal.

 

Data observasi tinggi muka air (TMA) lahan gambut dapat memberikan informasi langsung mengenai kondisi lahan gambut di tempat tersebut. Dengan metodologi yang tepat, prakiraan TMA akan sangat membantu pengambilan keputusan, kapan dan dimana TMC harus dilaksanakan.

 

Pengembangan model prediksi berbasis kecerdasan artifisial untuk mendukung pelaksanaan TMC dalam rangka penanggulangan karhutla dilakukan dengan menggunakan data observasi langsung di lahan gambut dan data cuaca serta prediksi iklim di tempat tersebut.

 

Dari hasil model, diperoleh nilai prakiraan TMA dalam rentang waktu 3 – 4 bulan kedepan. Nilai prakiraan ini akan dijadikan sebagai acuan rekomendasi untuk pelaksanaan operasi TMC sebagai upaya pencegahan bencana Karhutla.

 

Pusat Inovasi Kecerdasan Artifisial yang diinisiasi BPPT ini diharapkan bisa menjadi wadah dalam mengakselerasi pemanfaatan KA di Indonesia, serta memberikan manfaatnya  bagi masyarakat luas dan mendukung pertumbuhan ekonomi untuk kesejahteraan bangsa.

 


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 14
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9457
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2021 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT