• 021 316 9457
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

SP.008/I/2021 - BPPT Siap Terapkan Teknologi Untuk Mendukung Pertanian Modern Di Indonesia

SIARAN PERS BPPT

 SP.No. 008/HMP/HMS/HKH/I/2021

Jakarta, 27Januari 2020

BPPT Siap Terapkan Teknologi Untuk Mendukung Pertanian Modern Di Indonesia

 

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) siap mendukung program food estate yang sedang digarap oleh pemerintah untuk mendorong modernisasi pada sektor pertanian.

 

Pemerintah saat ini sedang membangun food estate di sejumlah kawasan, seperti Kabupaten Pulang Pisau dan Kapuas, Kalimantan Tengah, serta Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Selain dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan nasional, pengembangan food estate juga diarahkan sebagai model bisnis pertanian yang terintegrasi.

 

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan pihaknya siap bersinergi bersama pihak Kementerian Pertanian (Kementan) maupun lembaga-lembaga lainnya dalam pengembangan riset pertanian maupun rekayasa alat dan mesin pertanian (alsintan) khususnya. Apalagi pengembangan alsintan merupakan langkah penting untuk mewujudkan pertanian modern.

 

Sinergi ini sesuai dengan arahan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam kunjungan kerja bersama Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan Kepala BPPT Hammam Riza ke Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) Kementerian Pertanian,  Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (27/01).

 

Menteri Luhut dalam kunjungannya mendorong Kementan untuk meningkatkan sinergi dengan BPPT dalam upaya pengembangan pertanian yang modern. Luhut menyebut BPPT dan Kementan mampu melakukan modernisasi pada tiga fokus utama pertanian seperti bibit, pupuk, dan alsintan.

 

Menanggapi arahan Menteri Luhut, Kepala BPPT Hammam Riza akan memperkuat kerjasama dengan BBP Mektan guna hilirisasi alsintan dengan membangun ekosistem inovasi, reverse engineering berbagai mesin yang dibutuhkan, serta alih teknologi kepada industri nasional.

 

BPPT diungkap Hammam telah memiliki pengalaman dalam menghasilkan bibit unggul tanaman khas unggulan di Indonesia, seperti perbanyakan bibit menggunakan teknologi ex vitro yang telah diterapkan pada tanaman kentang, lada putih, sawit, jahe merah, talas safira, sagu dan varietas pohon jati di berbagai daerah Indonesia.

 

Untuk produksi pupuk, BPPT memiliki beberapa inovasi teknologi diantaranya biopeat sebagai solusi dari pembakaran lahan gambut, pupuk hayati organik, dan juga pupuk lepas lambat (slow release fertilizer) yang penggunaannya bisa dilakukan sekali saja selama masa tanam sampai panen dan dapat menghemat penggunaan pupuk hingga 30 – 50 %.

 

Kepala BPPT Hammam Riza menyatakan bahwa BPPT siap membantu melakukan kerekayasaan alsintan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dengan SDM dan pengalaman menghasilkan inovasi rekayasa permesinan, dirinya yakin BPPT bersama dengan Kementan dapat memenuhi harapan dari Menteri Luhut, yakni tidak hanya memenuhi kebutuhan pertanian dalam negeri, melainkan juga membuka peluang ekspor ke negara lain. 

 

Kepala BPPT juga berharap untuk dapat terus melakukan pengembangan alat dan mesin pertanian dengan menggunakan teknologi lainnya, seperti big data dan Kecerdasan Artifisial, sehingga dapat meningkatkan produktivitas hasil pertanian nasional

 

Metode Kerangka Sampel Area

Selain dukungan rekayasa teknologi alsitan, BPPT juga telah meluncurkan metode Kerangka Sampel Area (KSA) pada 2018 lalu yang bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) bersama kementerian dan lembaga terkait. Metode ini dapat meningkatkan akurasi data produksi pertanian secara nasional.

 

Dalam peluncurannya, Wakil Presiden periode sebelumnya Jusuf Kalla berkesempatan untuk menyampaikan hasil perbaikan penghitungan luas panen dengan menggunakan metode KSA. Dirinya mengatakan sejak tahun 1997, telah terjadi angka produksi beras yang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Selama ini, angka produksi beras bertambah terus, padahal sawah berkurang, sedangkan penduduk bertambah. Setelah dievaluasi dan menggunakan metode KSA, butuh waktu tiga tahun untuk memperbaiki angka ini.

 

Metode KSA sendiri merupakan metode penghitungan luas panen dengan metode statistik spasial dan dilakukan dengan pengamatan langsung di titik titik yang sama pada setiap 7 hari di akhir bulan. KSA memperoleh data dari citra satelit, kemudian data tersebut akan dilakukan pemeriksaan ke lapangan secara langsung, sehingga diketahui data koordinat yang ada di lokasi tersebut. Data kondisi lapangan selanjutnya akan difoto, dan kemudian dimasukan ke dalam sistem android yang akan mengunci koordinat lahan sawah, sehingga data lebih akurat.

 

Sebagai informasi Metode KSA ini dapat diakses di laman https://ksa.bps.go.id/ dan telah digunakan untuk menghitung data luas panen padi oleh BPS sejak tahun 2017. Untuk tahun 2020 menurut rilis BPS, data luas panen padi diperkirakan sebesar 10,79 juta hektar, mengalami kenaikan sebanyak 108,93 ribu hektar atau 1,02 persen dibandingkan luas panen tahun 2019 yang sebesar 10,68 juta hektar. Sedangkan produksi padi pada 2020 diperkirakan sebesar 55,16 juta ton GKG, mengalami kenaikan sebanyak 556,51 ribu ton atau 1,02 persen dibandingkan produksi di tahun 2019 yang sebesar 54,60 juta ton GKG.

 

 

 


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 14
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9457
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2021 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT