• 021 316 9457
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

SP 21 - Fokus Bidang Teknologi Kebencanaan

 

SIARAN PERS

SP.No.21/HMP/HMS/HKH/III/2021

Jakarta, 4 Maret 2021 

 

Webinar Rakernas Penguatan Ekosistem Inovasi Teknologi BPPT Tahun 2021

Fokus Bidang Teknologi Kebencanaan

 

Jakarta - Menjelang pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Penguatan Ekosistem Inovasi Teknologi BPPT Tahun 2021 pada tanggal 8-9 Maret 2021 mendatang, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah menyelenggarakan Road to Rakernas berupa webinar yang diselenggarakan pada tanggal 4-5 Maret 2021. Webinar Rakernas ini dihadiri oleh seluruh mitra dan stakeholders yang terlibat dalam setiap bidang fokus teknologi sebagai upaya untuk membangun ekosistem inovasi teknologi yang mapan. 

Tujuan dari webinar ini untuk memberikan masukan agar hasil fokus bidang teknologi BPPT dapat lebih terpusat pada pencapaian hasil dan dapat digunakan untuk peningkatan kemandirian dan daya saing bangsa.

Salah satu bidang teknologi yang dibahas dalam Rakernas ini yaitu bidang teknologi kebencanaan dengan tujuan untuk menyelaraskan kegiatan inovasi dan pengembangan teknologi kebencanaan yang ada di BPPT dengan regulasi kebencanaan, terutama bencana gempa dan tsunami, kebakaran hutan, serta bencana hidrometeorologi lainnya.

Bencana Tsunami

Topik bencana tsunami disajikan oleh Direktur Pusat Teknologi Reduksi Risiko Bencana BPPT M. Ilyas dengan menampilkan inovasi teknologi sistem peringatan dini tsunami atau lebih dikenal dengan InaTEWS.

Dirinya menegaskan kembali upaya BPPT selaku pendukung Komponen Struktural Sistem InaTEWS Nasional dalam melaksanakan tugas sesuai Perpres No. 93 Tahun 2019 tentang Penguatan dan Pengembangan Sistem Informasi Peringatan Dini Gempa dan Tsunami; dan Perpres No. 18 Tahun 2020 terkait Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional IV Penguatan Sistem Peringatan Dini Bencana.

Dalam Perpres No. 18 Tahun 2020 menugaskan BPPT bersama dengan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, BMKG, dan Badan Informasi Geospasial sebagai Komponen Struktur Penguatan dan Pengembangan Sistem Peringatan Dini Bencana melalui: (1) Pembangunan dan pengoperasian peralatan untuk observasi gempa bumi dan/atau tsunami; (2) Pemeliharaan peralatan untuk observasi gempa bumi dan/atau tsunami; dan (3) Penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan serta inovasi untuk kemandirian teknologi.

Untuk mencapai target penugasan tersebut, menurut Ilyas BPPT menganut konsep ekosistem inovasi pentahelix dalam pengembangan teknologi InaTEWS.  Koordinasi dan sinergi dibutuhkan untuk memudahkan hilirisasi dan pemanfaatan di masyarakat, serta menyelaraskan kegiatan bidang kebencanaan yang ada di BPPT dengan kebutuhan stakeholder industri yang menjadi mitra utama dalam proses komersialisasi hasil inovasi menuju kemandirian teknologi di bidang kebencanaan. 

Saat ini ungkap Ilyas, BPPT telah mengembangkan sistem pendeteksian tsunami berbasis pressure sensor buoy yang dinamakan Indonesia Buoy atau InaBuoy yang sudah berkembang dalam 4 generasi. 

InaBuoy generasi satu hingga tiga menggunakan sensor yang berada di Ocean Bottom Unit (OBU), berfungsi untuk mengukur tekanan air, merupakan fungsi linear dari tinggi muka air laut di daerah tersebut. Turunan dari tinggi muka air tersebut adalah gelombang dengan algoritma tertentu yang mampu mendeteksi adanya gelombang tsunami. 

Generasi terbaru merupakan pengembangan dari buoy generasi sebelumnya dengan penambahan instrumen pelacak lokasi ARGOS. Hal ini dilakukan sebagai tindakan preventif hilangnya buoy yang sedang beroperasi dalam mendeteksi muka air laut.

Selain InaBuoy, BPPT mengembangkan InaCAT (Indonesia Coastal Acoustic Tomography). Dengan menggunakan teknologi akustik tomografi pantai, deteksi gelombang tsunami pada transmisi rambatan gelombang suara dapat diterima oleh pasangan stasiun akustik. Sinyal yang diterima kemudian akan diproses secara telemetri ke stasiun penerima BPPT dan selanjutnya dapat memberikan informasi kedatangan gelombang tsunami.

Inovasi lain yang dikembangkan untuk mendeteksi dini tsunami adalah InaCBT (Indonesia Cable Based Tsunameter), yaitu peringatan dini tsunami berbasis platform jaringan kabel sebagai media pengiriman data dari sensor pendeteksi gelombang tsunami berupa pressure gauge dan akselerometer.

 

Seluruh data dari ketiga teknologi ini, ungkap Ilyas, akan dikirim dan diolah pada InaTOC (Indonesia Tsunami Observation Center), yaitu pusat data tsunami yang bekerja secara kontinyu selama 24 jam untuk selanjutnya digunakan untuk mendukung peringatan dini tsunami di BMKG.

 

Pada tahun 2021, Ilyas menjelaskan rencana program prioritas InaTEWS BPPT yaitu penempatan & operasional InaBuoy di 7 lokasi (Bali, Malang, Cilacap, Selat Sunda, Gunung Anak Krakatau, Bengkulu, dan Pulau Nias); produksi 4 set InaBouy dalam rangka stocking pemeliharaan; penggelaran kabel dan operasional sistem INACBT di Labuan Bajo & Rokatenda; DED untuk sistem elektronik CBT di Selat Malaka untuk smart cable system; Desktop Study dan studi kelayakan untuk InaCBT di Banda Neira (Maluku); Peningkatan kerjasama luar negeri Advanced CBT Krui – Cilacap (Jamstec Jepang & Hawaii University, Usa).

 

Kebakaran Hutan dan Lahan

 

Teknologi terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) disajikan oleh Jon Arifian selaku Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca. Dirinya mengatakan BPPT fokus pada salah satu butir arahan Presiden pada Rakornas Pengendalian Karhutla tanggal 22 Februari 2021 lalu yang memprioritaskan upaya pencegahan bencana karhutla melalui pemanfaatan teknologi dalam kegiatan monitoring dan deteksi dini. 

 

Dalam Rakornas tersebut, Presiden RI Joko Widodo berpesan untuk mencegah atau tidak membiarkan api menjadi besar, karena jika sudah membesar cost-nya akan menjadi banyak. 

 

Terkait arahan tersebut BPPT selaku Lembaga jirap telah mengusulkan dan melanjutkan pengembangan 5 jenis teknologi dalam upaya memperkuat sistem penanggulangan bencana karhutla, yaitu Pengelolaan lahan tanpa bakar (PLTB); Fire Danger Rating System (FDRS); Sistem Pemantau Tinggi Muka Air dan SMOKIES; Manajemen pengairan; serta mengintensifikasikan Teknologi Modifikasi cuaca pada periode pra bencana yang berlaku di bulan Januari - Maret, periode tanggap darurat di bulan April - September, dan periode pasca bencana di bulan Oktober – Desember.

 

Inovasi penguatan Decision Support System (DSS) mitigasi kebakaran hutan dan lahan yang telah dikembangkan saat ini terdiri dari pengembangan INDI 4.0 (Indonesian Network for Disaster Information) yang digagas untuk menjadi kegiatan pengkajian dan penerapan teknologi multi bencana. Sistem ini memvisualisasikan hasil amatan sensor lapangan misalnya sensor tinggi muka air lahan gambut, model prediksi tinggi muka air lahan gambut memanfaatkan metode Kecerdasan Artifisial. 

 

Dengan sistem ini kondisi air lahan gambut dapat diprediksi untuk jangka 3 bulan ke depan dalam resolusi harian. Metode ini juga dapat digunakan dalam monitoring devegetasi hutan dan lahan memanfaatkan data citra satelit, sensor lapangan dan parameter lainnya.

 

Selain itu, Jon menjelaskan bahwa BPPT sedang mengembangkan Indonesia Fire Danger Rating System (InaFDRS) satu sistem pemeringkatan bahaya kebakaran hutan dan lahan dengan menambahkan komponen bahan bakaran, komponen anthropogenic, dan nilai ekonomi lahan. Diharapkan dengan menambahkan 3 komponen selain komponen cuaca dan atmosfer, metode pemeringkatan bahaya kebakaran dapat lebih ditingkatkan. 

 

Sebagai informasi dalam webinar ini, para pakar kebencanaan yang diwakili oleh Dr. Harkunti Rahayu (akademisi dan ketua Ahli Ikatan Bencana Indonesia), Dr. Guswanto (birokrasi - BMKG), Dr. Bisman (ketua himpunan nelayan Indonesia – praktisi), Dr. Rahmat Hidayat (akademisi – IPB) dan Dr. Andi Eka (akademisi – BPPT) sepakat bahwa upaya inovasi melalui optimasi dan kolaborasi kegiatan dari hulu ke hilir harus terintegrasi. Teknologi terkait pengurangan risiko bencana tsunami dan karhutla harus terus ditingkatkan.

 

CP : Biro Hukum, Kerja Sama dan Humas BPPT (Bagian Humas)

 

 


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 14
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9457
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2021 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT