Print

SP.048/V/2021 - Mengukur Herd Immunity (Komunitas) Menggunakan Kit Pengukur Antibodi Netralisasi BPPT

SIARAN PERS

SP.No.48/HMP/HMS/HKH/V/2021

Jakarta, 25 Mei 2021 

Mengukur Herd Immunity (Komunitas) Menggunakan Kit Pengukur Antibodi Netralisasi BPPT

 

Presiden RI Joko Widodo mengatakan vaksinasi COVID-19 menjadi penentu perubahan (Game Changer) kondisi saat ini. Pernyataan tersebut dilontarkan Joko Widodo saat sesi debat umum Sidang Majelis Umum ke 75 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berlangsung September Tahun 2020.

 

Vaksinasi Covid-19 merupakan kunci yang sangat menentukan seberapa cepat masyarakat bisa bekerja kembali seperti sedia kala, termasuk untuk kegiatan pendidikan dan keagamaan. Vaksinasi Covid-19 bertujuan meningkatkan kekebalan tubuh kita atau sekelompok manusia sehingga bisa mencegah infeksi atau penyakit berat akibat Covid-19. Dengan vaksinasi akan terbentuk antibodi dan memori imunologis yang bisa mencegah seseorang terinfeksi atau sakit Covid-19 dalam kategori berat.

 

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengatakan program vaksinasi pemerintah merupakan salah satu upaya yang saat ini dianggap paling tepat dan efektif dalam menangani pandemi Covid-19.

 

Dirinya menyebut pemerintah telah mengamankan lebih dari 75 juta dosis vaksin yang terdiri dari Sinovac (68 juta dosis), AstraZeneca (6,4 juta dosis), dan Sinopharm (1 juta dosis). Menurut data Kementerian Kesehatan (24/05), baru sekitar 6 persen penduduk Indonesia menerima vaksin Covid-19 dengan rincian 14,9 juta telah menerima dosis pertama, dan 9,8 juta orang sudah menerima dosis kedua. Adapun target untuk mencapai kekebalan kelompok (Herd Immunity) yaitu vaksinasi haruslah mencakup setidaknya 181,5 juta orang.

 

Hammam menilai masih jauhnya target untuk mencapai kekebalan kelompok ini harus dijadikan sebuah tantangan bagi semua pihak, bahkan Presiden Jokowi saja menyebut vaksinasi sebagai game changer yang sangat menentukan seberapa cepat masyarakat bisa bekerja kembali seperti sedia kala, termasuk untuk kegiatan pendidikan dan keagamaan.

 

Dirinya menganggap upaya vaksinasi yang dilakukan pemerintah harus dibarengi dengan tindakan verifikasi untuk mendeteksi dan mengukur tingkat keefektifan vaksin di dalam tubuh masyarakat. Salah satu cara yang bisa dilakukan yakni dengan mengukur kadar antibodi seseorang usai mendapatkan vaksin. BPPT sebagai lembaga kaji terap teknologi telah mengembangkan kit untuk mendeteksi dan mengukur kadar antibodi netralisasi kuantitatif berbasis lateral flow immuno fluorescence assay (LFIA). LFIA sendiri merupakan perangkat diagnostik untuk mengonfirmasi ada atau tidaknya senyawa yang dicari dalam target.

 

Lebih lanjut Hammam mengatakan kit yang dikembangkan BPPT ini adalah alat pengukur jumlah antibodi netralisasi dalam darah menggunakan antigen protein RBD (receptor-binding domain). Teknologi ini menggunakan metode kuantitatif, sehingga hasil antibodi terukur dengan jelas dan tepat, berbeda dengan pendeteksi antibodi lain yang bersifat kualitatif.

 

Hammam berpendapat sertifikat vaksin baik itu dosis pertama maupun kedua haruslah diperkuat dengan pengukuran keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara medis. Hadirnya inovasi perangkat pengukur kadar antibodi netralisasi dapat menjadi verifikator yang mampu menyatakan secara medis bahwa seseorang telah berhasil menerima manfaat secara maksimal dari vaksin Covid-19.

 

Hasil pengujian kadar antibodi dalam tubuh seseorang merupakan ukuran yang lebih akurat daripada hanya sertifikat sudah pernah vaksinasi. Karena menurutnya, banyak kasus penerima vaksin dosis kedua yang ternyata masih terkena Covid-19.

 

Menurut Hammam, perangkat kadar antibodi netralisasi ini dikembangkan karena ada urgensi untuk mengetahui dan mengukur kadar antibodi seseorang sehingga bisa dilakukan pemantauan efek proyek vaksinasi di suatu wilayah. Sebab kekebalan kelompok baru bisa terbentuk jika lebih dari 70 persen populasi di wilayah tersebut telah terbentuk antibodi netralisasi. Dirinya berharap pengembangan kit deteksi antibodi kuantitatif dapat memperlancar program vaksinasi pemerintah, dan juga diharapkan mampu menganalisis kemampuan kekebalan komunitas seusai menjalani vaksinasi. (Humas BPPT)