670
Hits

SP.060/VII/2021 - Bakti Inovasi Teknologi BPPT 2021, Komitmen BPPT Memperkuat Upaya Pemerintah Atasi Pandemi

Admin HKH
23 Jul 2021
pers

SIARAN PERS

SP.No.60/HMP/HMS/HKH/VII/2021

Jakarta, 23 Juli 2021

Bakti Inovasi Teknologi BPPT 2021, Komitmen BPPT Memperkuat Upaya Pemerintah Atasi Pandemi

 

Jakarta - Pemerintah mengumumkan bahwa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat untuk Jawa dan Bali berlanjut hingga 25 Juli 2021. Tambahan waktu PPKM yang selanjutnya disebut dengan Level 4 ini ditujukan untuk memastikan penurunan kasus Covid-19, mobilitas masyarakat, dan angka keterisian tempat tidur rumah sakit (RS) rujukan agar berlangsung stabil. Hal tersebut diungkapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam keterangan pers secara virtual, Selasa (20/7).

 

Dari pelaksanaan PPKM yang dilaksanakan sejak 3 Juli 2021 hingga 20 Juli 2021, Presiden menyampaikan pembatasan kegiatan tersebut mampu menurunkan angka penularan dan menurunkan beban fasilitas kesehatan. Dengan menurunnya kasus Covid-19 di Indonesia haruslah terus diimbangi dengan kepatuhan  semua pihak dalam melaksanakan protokol kesehatan dan tentunya mengoptimalisasi upaya 3T (testing, tracing, treatment) di masyarakat sebagai kunci penting dalam pengendalian pandemi.

 

Sejak awal pandemi di Indonesia pada Maret 2020 lalu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah berkomitmen untuk berupaya dan berkarya menghasilkan inovasi teknologi dan produk kesehatan untuk memperkuat penanganan Covid-19, khususnya dalam mendukung upaya 3T pemerintah. 

 

Dukungan tersebut kemudian diwujudkan dalam produk teknologi kesehatan, seperti rapid test antigen RI-GHA19, PCR mBioCov-19, dan Mobile Lab Biosafety Level (BSL) 2 untuk memenuhi kebutuhan testing, kemudian aplikasi Pantau Covid untuk tracing, serta emergency ventilator untuk treatment pasien Covid-19. Produk inovasi ini pun dapat terwujud berkat ekosistem inovasi pentahelix bernama Task Force Riset dan Inovasi untuk Covid-19 (TFRIC-19), dimana BPPT berperan sebagai orkestrator.

 

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan BPPT dengan pengalaman hampir 43 tahun mengawal inovasi teknologi, mulai dari riset hingga komersialisasi, memiliki tanggung jawab menghasilkan inovasi teknologi kesehatan untuk penanganan Covid-19 dalam waktu yang singkat dan dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat.

 

Dirinya mengatakan dalam rangkaian hari ulang tahun yang ke-43, BPPT kembali melaksanakan Bakti Inovasi Teknologi untuk Covid-19. Hal ini selain merupakan upaya hilirisasi teknologi kepada masyarakat luas, tetapi juga pelaksanaan salah satu dari tujuh peran BPPT yaitu difusi teknologi sesuai dengan amanat Undang-undang (UU) Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SISNAS IPTEK).

 

Hammam menyebut ada 3 (tiga)  produk inovasi BPPT bersama mitra yang akan mengisi Bakti Inovasi Teknologi tahun 2021. Produk tersebut diantaranya, Reagen PCR mBioCov-19, Stamilic, dan Whole Beta.

 

Reagen PCR mBioCov-19 dipilih untuk menambah jumlah kapasistas testing di Indonesia. Inovasi ini digunakan untuk melakukan pemeriksaan spesiemn Covid-19, serta didesain menggunakan target N2 dan RdRP dari SARS-Cov-2 sesuai sekuens virus Indonesia. Alat pendeteksi Covid-19 ini merupakan hasil kerjasama BPPT, PT Biofarma, dan Nusantics.

 

Pada Bakti Inovasi Teknologi Tahun ini BPPT memberikan 43.900 tes reagen PCR mBioCov, 65.000 tes reagen ekstraksi RNA dan 27.000 Viral Transport Medium (VTM), dan akan didistribusikan ke beberapa laboratorium serta mitra BPPT, diantaranya RS TNI Ridwan Meuraksa di Jakarta Timur, RS TNI Putri Hijau di Medan, UPT Labkesda Kota Bogor, UPT Labkesda Kota Bandung, UPT Labkesda Kabupaten Tangerang, serta Satgas Penanganan Covid-19 Universitas Gadjah Mada.

 

Hammam berharap Bakti Inovasi Teknologi BPPT tahun 2021 akan semakin memperkuat upaya 3T pemerintah, dimulai dari memperluas jumlah testing masyarakat dengan menggunakan mBioCov-19, hingga membantu fasilitas kesehatan untuk terus memberikan yang terbaik kepada masyarakat luas.

 

Inovasi Suplemen Kesehatan

Selain inovasi teknologi pendukung testing (mBioCov-19), saat ini BPPT juga sedang menuntaskan beberapa inovasi produk suplemen kesehatan, yaitu Stamilic dan Whole Beta. Kedua produk ini dirancang untuk dapat memberikan peningkatan daya tahan tubuh (imunitas) masyarakat luas, utamanya pada masa pandemi ini. Stamilic merupakan produk suplemen kesehatan untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan pengendalian komorbid dalam menghadapi Covid-19. Stamilic mengandung ekstrak cair black garlic dan ekstrak jahe, kombinasi yang semakin memperkaya kandungan antioksidan. 

 

Inovasi black garlic merupakan hasil inovasi BPPT, yaitu bawang putih tunggal yang mengalami proses fermentasi selama sebulan dalam suhu dan kelembaban tertentu. Hasil fermentasi ini menghasilkan bawang putih hitam yang memiliki tekstur lembut, rasa manis asam dan bebas bau. Black garlic memiliki efek meningkatkan sel-sel imun yaitu sel natural killer, sel limfosit B dan sel limfosit T, serta memiliki kandungan senyawa bioaktif S-allyl-L-cysteine (SAC) yang sangat tinggi, yaitu sebanyak 20 kali lipat dibanding pada bawang putih segar. SAC adalah senyawa yang diketahui memiliki manfaat kesehatan yang luas untuk anti-inflamasi, anti-diabetes, dan memperbaiki lemak darah. Dalam distribusi dan pemasaran Stamilic, BPPT turut menggandeng mitra PT Saraka Mandiri Semesta.

 

Inovasi suplemen kesehatan selanjutnya adalah Whole Beta yang berperan membantu meningkatkan imunitas dalam masa pandemi Covid-19. Beta glukan “Whole Beta”, merupakan produk inovasi Pusat Teknologi Agroindustri BPPT bekerjasama dengan mitra industri, yaitu BiologiQ, PT Neopangan Selaras Indonesia dan PT Saraka Mandiri Semesta. Inovasi ini mengandung beta glukan hasil fermentasi ragi hitam. Beta glukan adalah polisakarida yang mempunyai berbagai fungsi kesehatan, diantaranya membersihkan radikal bebas, anti radiasi, mengatasi kolesterol dan mencegah hiperlipidemia, serta melawan infeksi yang disebabkan oleh virus, jamur, bakteri, parasit dan toxin.

 

Kemampuan beta glukan ragi hitam dalam membantu meningkatkan sistem imun adalah dengan cara mengaktifkan Sel B (untuk memproduksi IgM dan IgG) dan sel T (yang memproduksi IL-1 dan IL-8), serta mampu meningkatkan ekspresi sensor virus yang efektif untuk pencegahan virus influenza (H1N1) dengan menghambat replikasi virus.

 

Sebagai informasi, selain Bakti Inovasi Teknologi BPPT tahun 2021, BPPT juga meluncurkan aplikasi SiJempol 4.0 dalam upaya meningkatkan 3T di lingkungan BPPT. Sebelumnya, aplikasi SiJempol digunakan dalam mempermudah pengelolaan data kesehatan pegawai, termasuk membantu proses pencatatan data vaksinasi pegawai yang digelar BPPT Maret lalu. Dalam versi terbarunya, aplikasi SiJempol dilengkapi dengan dashboard yang berisi detail informasi pencatatan pegawai yang terkonfirmasi positif Covid-19. Pada dashboard dapat diketahui status pegawai aktif, hingga pencatatan pegawai yang sembuh. Pengguna juga dapat mengetahui perkembangan kasus harian secara real time, dan peta sebaran kasus aktif. (Humas BPPT)