• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Percepat Kemampuan Olah Enzim, BPPT Kerjasama dengan Qingdao China

Jakarta, bppt.go.id - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) gelar acara penandatangan perjanjian kerjasama dengan industri bioteknologi terbesar di China, Qingdao Vland Biotech Group Co. Ltd.

 

Dalam sambutannya Kepala BPPT Unggul Priyanto mengatakan di era teknologi maju saat ini, bioteknologi yang memanfaatkan keunggulan agen hidup atau sumber daya hayati mikroba merupakan salah satu aspek penting. Sumber tersebut dimanfaatkan untuk menghasilkan produk-produk yang punya nilai ekonomi sangat tinggi. 

 

"Dapat dikatakan di abad ke-21 ini merupakan abad bioteknologi. Dalam kerja sama ini selain riset, juga akan dilaksanakan transfer teknologi. Utamanya dalam rangka  kaji terap teknologi produksi enzim dan biofertilizer (pupuk hayati)," ujar Unggul usai penandatanganan dengan Qingdao China di Kantor BPPT, Jakarta, (2/6).

 

 

 

Sumber daya yang memiliki nilai ekonomi tinggi ini, kata Unggul, di antaranya vaksin, enzim dan antiobiotik atau antiviral. Produk tersebutlah yang justru membanjiri pasar di negara-negara berkembang. Contohnya, hampir 99 persen kebutuhan produk enzim untuk Indonesia masih impor dari India, China dan Eropa.

 

 

“Kita Indonesia harus mampu ambil bagian menjadi produsen, karena sumber daya hayati cukup melimpah. Bahkan terbesar ke empat setelah Brasil, China dan Afrika Selatan. Untuk itu  industri bioteknologi Indonesia, harus kita pacu. BPPT siap mendorong pengembangan bioindustri di Indonesia dan menjadi center of excellence di bidang bioteknologi,” papar Unggul.

 

 

 

Kerjasama dengan Qingdao, kata Unggul, dapat mempercepat Indonesia dalam pengembangan bioindustri atau bioteknologi. Qingdao merupakan ahli dalam produksi enzim untuk macam-macam kebutuhan, pakan ternak, kertas dan industri kimia lainnya. "Kerja sama ini dapat memberikan manfaat besar bagi Indonesia," ujar Unggul.

 

 

 

Lebih lanjut Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB BPPT) , Eniya Listiani Dewi mengungkap bahwa  industri enzim di Indonesia semua berbahan kimia. Melalui kerjasama ini Eniya akan berupaya membuat enzim yang dikembangkan dari biomassa.

 

 

"Pengembangan teknologi enzim ini diarahkan untuk aplikasi enzim di industri seperti industri pakan ternak, industri pengolahan kayu dan kertas, industri kimia dan lainnya. Sedangkan teknologi biofertilizer diharapkan dapat mendukung sistem pertanian hijau yang menggunakan konsep pupuk berimbang, untuk meningkatkan produktivitas dan tetap menjaga kualitas lingkungan," rinci Eniya.

 

Pada kesempatan yang sama Chief Executive Officer (CEO) Qingdao Vland Biotech Group Co. Ltd, Chengang, berharap agar kerjasama dengan BPPT ini dapat berjalan optimal. "Kerjasama ini akan difokuskan pada transfer teknologi dan pemanfaatan laboratorium bersama (join laboratory). Semoga dapat berjalan sukses serta menguntungkan kedua negara," tuntas CEO Qingdao. (Humas/HMP)

 

 


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2019 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT