Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT Terapkan Inovasi Budidaya Ikan Nila Salina di Kota Pontianak

 

Berupaya terus meningkatkan produktivitas dan pemenuhan ketersediaan pangan protein hewani (ikan), BPPT hadirkan Ikan Nila unggul GESIT (Genetically Supermale Indonesian Tilapia). Diungkap Direktur Pusat Teknologi Produksi Pertanian BPPT, Arief Arianto, jenis ikan ini mampu untuk budidaya di air asin, seperti lahan tambak marjinal bahkan air  laut.

 

 

“BPPT telah berhasil membuktikan ikan nila GESIT atau benih ikan nila monoseks jantan dan ikan Nila SALINA untuk meningkatkan produktivitas dan mengoptimalkan lahan tambak idle di Indonesia. Bisa dibudidayakan di laut,” paparnya dalam acara Diseminasi Teknologi Budidaya ikan Nila dan Lele di Kota Pontianak, Senin (04/12/2017).

 

 

Dituturkan olehnya, ikan Nila SALINA telah dirilis untuk dapat digunakan oleh masyarakat (petani dan pembudidaya ikan), berdasarkan Melalui Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : 22/KEPMEN-KP/2014.

 

Ikan nila Salina merupakan jenis ikan nila yang dapat tumbuh baik pada lingkungan perairan bersalinitas tinggi antara 20 - 25 ppt. Pembesaran Ikan nila unggul didukung dengan pemberian pakan yang mengandung suplemen pakan protein rekombinan (rGH) yang dapat meningkatkan daya cerna (digestibilty) sehingga meningkatkan efisiensi penggunaan pakan,” terangnya.

 

Dalam pelatihan bertajuk Diseminasi Teknologi Budidaya Ikan Nila Dan Lele Menggunakan Metode Bioflok, Suplemen Pakan Pemercepat Pertumbuhan Rgh Dan Vaksin Dna Streptococcus Iniae ini, Arief menguraikan bahwa pemberian vaksin DNA Streptococcus iniae melalui pakan juga diberikan untuk meningkatkan daya tahan hidupnya (survival rate).

 

Metode budidaya ikan nila unggul dan lele tambahnya, menggunakan sistem bioflok memiliki kelebihan sedikit atau tidak ganti air, cocok untuk lahan sempit, kualitas air budidaya lebih baik dan nilai FCR (feed convertion ratio) rendah.

 

Pengembangan ikan Nila dan Lele bertujuan untuk mendorong akselerasi peningkatan produksi perikanan terutama dalam penyediaan pangan protein, produk ekspor, peningkatan ekonomi dan lapangan kerja,” jelasnya.

 

Pada acara yang dihadiri sekira 100 orang petani ikan di Kabupaten Sambas dan Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat,  Anggota DPR-RI Komisi VII Katherine Angela Oendoen, mengatakan bahwa inovasi BPPT ini harus mampu untuk dioptimalkan oleh petani ikan setempat.

 

Inovasi ini menurut Katherine, merupakan hal baru, yang harusnya mampu memberi peningkatan produktivitas para petani ikan untuk menghasilkan ikan dalam jumlah banyak, sehingga juga menunjang kesejahteraan masyarakat setempat.

 

“Inovasi ini sangat bermanfaat dan tepat guna. Ikan yang bisa dibudidaya di tambak dan laut ini harus bisa menjadi modal untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

 

Sebagai informasi dalam acara tersebut juga disampaikan beragam paparan materi pelatihan “Diseminasi Teknologi Budidaya Ikan Nila Unggul” oleh Sutanti (Perekayasa BPPT) dan  “Budidaya Lele dengan Aplikasi Bioflok” oleh M. Kholik Firmansyah, (Perekayasa BPPT) dan “Praktek pembuatan pakan yang mengandung vaksin DNA Streptococcus iniae dan suplemen pakan rGH”. Selain itu pada acara yang juga dihadiri Kepala Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Pontianak ini juga dilakukan penyerahan paket sebagai sarana percontohan budidaya meliputi benih ikan Nila ; benih ikan Lele, pakan pelet, paket bioflok, kolam terpal, pompa dan hi blow dari BPPT kepada kelompok pembudidaya ikan setempat. (Humas/HMP)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id