Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Dukung Ketahanan Pangan, BPPT Tawarkan Inovasi Beras Sagu

 

Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB-BPPT), Soni Solistia Wirawan dalam gelaran Jumpa Pers BPPT, mengatakan bahwa, ketahanan pangan menghadapi tantangan besar, karena terkait dengan beberapa faktor yang saling terkait secara kompleks. 07-06-2018.

 

Menjelang hari raya lebaran dan di tengah aktualnya isu pangan di tahun 2018, soal sediaan pangan selalu menjadi perhatian publik dan merupakan tantangan yang harus disikapi dengan serius. Program Nawacita mengamanatkan bahwa penyelenggaraan pangan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang memberikan manfaat secara adil, merata dan berkelanjutan.

 

Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB-BPPT), Soni Solistia Wirawan dalam gelaran Jumpa Pers BPPT, mengatakan bahwa, ketahanan pangan menghadapi tantangan besar, karena terkait dengan beberapa faktor yang saling terkait secara kompleks.

 

 

 

"Tantangannya adalah tingginya tingkat konsumsi beras penduduk Indonesia, yang mencapai 124 kg/kapita/tahun dan merupakan angka yang tinggi dibandingkan dengan konsumsi beras dunia (rata-rata hanya 60 kg/kapita/tahun)," ungkapnya kepada media yang hadir di Kantor BPPT, Jakarta (07/06). 

 Konsumsi beras penduduk Indonesia tanaman padi, sedangkan mie berbahan baku terigu yang berasal dari gandum mencapai 124 kg/kapita/tahun dan merupakan angka yang tinggi dibandingkan dengan konsumsi beras dunia (rata-rata hanya 60 kg/kapita/tahun). Konsumsi mie instant mencapai 53 bungkus/kapita/tahun. Dilihat dari sisi bahan bakunya, beras berasal dayang merupakan 100% impor.

 

Berbagai tantangan di atas mendorong kita untuk mengembangkan sumberdaya pangan lokal lain yang mana Indonesia memiliki keragaman yang sangat kaya dan masih belum termanfaatkan secara optimal, seperti sagu, ubikayu, jagung dll. Sebagai contoh sagu, yang merupakan sumberdaya pangan lokal yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Luas hutan sagu di Indonesia mencapai 1,25 juta hektar, dan merupakan cadangan sumber karbohidrat sebesar 12-24 juta ton per tahun. Cadangan sagu yang besar ini merupakan potensi bagi pangan, sebagai sumber bahan baku industri dan energi. Sagu juga diharapkan menjadi salah satu pijakan kuat bagi peningkatan kesejahteraan penduduk Papua dan Papua Barat agar pemerataan pembangunan nasional terus meningkat.  

 

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi telah melakukan berbagai kegiatan kaji terap yang mendukung diversifikasi pangan melalu inovasi teknologi formulasi dan desain alat untuk pengolahan pangan berbahanbaku lokal, seperti sagu, jagung dan ubikayu. BPPT mengembangkan produk beras dan mie dengan memanfaatkan potensi bahan baku pangan lokal.

 

BERAS SAGU, BERAS SEHATKU dan MIE SAGU merupakan produk inovasi BPPT berbahanbaku sagu, jagung dan ubikayu, dan memiliki keunggulan-keunggulan seperti indeks glikemik yang lebih rendah (berkisar antara 30-50) dibandingkan dengan beras padi (sekitar 90), kandungan serat pangan serta resistant starch yang tinggi, sehingga sangat baik dikonsumsi bagi mereka yang rentan terhadap diabetes serta untuk memenuhi kebutuhan diet guna mendukung pola hidup sehat.

 

Dalam usaha mewujudkan ketahanan pangan, hasil-hasil riset dan inovasi teknologi karya anak bangsa perlu lebih dipacu agar mampu menjadi tulang punggung industri pangan nasional dan demi terwujudnya ketahanan pangan nasional.

 

Perlu ditegaskan, luas hutan sagu Indonesia sekitar 1,25 juta hektare, dimana 12 juta hektare ada di Papua. Luasan lahan di Papua yang telah dibudidayakan secara semi kultivasi baru 14 ribu hektare, sementara di luar Papua (Sumatera, Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan) mencapai 120 ribu hektare. Dengan luasan 1,2 juta hektare lahan sagu di Papua mampu menghasilkan 10-20 ton sagu per hektare per tahun. Maka diharapkan akan tersedia sumber cadangan karbohidrat sebesar 12-24 juta ton per tahun.

 

"Cadangan sagu yang besar itu merupakan potensi bagi pangan, sebagai bahan baku industri dan sebagai sumber energi. Selain sebagai sumber pangan, sagu juga diharapkan menjadi salah satu pijakan kuat bagi peningkatan kesejahteraan penduduk Papua dan Papua Barat, khususnya di Indonesia Timur, agar pemerataan pembangunan nasional terus meningkat," harap Soni.

 

Meski begitu BPPT juga menyadari bahwa pengembangan sagu menghadapi tantangan yang tidak ringan, karena lokasi terpencil dengan infrastruktur yang belum memadai untuk akses transportasi dan akses pasokan energi.

 

“Untuk itu perlu diskusi bersama antara pemangku kepentingan dan masyarakat agar dicapai solusi terbaiknya supaya pemanfaatan sagu dapat menjadi salah satu sumber pangan untuk dikonsumsi masyarakat di Indonesia," tutup Soni. (Humas/HMP)

 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id