Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT - PT RSUP Bangun Pabrik Biopeat Kapasitas 600 Ton

 

 

Produk Biopeat merupakan terobosan teknologi yang saat ini dikembangkan BPPT bersama PT. Riau Sakti United Plantations (RSUP) dalam rangka memanfaatkan lahan gambut tanpa dibakar untuk pertanian dan perkebunan. 

 

 Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) BPPT, Soni Solistia Wirawan menyebut pihaknya dan PT. RSUP membangun unit produksi berkapasitas 600 ton/tahun sebagai model percontohan untuk di dikembangkan lebih lanjut dalam skala yang lebih besar.

 

Unit ini rincinya, mengolah limbah nenas dari pabrik pengalengan nenas (Sambu Group) sebanyak 15 ton/hari dan diproses lebih lanjut secara fermentasi selama 2 – 4 minggu menjadi BioPeat.

 

 

“Sampai saat ini, diperkirakan 40 – 50 ton produk BioPeat telah diujicobakan kepada para petani lahan gambut sekitar perusahaan untuk budidaya pertanian seperti cabe, bawang merah dan jagung serta memberikan hasil yang signifikan,” ujarnya usai peresmian unit produksi tersebut di Pulau Burung, Riau, Rabu (08/08/2018).

 

Terkait sinergi antar pihak, BPPT juga bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir, Universitas Islam Indragiri (UNISI) dan PT. RSUP. Hal ini dinyatakan Deputi TAB, dituangkan dalam penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU), yang ditandatangani bersamaan dengan peresmian unit produksi BioPeat.

 

“Kerjasama ini merupakan wujud konkrit dari sinergi ABG (Academic, Business & Government) untuk mendukung inovasi dan hilirisasi teknologi yang berdampak kepada masyarakat. Ke depan, dengan melibatkan dukungan dari berbagai pihak terkait, diharapkan teknologi BioPeat dapat menjadi solusi dan memberikan kontribusi nasional dalam mendukung program Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) yang telah dicanangkan oleh pemerintah,” paparnya.

 

Deputi TAB lalu mengharapkan agar kedepannya program ini dapat diimplementasikan secara berkelanjutan. Sehingga, dapat meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan petani, seiring peningkatan produktivitas pertanian para petani.

 

Ditambahkan oleh Direktur Pusat Teknologi Bioindustri, Asep Riswoko, kegiatan ini juga ditujukan guna mendukung program pemerintah “PaJaLe” yaitu Padi, Jagung dan Kedele khususnya di Kabupaten Indragiri Hilir yang memiliki luasan lahan gambut terbesar di Provinsi Riau.

 

Peresmian unit produksi dan launching produk BioPeat yang dilakukan oleh Kepala BPPT pada tanggal 8 Agustus 2018 di Pulau Burung ini diurai Asep, juga disaksikan oleh Bupati Indragiri Hilir, Rektor UNISI dan undangan/pihak terkait lainnya.

 

“Peresmian unit produksi dan peluncuran Biopeat merupakan titik awal untuk mengembangkan Pilot Project Penerapan Teknologi BioPeat untuk Produksi Pertanian dan Perkebunan di Lahan Gambut secara nasional. Pilot Project ini akan diawali dengan scaling up dari demplot uji aplikasi BioPeat pada tanaman jagung yang telah dilakukan sebelumnya pada akhir 2017,” pungkasnya.

 

*Inovasi Biopeat*

 

Inovasi biopeat ini merupakan pupuk hayati yang mengandung mikroba potensial untuk memperbaiki produktivitas lahan gambut serta produktivitas tanaman dan dipopulerkan dengan nama BioPeat. Dengan aplikasi pupuk hayati BioPeat pada tanah gambut, terbukti mampu meningkatkan pH tanah dari rata-rata pH 3,9 menjadi sekitar pH 5. Dengan meningkatnya pH tanah gambut maka peluang mikroba penyubur tanah lainnya yang dapat  bertahan hidup dilingkungan tanah gambut juga ikut meningkat, sehingga tanah gambut menjadi lebih subur.

 

Inovasi ini dimulai dari kajian teknologi mikroba gambut untuk memperbaiki produktivitas lahan sub optimal masam khususnya lahan gambut sejak tahun 2010. Hasil kajian kemudian dikembangkan bersama dengan PT. Riau Sakti United Plantations (RSUP) menghasilkan Produk BioPeat yang telah teruji kemampuannya dalam meningkatkan pH lahan gambut.

 

Uji aplikasi produk BioPeat telah dilakukan pada beberapa tanaman seperti nenas, buah naga, sayuran dan jagung baik di lahan percobaan PT. RSUP maupun di lahan petani. Teknologi BioPeat terbukti dapat meningkatkan produktivitas tanaman jagung sebesar 45% dan mengurangi penggunaan pupuk anorganik sebesar 30%. Aplikasi teknologi BioPeat juga terbukti dapat meningkatkan grade buah Nanas sebesar 31% dan meningkatkan nilai brix buah Naga rata-rata mencapai 15%. Sementara nilai brix buah Naga di pasaran rata-rata hanya mencapai 11. Hal ini tentu menjadi peluang yang besar untuk peningkatan produktivitas buah-buahan dan hortikultura.

 

Sementara itu, untuk pengembangan sektor industri, Pemerintah terus berupaya menjaga ketersediaan bahan baku yang dibutuhkan industri makanan dan minuman agar semakin produktif dan berdaya saing global. Kementerian Perindustrian mencatat, sumbangan industri makanan dan minuman kepada PDB industri non-migas mencapai 34,95 persen pada triwulan III tahun 2017. Hasil kinerja ini menjadikan sektor tersebut kontributor PDB industri terbesar dibanding subsektor lainnya.

 

Aplikasi Biopeat pada komoditi tanaman pangan dan buah-buahan dapat memberi peluang yang menjanjikan guna menjaga pasokan bahan baku industri makanan dan minuman. Tingginya PDB dari industri makanan dan minuman tidak lepas dari peran petani yang telah menyediakan bahan baku untuk industri tersebut. Dengan terobosan teknologi BioPeat ini, harapannya akan membantu petani dalam meningkatkan jumlah produksi pertaniannya yang akan diserap oleh industri makanan dan minuman. (Humas/HMP)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id