Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT Gelar FGD Rencana Kerjasama Penerapan Teknologi Terapan di Kalimantan Selatan

 

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) adakan Focus Group Discussion (FGD)  bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan (KPw BI Kalsel) di Gd. BPPT, Jakarta (10/09). Diskusi ini fokus kepada rencana penerapan teknologi terapan yang paling cocok dengan karakteristik serta sumber daya di Kalsel.

 

Kepala BPPT Unggul Priyanto mengatakan banyak teknologi terapan BPPT, baik itu teknologi hulu maupun hilir, yang telah dimanfaatkan oleh mitra industri maupun pemerintahan.

 

"BPPT sering diminta pemerintah daerah untuk memberikan sentuhan teknologi, biasanya untuk meningkatkan potensi sumber dayanya masing-masing,"  terangnya.

 

Beberapa teknologi hulu yang telah digunakan diantaranya perbanyakan benih kentang menggunakan teknologi ex-vitro di daerah Batu dan Wonosobo. Kemudian budidaya ikan nila salina yang bisa hidup di air laut (Teluk Pramuka), dan air payau yang telah diterapkan di Pekalongan karena kerap dilanda banjir rob.

 

Untuk teknologi hilir, BPPT memiliki BiskuNeo, makanan ringan padat gizi berupa biskuit yang bisa difungsikan sebagai pangan darurat. Selanjutnya Beras Sehatku, beras berbahan dasar pati dengan indeks glikemik rendah yang telah didistribusikan di Indomaret daerah Lampung Tengah.

 

"Kami kembalikan kepada Pemprov Kalsel untuk menentukan teknologi mana yang terbaik untuk daerahnya. BPPT siap untuk membantu penerapan teknologinya" ujar Unggul.

 

Kepala KPw BI Kalsel, Herawanto mengungkapkan kehadirannya bersama Kepala Dinas terkait se-Kalsel ke Jakarta kali ini untuk menindaklanjuti pertemuan pada bulan Agustus lalu di Kalsel. Dari pertemuan sebelumnya disepakati empat bidang kerja sama yang menjadi bahasan yaitu, budidaya ikan lokal, integrasi pertanian padi organik, industri anyaman dari tanaman purun tikus, dan pemanfaatan limbah pesantren untuk dijadikan biogas.

 

“Saya datang bersama mereka, supaya bisa tahu teknologi apa yang dibutuhkan. Selain itu mereka juga bisa memberikan masukan kepada rekan-rekan di BPPT mengenai kondisi yang mereka hadapi di Kalsel.” terang Herawanto.

 

Dirinya melanjutkan teknologi terapan yang nanti akan dibawa, diharapkan mampu mendukung kegiatan ketahanan ekonomi di Kalsel.

 

“Kami dari BI menunggu realisasi kerjasama ini, dan siap memberikan bantuan. Bantuan bisa berupa bantuan alat/barang maupun bantuan teknis. Tidak tertutup juga, bantuan bisa berupa pilot project,” rincinya.

 

Fokus Empat Bidang Kerjasama

 

Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) BPPT Soni S. Wirawan mengatakan FGD ini sebagai usaha penjajakan, dan penunjukkan penanggung jawab kegiatan dari kedua belah pihak.

 

“Kita sudah sepakat untuk fokus pada empat kerja sama. Saya harap dengan adanya FGD ini, bisa dilakukan penajaman fokus, sehingga proses kerjasama sudah bisa dimulai” tegas Soni.

 

Soni menerangkan dari diskusi bidang kerjasama budidaya ikan lokal (Haluan dan Papuyu), didapatkan kebutuhan akan teknologi semen beku. “Teknologi ini mampu mempertahankan populasi, karena pemijahan bibit bisa dilakukan kapanpun. Selain itu akan diujicoba teknologi bioflok atau kolam terpal untuk tahap pembesaran ikan,” ujarnya.

 

Bidang kerjasama kedua yaitu padi organik. Dari diskusi yang berlangsung, Deputi TAB BPPT mengungkapkan pengembangan padi organik di Kalsel sudah cukup maju, dalam hal ini BPPT hanya akan melengkapi teknologi yang sudah ada.

 

“Tadi saya juga diminta oleh Kepala KPw BI Kalsel untuk pengintegrasian penanaman padi organik di lahan sawit, karena daerah Kabupaten Tanah Bumbu terkenal dengan perkebunan sawitnya. Penerapan teknologi penggemukan sapi menggunakan limbah sawit juga bisa disertakan dalam bidang ini,” tambah Soni.

 

Untuk bidang industri anyaman berbahan dasar purun tikus, Deputi TAB BPPT mengatakan akan memberikan sentuhan teknologi perbanyakan bibit menggunakan teknologi ex-vitro, sehingga masalah kuantitas dan kualitas bahan baku dapat teratasi.

 

“Teknologi ex-vitro telah teruji di banyak tempat, dan hasilnya memuaskan. Teknologi ini sering disebut dengan teknologi fotokopi tanaman, karena indukan bibit dapat langsung diperbanyak tanpa mengalami penurunan kualitas. Bisa dikatakan sama persis. Keuntungan lainnya teknologi ini bisa dilakukan langsung di lokasi penanaman, dan bisa dilakukan oleh petani langsung,” jelasnya.

 

Selain teknologi perbanyakan bibit, Soni menambahkan, BPPT akan memberikan sentuhan tekologi budidaya purun tikus yang telah berhasil dilakukan di Kabupaten Tasik, dan juga teknik pewarnaan menggunakan enzim yang ramah lingkungan dan bahan alami lainnya.

 

Untuk bidang kerjasama terkahir, pemanfaatan limbah pesantren menjadi biogas, Soni menyatakan BPPT siap untuk menerapkan teknologi ini.

 

“Nanti tim Pusat Teknologi Lingkungan (PTL) BPPT akan melakukan survei, perencaan, dan perhitungan untuk menyesuaikan kondisi disana. Bahkan teknologi ini bisa dikembangkan lagi ke skala yang lebih besar lagi, untuk perkotaan,” jelas Soni.

 

Soni menambahkan kerjasama antara BPPT dengan Kalsel tidak berhenti hanya sampai empat bidang saja, bisa berkembang ke area lainnya yang lebih luas.

 

“Kita tidak  menutup kemungkinan itu, namun sebelumnya kita harus fokus terlebih dahulu, kalau bisa sampai ke hal yang paling teknis, seperti pepatah the devil hides in the detail,” pungkas Soni menutup acara FGD. (Humas/HMP)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id