• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

BPPT Undang Stakeholder Industri Farmasi Bahas Prospek Pembangunan Pabrik Bahan Baku Obat Nasional

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) undang akademisi serta pelaku industri farmasi dalam acara Focus Group Discussion dengan tema Strategi Pengembangan Industri Bahan Baku Obat (Kimia Sintetik) Nasional di Hotel Santika, Tangerang Selatan, Rabu (16/10).

 

Deputi Teknologi Agroindusti dan Bioteknologi (TAB) BPPT Soni Solistia Wirawan dalam sambutannya mengatakan 95% bahan baku obat masih impor padahal pasar kita 82 triliun. Industri kita tidak bisa bersaing karena biaya produksi yang mahal, hal ini harus kita perhatikan.

 

"Saya menyadari bahwa terbangunnya industri bahan baku obat di dalam negeri, tidak cukup hanya dari komitmen dan perangkat regulasi dari pemerintah. Kemauan dan komitmen industri yang ditopang oleh kepastian pasar dan kesiapan teknologi menjadi keniscayaan, ditengah tengah gelombang produk murah dari luar negeri", tutur Soni.

 

Ditambahkan Deputi Soni, bahwa Industri bahan baku obat kimia sintetik dalam negeri diharapkan mampu berkontribusi sebesar 30% dari total target pangsa pasar industri farmasi Indonesia pada 2025 yang mencapai Rp 700 triliun.

 

Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika (PTFM) BPPT Agung Eru Wibowo menambahkan untuk kegiatan 2020-2024, BPPT akan melaksanakan kegiatan inovasi teknologi produksi Bahan Baku Obat (BBO) mengacu pada program prioritas nasional (flagship) yang ditetapkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, yaitu produksi antibiotik amoksisilin, parasetamol, insulin, adjuvant vaksin dan herbal.

 

“Kami sengaja mengundang para stakeholder industri farmasi disini untuk memberikan saran, dan menemukan konsep bisnis yang tepat, baik dari riset dan pengembangan, regulasi, proses bisnis, hingga potensi pasar. Jadi kita temukan ramuan triple helix ABG (Academic, Business, Government -red) yang paling kompatibel dengan pasar Indonesia di tengah kepungan produk impor,” jelas Agung.

 

Hadir dalam kesempatan ini, Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian Fridy Juwono mengatakan saat ini ada 206 industri obat yang terdiri dari 4 BUMN dan 202 swasta, yang menjadi masalah adalah siapa yang mau menggunakan bahan baku obat lokal ini. Jangan sampai pembuatan obat harganya jauh lebih mahal dari impor obat jadi.

 

"Bagaimana kita berperan dengan tupoksi masing masing untuk berkolaborasi dan bersinergi mengembangkan obat nasional", tutur Fridy.

 

Sementara Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kementerian Kesehatan Agusdini Banun Saptaningsih menambahkan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1010/MENKES/PER/XI/2008 Tahun 2008 tentang registrasi obat, negara melindungi industri obat dalam negri.

 

"Setiap perusahaan yang mengimpor obat ke Indonesia, setelah 5 tahun harus melakukan alih teknologi atau membuat pabriknya di Indonesia", tutur Agusdini.

 

Dirinya berharap dengan adanya diskusi ini ada keluaran rekomendasi yang real untuk membangun industri bahan baku obat nasional. (Humas HMP)


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2020 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT