• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Pesawat Udara Nir Awak Karya Anak Bangsa

Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) atau pesawat tanpa awak, adalah sebuah pesawat terbang yang tidak memiliki pilot dan penumpang. Kontrol pesawat PUNA ini sepenuhnya dikendalikan dari ruang kontrol dan pengendaliannya disesuaikan dengan misi yang diberikan. Fungsi utama dari PUNA ini adalah untuk melakukan penerbangan dengan misi tertentu, khususnya yang dinilai berisiko. Kepala BPPT, Marzan A. Iskandar, kala diwawancara oleh salah satu televisi swasta mengatakan fungsi PUNA sangat cocok untuk mengawasi keadaan suatu wilayah yang luas seperti Indonesia.  Untuk diketahui, Indonesia memiliki wilayah geografis lautan dan pulau yang luas, sehingga dibutuhkan suatu sistem yang bisa mengawasinya, mulai dari memantau bencana alam, tindakan kriminal, dan mengawasi kedaulatan negara. "BPPT telah merancang PUNA yang dilakukan oleh para perekayasa dan penelitinya. Selain itu, BPPT juga terus melakukan pengembangan pada sistem kontrol dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). TIK sendiri menjadi teknologi kunci dari pengembangan PUNA, terutama untuk merancang jarak terbang, penentuan misi, dan kontrolnya," kata Marzan di Gedung Teknologi 2 BPPT, Puspiptek, Tangsel (1/4).

 

Marzan menyampaikan, BPPT dalam proses perencanaan PUNA, dilakukan oleh para insinyurnya. Namun, BPPT hanya menghasilkan prototipenya saja, sementara untuk memproduksinya akan bermitra dengan PT Dirgantara Indonesia (DI), PT LEN, dan Kementerian Pertahanan (Kemenhan).  "Saat ini BPPT sudah menyelesaikan prototype PUNA Wulung pada tahun 2013 dan melakukan pengembangan pada tahun 2014. Perbedaan PUNA Wulung tahun 2013 dan 2014 adalah kemampuan terbangnya, Wulung 2013 berkemampuan terbangnya empat jam dan Wulung 2014 kemampuan terbangnya enam jam. Kedepannya, BPPT masih akan terus mengeksplorasi PUNA untuk menjadi andalan Indonesia  yang disesuaikan dengan kondisi alam Indonesia. Selain itu, Kemenhan juga sudah memesan PUNA Wulung 2013 sebanyak tiga unit dan PUNA Wulung 2014 sebanyak lima unit. Jadi, totalnya ada delapan unit," ungkap Marzan.

Marzan juga menyampaikan, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) juga telah memesan PUNA untuk memantau hutan, seperti melihat terjadinya kebakaran, penebangan liar, dan lainnya. Sementara BNPB juga membutuhkan PUNA untuk memberikan info mengenai kebencanaan, seperti gunung meletus, kebakaran hutan, dan sebagainya.

"BPPT terus meyakinkan pemegang kebijakan terkait tentang pentingnya teknologi PUNA. Dan, saat ini  teknologi PUNA sudah diakui sangat dibutuhkan untuk Indonesia. Saya juga berharap kedepannya PUNA milik Indonesia akan memiliki kemampuan yang sejajar dengan PUNA buatan asing," tutup Marzan. (tw/SYRA/Humas)


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2019 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT