Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Dorong Pembangunan Infrastruktur Nasional, BPPT Siapkan Rekomendasi Teknologi Jembatan Bentang Panjang

 

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) siap dukung program pemerintah dalam pembangunan infrastruktur berupa jembatan bentang panjang. Diungkapkan oleh Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa (TIRBR BPPT), Erzi Agson Gani,  sejak tahun 1980  BPPT sudah terlibat dalam konstruksi jembatan di Indonesia.

 

"Kabinet kerja Presiden Joko Widodo saat ini mendorong percepatan infrastruktur. Kita harus bersatu mendukung program itu. Apalagi pemerintah menargetkan membangun 200-300 jembatan per tahun. Jika kita tidak siap akan diambil pihak asing," katanya dalam jumpa pers BPPT Menjawab Isu Konstruksi Jembatan Bentang Panjang di Indonesia, di Kantor BPPT, Jakarta, Senin (25/4).

 

Jembatan bentang panjang, sebut Erzi adalah satu prasarana transportasi darat yang penting dalam menjaga pemerataan ekonomi bangsa, memperlancar angkutan logistik dan membuka daerah-daerah terisolir. BPPT tambahnya, telah cukup lama berkontribusi dalam pembangunan jembatan bentang panjang diantaranya pada uji aerodinamika Jembatan Suramadu di Jawa Timur dan Jembatan Merah Putih yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo di Ambon Maluku.

 

"Dari program pemerintah membangun tol Sumatera dari Bakauheni sampai dengan Aceh, beberapa jembatan akan dibuat. Kita sedang menguji jembatan Musi 3 dengan bentang panjang 1000 meter,"  jelas Erzi.

 

Diutarakan lebih lanjut oleh Kepala Balai Besar Teknologi Aerodinamika Aeroelastika dan Aeroakustika BPPT Fariduzzaman, jembatan khusus atau jembatan bentang panjang di Indonesia tidak banyak ada sekitar 100 jembatan. Jembatan bentang panjang sambungnya adalah jembatan khusus yang cukup mahal dan berteknologi tinggi.

 

Para perencana jembatan sambung Farid ketika bekerja dengan jembatan bentang panjang, harus mempertimbangkan tidak hanya faktor beban seismik, tapi juga faktor beban angin (aero), yakni aerodinamika dan aeroelastika.

 

"Faktor aerodinamika tampak sebagai gaya-gaya angkat, gaya dorong atau hambat dan momen puntir. Sedangkan faktor aeroelastika timbul dalam bentuk ketakstabilan struktur (flutter), dan getaran struktur pada kecepatan angin tertentu (induksi resonansi)," paparnya secara rinci.

 

Sebagai informasi hingga kini BPPT adalah satu-satunya instansi di Indonesia yang memiliki fasilitas laboratorium pengujian aerodinamika, aeroelastika, aeroakustika dan kekuatan struktur. Adalah Balai Besar Teknologi Aerodinamika, Aeroelastika dan Aeroakustika (BBTA3), Balai Besar Teknologi Kekuatan Struktur (B2TKS, dan Pusat Teknologi Sistem dan Prasarana Transportasi (PTSPT) yang berkecimpung pada pengujian tersebut 

 

 

"Indonesia memiliki fasilitas ini. Kami BPPT siap berikan rekomendasi teknologi yang terbaik agar pembangunan infrastruktur nasional berjalan optimal," pungkasnya. (Humas/HMP)

 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id