Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Kepala BPPT: Kereta Semi Cepat Jakarta Surabaya, Harus Ingat TKDN

 

Yogyakarta, bppt.go.id -- Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Unggul Priyanto menyebut agar pembangunan infrastruktur kereta semi cepat Jakarta- Surabaya, turut memerhatikan aspek Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Menurutnya proyek kereta ini harus mampu memberdayakan serta menumbuhkembangkan industri dalam negeri, demi peningkatan daya saing nasional.

 

"Jangan lupakan soal TKDN-nya (Tingkat Kandungan Dalam Negeri, red)," tegas Unggul kepada awak media dalam acara Seminar Peningkatan Kecepatan Kereta Api Koridor Jakarta-Surabaya, yang berlangsung di Gedung Pascasarjana Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis (7/12/2017).

Menurut Unggul, jika dimanfaatkan, proyek pengembangan kereta semi cepat itu bisa mengembangkan kemampuan anak bangsa dalam hal kaji terap dan perekayasaan teknologi.

 

Saat ini diungkapnya, Indonesia telah mampu mengembangkan kereta api lewat PT INKA, serta sistem persinyalan dan komunikasi lewat PT LEN dan PT INTI.

Bila ilmuwan dan industri diberdayakan diyakini Kepala BPPT bahwa Indonesia ke depan akan memiliki kemampuan untuk membuat mesin kereta api serta pembuatan jalurnya.

"Seperti yang Korea lakukan dengan Perancis. Tahun 2014, Korea sudah buat sendiri akhirnya. Transfer teknologinya berjalan baik. Transfer teknologi itu yang kita harus kawal bersama step by step," kata Unggul.

TKDN untuk Daya Saing Nasional

Adapun dari hasil kajian sementara yang dipaparkan oleh tim teknis gabungan antar instansi inipun dipaparkan bahwa pengembangan ini membutuhkan dana sekira 90 triliun rupiah . Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi kepada media juga mengatakan, bahwa biaya itu pengembangan maksimal nya di kisaran Rp 60 triliun.

“Tim teknis dan BPPT kali ini juga perlu menggelar konsultasi dengan Korea, Jepang, dan Jerman. Biaya pengembangan maksimal di kisaran enam puluh triliun rupiah,” rincinya.

Sebagai informasi, dalam kajian yang dipaparkan pun terdapat empat skenario berikut dana yang dibutuhkan. Salah satu skenario adalah mengembangkan kereta di jalur yang sudah ada dengan penambahan rel. Ini butuh biaya sekitar Rp 80 triliun. Salah satu keunggulan skenario itu adalah pengembangan yang bisa dilakukan bertahap. Misalnya, kereta semi cepat menempuh rute Jakarta-Semarang lebih dahulu. Ditargetkan, kecepatan kereta itu nantinya bisa mencapai 160 km/jam dengan rata-rata kecepatan 145 km/jam.

 

Adapun pada seminar ini, pakar perkeretaapian dari sejumlah negara seperti Korea Selatan, Jepang, dan Jerman mempresentasikan proyek pengembangan kereta cepatnya. Hal penting yang menjadi perhatian adalah apakah Indonesia harus langsung mengembangkan kereta cepat dengan infrastruktur baru atau mengoptimalkan yang sudah ada.

Jepang langsung mengembangkan infrastruktur baru. Korea Selatan mengembangkan secara bertahap selama 30 tahun. Demikian juga Jerman. Terkait itupun Kepala BPPT kembali mengatakan bahwa selain soal cost, perlu juga pembahasan terkait Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) serta transfer teknologi.

 

"Dulu Korea dengan Perancis alih teknologinya sangat baik. Nah ini kita harus kawal step by step alih teknologinya. Sehingga TKDN nantinya akan tinggi dan mendorong daya saing Indonesia," pungkasnya. (Humas/HMP)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id