Print

TINGKATKAN SAFETY TRANSPORTASI BATUBARA DENGAN TEKNOLOGI MEGAFLOAT DAN PUSHER BARGE SYSTEM

Sebagai kelanjutan dari pertemuan bulan Juni lalu, forum kali ini diadakan untuk menjawab tantangan dari hasil studi yang menyatakan bahwa sumber daya pertambangan dan transportasi di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun baik dari sisi kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri, kata Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa (TIRBR), Iskendar dalam acara Forum Megafloat dan Pusher Barge System di Komisi Utama (14/10).

Menurutnya, forum yang keempat kalinya tersebut diadakan untuk menjawab tantangan tersebut. Diharapkan melalui sentuhan teknologi dapat memberikan solusi dalam mengefisiensikan dan menjawab tantangan masalah safety transportasi untuk membawa batubara ke sungai dan laut.

Berdasarkan konsep Sistem Inovasi Nasional (SIN), lanjut Iskendar, BPPT berperan dalam bidang teknologi untuk mendukung pencapaian target kebutuhan batu bara. Oleh karena itu dalam hal ini, BPPT sangat mempunyai kepentingan dalam pengembangan teknologi  transportasi dan pelabuhan yaitu Megafloat and Pusher Barge, jelasnya.

Seiring dengan kajian dari BPPT, lanjutnya, juga dibutuhkan dukungan dari Kementerian ESDM dan Pemerintah Daerah untuk  menerapkan hasil studi ini. Hasil studi ini diharapkan dapat dijadikan suatu perwujudan dalam mendukung sistem transportasi batubara dan peningkatan produktifitas di bidang pertambangan, ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Director for International Affair Officer Shipbuilding and ship Machinerry Officer Minister of Land Infrastructure Transportation & Tourism, Sin Ot Stubo menyatakan keyakinannya terhadap proyek ini kedepannya dapat memberikan manfaat besar dan membawa keuntungan bagi kedua belah pihak. 

Senada dengan Iskendar, Ia turut mengatakan bahwa sistem transportasi batu bara ini mengutamakan aspek keselamatan dan ramah lingkungan. Manfaat lain jika sistem transportasi ini diimplementasikan yaitu dapat meningkatkan produktifitas tetapi biaya produksi dapat ditekan, tambahnya.

Sesaat setelah itu, Deputy General Manager Resorces Departement of JCOAL, Eiji Yamashita memaparkan inti dari hasil studi dan survei ke Kalimantan Timur. Studi kelayakan dimaksudkan untuk meninjau sarana transportasi untuk membawa batubara, karena produksi batubara telah berkembang di sepanjang perjalanan sungai mahakam, ucapnya.

Latar belakang studi, sambungnya, dikarenakan berdasarkan data statistik yang menyatakan jumlah batubara yang diangkut di sungai mahakam pada tahun lalu sudah mencapai 60jt ton dan diperkirakan sampai tahun 2025 akan terus meningkat. Oleh karena itulah, studi ini  dilakukan untuk menangani pengangkutan batu bara yang terus meningkat, jelasnya.

Melihat kondisi demikian, yang awalnya pengangkutan batubara di sungai mahakan masih menggunakan Towing Barge System (TBS), menurutnya kemungkinan tabrakan terhadap tongkang dapat terjadi sehingga faktor safety sangat kurang. Untuk menekan permasalahan tersebut kami mengusulkan Pusher Barge System (PBS) yaitu sistem transportasi batubara dengan mendorong tongkang.

Dari sisi daya angkutnya, kata  Eiji, PSB dapat meningkat daya angkut sebesar 25% dibandingkan TBS. Kelebihan lain dari sisi pembiayaan konstruksi, administrasi dan pemeliharaan, dinyatakan untuk biaya yang offshore/megafloat lebih murah dibandingkan yang onshore,

Selanjutnya disampaikan keuntungan lain dilihat dari  biaya operasinya. Jumlah investasi awal pada sistem offshore/megafloat untuk biaya fasilitas penyimpanan batubara di laut ternyata lebih murah yaitu sebesar 850 million Australian Dollar (AD), jika dibandingkan onshore untuk pembangunan pelabuhan lahan  menghabiskan biaya 1,000 million AD dengan biaya operasi 4-5,8 AD/TON, sedangkan untuk offshore/megafloat dapat menekan biaya operasi lebih murah sebesar 3 AD/ton, paparnya.

Dengan demikian, dengan menggunakan PBS sebagai sistem transportasi pengangkutan batubara, dapat mengatasi permasalahan keselamatan dan efisiensi baik dari sisi pembiayaan maupun proses angkutnya, ungkap  Eiji menutup paparannya. (KYRAS/humas)