SMARTCARD READER E-KTP BUATAN DALAM NEGERI SIAP DI PRODUKSI (II)

“Sejak 2009, BPPT sudah memberikan dukungan penuh pada penerapan e-KTP, dengan pendampingan teknis uji petik penerapan awal e-KTP di enam daerah. Dukungan kongrit lain yang diberikan BPPT, antara lain meliputi perancangan teknis e-KTP pada Grand Design Sistem Administrasi Kependudukan Kementerian Dalam Negeri, pemberian rekomendasi persyaratan teknologi e-KTP dan pengujian e-KTP, serta pendampingan teknis penerapan e-KTP pada tahun 2011 hingga 2013 ini”.

Hal tersebut disampaikan Kepala BPPT, Marzan A Iskandar saat membuka Seminar Teknologi dan Pemanfaatan e-KTP dan Perangkat Card Reader untuk Pelayanan Publik di BPPT, (2/05). Seminar ini merupakan kelanjutan dari Dialog Nasional e-KTP yag telah dilaksanakan pada tahun 2012 oleh BPPT dan Kementerian Dalam Negeri.


Pada kesempatan yang sama, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi melakukan ujicoba prototipe perangkat card reader atau perangkat pembaca KTP elektronik (e-KTP) untuk pelayanan publik yang dibuat Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Selain lebih murah jika telah diproduksi massal, card reader buatan BPPT diakui lebih praktis dipakai.


Gamawan memperkirakan Indonesia membutuhkan jutaan card reader nantinya, baik untuk urusan pelayanan publik, perbankan dan berbagai hal lainnya. Saat ini sudah tersebar 13.000 card reader di Indonesia buatan Amerika Serikat dan Korea Selatan, hanya saja pengoperasiannya membutuhkan PC atau perangkat komputer. Berbeda dengan card reader BPPT yang mudah dibawa (mobile) dan tidak membutuhkan PC.


"Untuk membaca chip dari E-KTP hanya butuh waktu 10 detik. Keuntungan alat yang dibuat BPPT tidak perlu disambungkan ke PC, tidak ribet. Sementara produk Amerika dan Korea perlu diPC kan. Sehingga produk dalam negeri harus bersama-sama kita besarkan," katanya di sela wawancara dengan pers.

Mengenai investasi yang dibutuhkan, Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK-BPPT), Hammam Riza menyebutkan bahwa diperkirakan jika sudah diproduksi massal harga card reader buatan BPPT disa mencapai harga dibawah 5 juta. Sebelumnya pun telah disebutkan oleh Mendagri bahwa untuk operasionalisasi perangkat card reader buatan luar negeri yang digunakan sementara ini mencapai hampir Rp. 8 juta (total harga card reader dan PC, red).

Kepala BPPT Marzan Aziz Iskandar menyatakan perangkat mobile card reader buatan BPPT bisa dipakai di daerah-daerah terpencil. Diharapkan dua bulan ke depan perangkat pembaca e-KTP ini bisa diproduksi. "Selama ini ketunggalan identitas masih belum dapat terbangun dengan baik karena terbatasnya metode dan teknologi yang digunakan oleh pemerintah Indonesia," ungkapnya.


Oleh karena itu dengan telah tersedianya sistem pendataan penduduk yang memadukan teknologi biometrik tersebut di tahap awal perekaman data, maka ke depannya teknologi biometrik dimungkinkan diterapkan dalam proses verifikasi identitas penduduk pemegang e-KTP melalui verifikasi sidik jari pada perangkat pembaca e-KTP (card reader).


Pemanfaatan teknologi biometrik multimodel (sidik jari, iris mata dan foto wajah) telah menguatkan metode pengenalan identitas tunggal berbasiskan nomor induk kependudukan.Marzan menambahkan teknologi kartu pintar (smart card) pada e-KTP itu sendiri memungkinkan pengembangan pemanfaatan e-KTP dari fungsi dasar atau fungsi tunggal sebagai otentikasi identitas saja menjadi multifungsi untuk berbagai keperluan. "Misalnya kartu e-KTP dapat digunakan untuk kartu jaminan kesejahteraan sosial, kartu subsidi BBM, kartu tenaga kerja luar negeri dan beberapa manfaat lainnya," paparnya.


Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi juga menegaskan pentingnya card reader dalam pelayanan publik nantinya. “Jika nanti e-KTP sudah dimanfaatkan diberbagai sektor, misalnya perbankan, card reader ini akan menjadi kebutuhan mendasar. Card reader hasil BPPT ini sangat luar biasa," pungkasnya.