• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

INDONESIA "TIMUR TENGAHNYA" BAHAN BAKAR NABATI

"Negara kita sebetulnya untuk Bahan Bakar Nabati dapat dijuluki Timur Tengahnya dunia. Contohnya  Sawit yang hanya bisa tumbuh di kawasan tropis dan hujan, secara geografis sangat cocok dengan Indonesia. Tanaman yang bisa menghasilkan minyak dengan jumlah besar adalah Sawit, oleh karena itu kita harus bisa memanfaatkan Sawit ini untuk kemaslahatan bangsa,” ungkap Deputi Kepala Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material BPPT, Unggul Priyanto saat diwawancarai Radio RRI, Jakarta (9/9).

Unggul menjelaskan jika Bahan Bakar Nabati adalah bahan bakar yang bahannya alami dari tumbuh-tumbuhan. Menurutnya hal tersebut sudah sejak tahun 2006 dikenalkan.”Presiden SBY pun sudah me-launching kampanye penggunaan Bahan Bakar Nabati kala itu” paparnya.

Ia menuturkan jika penggunaan Bahan Bakar Nabati bisa digencarkan dan didukung banyak pihak bisa mengurangi impor Bahan Bakar Minyak yang semakin tinggi. Secara umum, Unggul melanjutkan, Bahan Bakar Nabati sebetulnya sudah dikenal oleh sebagian masyarakat, seperti Biodiesel pengganti Solar , Bioetanol sebagai pengganti Premium. Lalu menurutnya Biogas  dan Biomass  juga termasuk kategori Bahan Bakar Nabati.

“Sejak 2006 tidak terlalu signifikan, sampai sekarang Biodisel baru dicampur 7,5 persen, padahal dulu targetnya melebihi 10 persen. Yang membuat masyarakat tidak begitu berminat adalah tata niaganya. Pertamina membeli biodiesel dari beberapa perusahaan. Saat ini sudah diatas 100.000 usd perbarel. Sebetulnya Biodiesel memiliki nilai kalori yang agak kurang, namun jika dicampur sampai 10 persen tidak akan terlihat bedanya,” pungkasnya.

Positifnya lagi, Unggul  menerangkan, energi Bahan Bakar Nabati ini ramah lingkungan dan terbarukan. Seperti Biodiesel berasal dari Crude Palm Oil (CPO), menurutnya jika kita terus menanam kelapa sawit, maka kontiunitasnya akan terjaga. Ia juga mengharapkan jika industri otomotif dapat turut mendukung kebijakan ini dengan membuat spesifikasi mobil yang sesuai.

“Tahun ini semua solar pertamina akan menggunakan campuran Biodisel 10 persen. Sebetulnya semua membutuhkan pengaturan. Dalam hal ini sawit, tidak smua daerah cocok dengan Sawit, oleh karena itu harus diatur dengan konsep tata ruang yang baik,” ungkapnya.

Menurut Unggul, pengembangan Bahan Bakar Nabati ini memang masih terkendala, seperti untuk Biogas yang kendalanya di bahan baku dan skalanya masih kecil hingga belum bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik atau subtitusi transportasi. Lalu untuk Panas Bumi kendalanya karena  letaknya yang bersinggungan dengan wilayah konservasi atau hutan lindung. Ia pun berharap jika masyarakat juga bisa mendukung dengan menggunakan Bahan Bakar Nabati yang tersedia seperti biogas dan biomass untuk kebutuhan sehari-hari. (Syra/Humas)


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2019 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT