Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Langka dan Tidak Murah, Penggunaan Energi Harus Efisien

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) minggu lalu baru saja meluncurkan Buku Outlook Energi Indonesia 2013 yang mengedepankan pengembangan energi dalam mendukung sektor transportasi dan industri pengolahan mineral.  Kepala BPPT, Marzan A Iskandar kala itu menyatakan bahwa peluncuran outlook energi ini adalah kali kelima dilaksanakan, sebagai wujud kontribusi BPPT menjawab isu-isu penting dan tantangan permasalahan energi masa depan di Indonesia.  Terkait peluncuran Buku Outlook Energi ini, Media Asing Bloomberg juga mewawancarai Kepala BPPT, Marzan A. Iskandar, (16/12) di ruang kerjanya, berikut petikannya.


Salah satu isu besar  mengenai ketahanan energy nasional adalah mengenai adanya prediksi outlook bahwa Indonesia akan menjadi negara importir energy (nett importer oil) pada tahun 2030. Prediksi kami saat ini hal itu dapat terjadi pada 2030, namun hal ini dapat  terjadi lebih cepat atau tidak terjadi tergantung  bagaimana  pemegang kebijakan terkait menanggapi hasil outlook energy ini. “Kalau sudah ada prediksi seperti ini kita harusnya merubah kebijakan mengenai penggunaan energi dengan melihat keterkaitan antara Undang-Undang sampai kepada bagaimana pola penggunaan energy di masyarakat,”  urai Kepala BPPT

 

Marzan mengatakan bahwa salah satu penyebab utama yang diperhatikan  hingga kini belum berubah adalah tren penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Salah satu upaya pencegahannya adalah dengan menggunakan opsi  energi terbarukan.”Hal ini (BBM) sebenarnya bisa digantikan dengan penggunaan energy terbarukan seperti biofuel (bioetanol, biodiesel  dan biooil).  Kami akan selalu berusaha agar fenomena nett importer oil tidak terjadi pada 2030, Kita menginginkan energy di Indonesia ini  dapat terjaga keberlangsungannya,” tegasnya.

Penyebab lainnya, menurutnya adalah persepsi   bahwa energi itu murah, padahal jika dibandingkan dengan harga keekonomiannya sudah tidak signifikan. Harga keekonomiannya berkisar di atas 10.000 namun di Indonesia masih dijual seharga 6500. “Jadi masih banyak subsidi untuk harga bahan bakar tersebut. Subsidi ini pun belum tentu tepat sasaran, jadi sebaiknya subsidi ini diberikan dalam bentuk program untuk pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat yang kurang mampu. Dengan adanya e-KTP juga masyarakat ekonomi lemah itu dapat ditelusuri sehingga subsidi akan lebih tepat sasaran,” terangnya.

Marzan melanjutkan bahwa yang terpenting adalah adanya edukasi ke masyarakat bahwa energi tidak murah. “Seharusnya masyarakat di edukasi bahwa energi itu langka dan mahal. Hal ini menjadi kunci dimana jika telah tercipta persepsi bahwa energi itu mahal maka kita akan lebih perduli untu mencari cara agar penggunaanya lebih efisien. Kita sangat beharap adanya upaya yang kuat dari pemegang kebijakan terkait  masalah ini,” ungkapnya

Marzan kemudian menuturkan bahwa sebenarnya penggunaan energi terbarukan juga terkait dengan potensi energy di suatu daerah. Dicontohkannya bahwa di Kabupaten Pelalawan, Kepulauan Riau,salah satu mitra kerja  BPPT baru saja diresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) PT. Langgam Power, dengan kapasitas daya 15 Megawatt. “Potensi daerah seperti ini dapat dicontoh oleh daerah lain yang juga memiliki sumber energy terbarukan lainnya. Listrik yang dihasilkan oleh PLTMG inipun nantinya akan dibeli oleh PLN, jadi upaya pembangunan kilang yang investasinya mahal dapat dibantu dengan adanya pembangunan pembangkit listrik dengan energy terbarukan seperti ini,” tutupnya. (SYRA/Humas) 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id