Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Teknologi Sebagai Solusi Kenaikan Harga LPG

Indonesia memiliki sumberdaya energi yang sangat beragam dengan jumlah yang melimpah untuk dikembangkan sebagai bahan bakar terbarukan. Oleh karena itu, semestinya hal tersebut dapat dimanfaatkan dalam menghadapi fenomena Kenaikan harga LPG ukuran 12 kilogram. Menanggapi hal ini, Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Energi (PTPSE-BPPT), Adiarso  menuturkan bahwa  BPPT  dalam beberapa tahun terakhir telah mengembangkan produksi bahan bakar alternatif, terutama yang difokuskan pada bahan bakar nabati (BBN), bahan bakar sintetis dari batubara cair, Compressed Natural Gas (CNG) dan juga pemanfaatan Dimethylether (DME) sebagai bahan bakar pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG), (10/1).

 

Pemanfaatan DME sebagai bahan bakar di sektor rumah tangga, lanjutnya, telah digunakan di Cina. BPPT sendiri telah memberikan Rekomendasi terkait DME sebagai bahan bakar substitusi LPG. “Rekomendasi ini sudah disampaikan melalui FGD DME tahun 2011, 2012 kepada kementerian ESDM dan BSN. Namun hingga kini implementasi yang konkrit belum ada,” ungkapnya.

Pengembangan DME sebagai bahan bakar, sebutnya, telah dilakukan sejak tahun 2011. Dimulai dengan pengujian pemanfaatan DME di mesin diesel dan kompor rumah tangga. Kemudian dilanjutkan dengan pengujian ketahanan komponen peralatan di kompor terhadap bahan bakar DME. Hasil pengujian ini digunakan sebagai dasar usulan draft standarisasi pemanfaatan DME sebagai bahan bakar. Selain itu, juga dilakukan beberapa kali sosialisasi pemanfaatan DME sebagai bahan bakar baik berupa FGD hingga konferensi bersifat internasional Asian DME Conference yang dilangsungkan November lalu di BPPT.

Pada acara Asian DME Conference 2013 di Jakarta, November lalu Kepala BPPT menyampaikan bahwa DME ini memiliki prospek yang cukup baik di masa datang. “Kita akan menyiapkannya  sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi penggunaan bahan bakar LPG,” ungkap Kepala BPPT, Marzan A. Iskandar kala itu.

Di masa mendatang, urainya ada dua isu utama yang terkait dengan produksi energi yaitu bahan bakar bersih dan efisiensi yang lebih tinggi dalam proses konversi. “Karena itu, dalam hal ini, teknologi memegang peran penting dalam keberhasilan pengembangan bahan bakar alternatif,” jelas Marzan.

Sementara itu, Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material, Unggul Priyanto pada Asian DME Conference lalu juga menyampaikan bahwa DME sejatinya dapat diproduksi dari sumber bahan baku yang beragam, mencakup gas alam, biomassa dan batubara. Penggunaan DME  pun dinilainya merupakan bahan bakar ramah lingkungan. “Potensi pasar DME sangat besar, sehingga memungkinkan terciptanya industri dalam rantai suplainya. Permasalahannya saat ini adalah DME menghadapi beberapa masalah global yang mencakup antara lain tingkat keekonomian yang kompetitif dalam pasar bahan bakar, kemitraan strategis di antara industri terkait, dan diterbitkannya standar mengenai DME. Dimana saat ini produksi DME masih dipimpin oleh negara-negara di wilayah Asia seperti Jepang, Cina, Korea dan Iran,” jelas Unggul.

Alternatif lain

Alternatif lain LPG, ujar Adiarso adalah gas bumi yang saat ini harga satuannya energi lebih murah apabila dibandingkan dengan LPG. “LNG lebih murah dibandingkan harga LPG untuk nilai energi yang sama, dengan volume LNG yang diperlukan lebih rendah sekitar 14% dibandingkan dengan LPG. Untuk merealisasikannya sebenarnya teknologinya relatif sudah matang, tetapi memang membutuhkan sejumlah infrastruktur pendukung yang harus dipersiapkan seperti pengembangan LNG station di sejumlah wilayah Indonesia,” paparnya.

Selain itu, menurutnya, kebijakan keamanan penyediaan bahan bakar di sektor rumah tangga yang bersifat beraneka ragam  perlu dipikirkan, sehingga berbagai lapisan masyarakat dapat memilih sesuai dengan selera dan kemampuannya. Berbagai teknologi konversi dapat diberikan seperti teknologi biokerosene, teknologi biogas, dan lainnya. “Solusi teknologi ini dapat lebih memberikan jaminan keamanan terhadap suplai bahan bakar di sektor rumah tangga,” tegasnya.

Lebih lanjut Adiarso menginginkan DME dan LNG dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif, sehingga dapat memberikan pilihan bagi masyarakat sesuai dengan kemampuannya. “Kita berharap agar kenaikan LPG ini bisa menjadikan peluang bagi bahan bakar lain seperti DME untuk dapat bersaing dengan LPG. Pemerintah dapat tanggap dan harus segera bersiap untuk mengeluarkan kebijakan penyediaan bahan bakar di sektor rumah tangga yang mengedepankan keamanan (security of supply),” pungkasnya. (SYRA/Humas)

 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id