Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Pembangkit Listrik Tenaga Angin Mampu Capai 9,4 MegaWatt

Hingga kini Indonesia masih sangat bergantung pada energi fosil, termasuk  dalam hal ketenagalistrikan. BPPT melalui Indonesia Energy Outlook 2014 memprediksikan bahwa pemanfaatan tenaga listrik total di semua sektor diperkirakan akan terus meningkat secara signifikan hingga lebih dari 5 kali, yaitu akan mencapai 903 TWh pada tahun 2035 atau tumbuh sebesar 7,4% per tahun.

 

Sementara kapasitas pembangkit listrik nasional akan meningkat menjadi 215 GW atau tumbuh sebesar 7,1% pertahun yang didominasi oleh pembangkit berbahan bakar batubara dengan pangsa hingga 65% atau sebesar 139 GW pada tahun 2035. “Dominasi batubara ini dikarenakan masih relatif rendahnya harga batubara dibanding dengan harga bahan bakar fosil lainnya, dan masih banyaknya kendala untuk pemanfaatan EBT. Rendahnya pemanfaatan EBT menunjukkan bahwa  perlu adanya dorongan terhadap pemanfaatan sumber energi baru dan terbarukan,” ungkap Kepala BPPT Unggul Priyanto kala membuka acara Indonesia Wind Power Forum 2015, Jakarta, (17/11).

 

 

BPPT, ungkap Unggul, melalui Balai Besar Teknologi Energi (B2TE) telah bekerjasama dengan United Nations Development Programme (UNDP) menyelenggarakan proyek Wind Hybrid Power Generation  Market Development Initiatives atau disingkat dengan WHyPGen. Proyek  ini, katany a bertujuan mempercepat tingkat pemanfaatan sumber energi angin pemanfaatan teknologi pembangkit listrik tenaga angin/ on-grid secara komersial, khususnya melalui kombinasi dengan teknologi pembangkit listrik lainnya seperti energy surya, hidro ataupun diesel.

Target utamanya, kata Unggul, adalah terwujudnya industry energy yang menghasilkan energi listrik berbasis teknologi Wind Hybrid Power Generation sebesar 18,115 GWh setara dengan pengurangan emisi CO₂ sebesar 16.050 metric ton, dari aplikasi sistem PLTB  dengan kapasitas terpasang sebesar 9,4 MW.

“Untuk mencapai target tersebut, dalam proyek ini dilakukan berbagai macam aktifitas yang meliputi pembuatan dan pembaharuan peta potensi energi angin di Indonesia, kajian dan demonstrasi teknologi, dorongan pembiayaan dan kebijakan, penciptaan pasar, dan penguatan dukungan industri lokal,” tegasnya.

Unggul juga menyoroti belum  adanya regulasi mengenai tarif listrik energi angin, serta masih minimnya informasi mengenai proses pengembangan proyek PLTB skala besar. “Untuk itu, BPPT melalui Proyek WHyPGen memiliki tugas untuk memfasilitasi pertemuan antara para pemangku kepentingan terkait pada wadah Indonesia Wind Power Forum ini,” sebutnya.

Melalui forum dirinya mengharapkan terjadi pertukaran informasi penting dalam hal status, kendala, tantangan dan peluang, serta rekomendasi dalam pengembangan industri PLTB. “Saya ingin  forum ini terus berjalan sebagai forum tahunan untuk energi angin di Indonesia yang dapat membahas isu-isu strategis maupun teknis,”   pungkasnya. (Humas)

 

 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id