Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT Gandeng Toshiba, Padukan Batere dan Fuel Cell untuk Pembangkit Listrik

 

 

Pemerintah Indonesia telah menaikkan target bauran untuk Energi Baru Terbarukan (EBT) dari 19,6% menjadi 23% pada 2025. Itupun telah termaktub dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2017-2026.

 

Dikatakan Kepala BPPT Unggul Priyanto, untuk mewujudkan target bauran EBT itu diperlukan akselerasi implementasi teknologi pembangkitan energi listrik, dari sumber Energi Baru Terbarukan (EBT).

 

 

“Melalui penandatanganan MoU dengan Toshiba Jepang ini, kita berupaya Joint Research H2One, sebuah teknologi kombinasi batere dan Fuel cell untuk pembangkit listrik bertenaga energy baru terbarukan atau EBT,” papar Unggul dalam acara yang digelar di Kantor BPPT, Kamis (30/08/2018).

 

Dituturkan Kepala BPPT bahwa Indonesia memiliki banyak potensi energi terbarukan termasuk sumber energi surya yang berlimpah dengan intensitas radiasi matahari rata-rata sekitar 4.8 kWh/m2 per hari di seluruh wilayah Indonesia.

 

“Begitu pula tenaga angin, pada beberapa lokasi dapat ditemui mempunyai kecepatan yang cukup baik untuk memutar turbin angin.  Namun demikian, penggunaan panel surya dan turbin angin sebagai pembangkit listrik dari sumber EBT masih belum stabil dan sangat tergantung pada kondisi alam,” ungkapnya. 

 

Penggabungan teknologi batere dan fuel cell serta panel surya, juga turbin angin, disebutkan Kepala BPPT dapat menjadi solusi untuk pembangkitan energi listrik yang stabil.

 

“Kalau sumber EBT digabungkan, maka akan dapat diwujudkan sebuah system pembangkitan energi listrik dari sumber EBT yang bersih dan berkelanjutan,” ujarnya. 

 

Sebelum mewujudkan penerapan teknologi kelistrikan di atas diperlukan kerjasama riset dengan pihak Jepang (Toshiba) yang telah lebih dahulu memulai penelitian fuel cell yang memanfaatkan sumber energi terbarukan (surya dan angin).  Kerjasama riset ini bertujuan untuk melakukan pengkajian dan penerapan teknologi H2One dengan sumber energi terbarukan (angin dan surya) untuk menghasilkan tenaga listrik yang stabil pada jaringan listrik. 

 

“Sebelum mengimplementasikan teknologi H2One di Indonesia, maka terlebih dahulu perlu dilakukan suatu studi untuk melihat kelayakan teknis dan ekonomis penerapan teknologi H2One ini pada sistem off grid dan on grid di Indonesia,” pungkasnya. (Humas/HMP)

 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id