OSKAR RIANDI: TEKNOLOGI UNTUK SEMUA

‚Bahasa adalah aset bangsa. Untuk itu kita sebagai bangsa Indonesia, harus bisa menguasai bahasa Indonesia lebih dari siapa pun juga. Jangan sampai kita, bangsa Indonesia, terkaget-kaget dengan produk berbasis bahasa Indonesia dan menjualnya kembali ke Indonesia‚, kata Oskar dalam wawancara di ruang kerjanya, Rabu (2/06).

Oskar Riandi, perekayasa Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) BPPT kelahiran Cirebon 1967 ini, telah berhasil mendapat penghargaan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dengan Kinerja Luar Biasa Baiknya oleh Badan Kepegawaian Nasional (BKN) Senin lalu. Penghargaan tersebut diberikan atas keberhasilannya melakukan pengembangan aplikasi untuk Sistem Pengenal Lisan Wicara Bahasa Indonesia untuk Perintah Komputer dan Penulisan Dokumen dalam OS Linux, program pengembangan Perisalah yang merupakan suatu solusi TIK untuk mentranskripsikan pidato atau rapat secara otomatis menjadi tulisan. Selain itu, Oskar juga berhasil melakukan perekayasaan dalam bidang komputasi dengan membuat aplikasi untuk peningkatan aksesibilitas, terutama bagi penyandang cacat.

Bermaksud untuk menciptakan sebuah aplikasi komputer bagi penyandang tuna daksa, Oskar berserta enam orang rekannya mengembangkan aplikasi berbasis open source yang dapat memudahkan penyandang tuna daksa dalam mengoperasikan komputer. ‚Dengan modal yang didapat dari Grant Research Asia Pacific Telecommunity (APT) pada 2007 lalu, bersama-sama dengan Telkom RDC kami melakukan riset IGOS Linux Voice Command in Bahasa Indonesia to Aid People With Different Ability and Illiteracy‚.

Hasilnya adalah, penyandang tuna daksa mampu mengoperasikan komputer dengan hanya melakukan perintah melalui suara. ‚Mereka hanya perlu mensuarakan apa yang hendak mereka lakukan. Misalnya seperti klik my documents, geser kursor ke kiri, tampilkan browser, dan sebagainya. Jadi hampir semua aplikasi yang ada pada komputer, voice accessable. Ini yang kami namakan dengan aplikasi liSan‚, jelas Oskar.

Tidak hanya puas sampai disitu, bersama rekan-rekannya Oskar kembali mengembangkan aplikasi open source yang dinamakan dengan SIDoBI, Sistem Ikhtisar Dokumen Bahasa Indonesia. ‚Mereka yang memiliki kemampuan terbatas, kembali menjadi inspirasi kami. Kali ini kami mencoba untuk mengembangkan aplikasi yang dapat membuat penyandang tuna rungu dapat juga menikmati siaran TV‚.

Aplikasi ini mampu mentranskrip suara penyiar kedalam bentuk tulisan atau teks, sekaligus meringkas intisari dari teks tersebut. Dengan metode statitiskal, kata-kata kunci dalam teks dapat ditemukan dan kemudian dijadikan poin penting dalam peringkasan.

Sedangkan Perisalah, kata Oskar, adalah perpaduan antara liSan dan SIDobi. Perisalah ini mampu mentranskrip pembicaraan dalam dialog dan rapat melalui microphone controller kedalam tulisan secara cepat dan langsung dapat dicarikan intisari dari dialog atau rapat tersebut.

‚Tingkat akurasi dalam uji coba yang kami lakukan mencapai 82%. Saat ini kami sedang menambah kemampuannya agar dapat mengenal beberapa suara sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Tentunya tetap dengan menggunakan microphone controller yang juga kami disain sendiri‚.

Mengangkat Martabat


Berbicara mengenai orang-orang dengan kemampuan terbatas yang ada di Indonesia, Oskar yang mentuntaskan pendidikan sarjana dan paska sarjananya di Jepang, mengatakan bahwa hingga saat ini belum mendapatkan ruang yang leluasa untuk berkreasi dan berkarya.

‚Di zaman serba moderen ini, dimana masyarakat sebagian besar dapat menikmatinya dengan mudah, ternyata masih ada sebagian masyarakat yang termarginalkan. Mereka kesulitan mendapatkan akses ke ruang-ruang informasi karena keterbatasan yang mereka miliki. Undang-Undang pun sepertinya baru mengaturnya dalam aspek hukum, tetapi tidak dalam pengimplementasian‚, tuturnya.

Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat menyebutkan bahwa Penyandang cacat berhak untuk memperoleh, diantaranya adalah pendidikan pada semua satuan, jalur, jenis, dan jenjang pendidikan; pekerjaan dan penghidupan yang layak sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan, pendidikan, dan aksesibilitas dalam rangka kemandiriannya; serta hak yang sama untuk menumbuhkembangkan bakat, kemampuan dan kehidupan sosialnya.

‚Salah satu impian besar tim yang masih belum terealisasi adalah menjadikan aplikasi kami benar-benar dapat dimanfaatkan seluasnya untuk para penyandang cacat. Bahkan satu individu pun yang dapat menggunakan aplikasi ini untuk membantu dirinya menjadi lebih mandiri, sehingga terangkat harga diri dan martabatnya, sudah menjadi capaian yang luar biasa hebatnya bagi kami‚.

Pemerintah menurut Oskar perlu mulai mengambil peran lebih besar dalam mendorong tumbuhnya inovasi-inovasi pendukung bagi para penyandang cacat. ‚Saya berharap BPPT sebagai lembaga yang berkompeten dibidang teknologi, dapat sedikit menyisihkan sedikit dari resources yang ada, untuk bergerak kearah pengembangan teknologi untuk penyandang cacat. Jadi nantinya, apabila berbicara tentang teknologi untuk penyandang cacat, maka BPPT lah institusi yang menjadi referensi utama. Pihak swasta maupun foundation juga dapat mulai mengembangkan CSR mereka, yang sekarang masih berkisar pada sektor environment, ke arah pengembangan aplikasi bagi mereka yang mempunyai keterbatasan fisik seperti ini‚. (YRA/humas)