• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

TINGKATKAN PENGGUNAAN BIODIESEL SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF

Indonesia sampai saat ini masih bergantung pada bahan bakar berbasis fosil. Belum adanya jumlah pengurangan pada penggunaan minyak bumi tersebut membuat Indonesia belum memenuhi target pengurangan emisi karbon negara di dunia. Untuk menangani permasalahan tersebut, perlu adanya pengembangan bahan bakar alternatif ramah lingkungan.

BPPT sebagai lembaga riset dan teknologi melalui Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi (BRDST), telah mengembangkan biodiesel sebagai bahan bakar alternatif ramah lingkungan. Tentunya produk biodiesel yang telah dikembangkan tersebut perlu disosialisasikan kepada stakeholder dan mitra pengguna. Berkaitan dengan hal tersebut, BRDST menggelar acara Lokakarya Pengembangan dan Perekayasaan Teknologi Biodiesel di Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta, Kamis (21/10).

Pada acara yang bertemakan Pengembangan dan Perekayasaan Teknologi Biodiesel, Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material (TIEM), Unggul Priyanto secara jelas mengatakan bahwa biodiesel merupakan salah satu dari jenis bahan bakar biofuel yang terbuat dari bahan nabati yang menjadi solar. Indonesia mempunyai jumlah pasokan produksi kelapa sawit 20 juta ton. Ini merupakan jumlah yang cukup dari stok. Untuk potensi pun kita tidak kekurangan, dan pabrik biodiesel kita memiliki kapasitas 3 juta kilo liter.

Menurutnya, dengan potensi yang ada peran biodiesel dapat menggantikan peran minyak bumi yang signifikan. Untuk itu diperlukan kajian tentang teknologi pengembangan biodiesel guna menekan biaya produksi. Dengan adanya lokakarya ini, diharapkan dapat timbul ide-ide baru dalam pengembangan biodiesel, ucap Unggul.

Sementara itu, perwakilan dari Pertamina, Yutti Nurhati dalam presentasinya mengatakan bahwa Pertamina berkomitmen untuk mendukung pemanfaatan biofuel sebagai bahan bakar alternatif. Ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah (Permen No.32/2008). Semua badan usaha migas diharapkan dapat melaksanakan Permen tersebut.

Dengan kemampuan teknologi yang dimiliki produsen biodiesel, masih tetap perlu melakukan peningkatan kualitas. Dukungan peningkatan fasilitas produksi dan distribusi serta kemudahan perijinan dan insetif fiskal juga diperlukan, mengingat jumlah produsen biofuel yang tersebar, kata perwakilan APROBI (Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia), Paulus Tjakrawan dalam kesempatan yang sama.

Melihat kondisi tersebut, menurut Paulus, diperlukan adanya evaluasi rutin dalam pelaksanaan dan kebijakan program BBN (Bahan Bakar Nabati) dengan mengkoordinasikan kepada semua pihak, guna mempercepat penggunaan biodiesel.

Di hari yang sama, dibahas juga beberapa teknologi hasil kerekayasaan yang berkaitan dengan biodiesel, diantaranya desain pilot plant biodiesel dengan reaktor bubble methanol, metode pengujian propertis biodiesel cepat (quick check) dan renewable fuel enhancer by catalytic hydro-treating of vegetables oils. (YRA/humas)


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2019 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT