• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI BROADBAND WIRELESS ACCESS (BWA) MENUJU KEMANDIRIAN BANGSA

Masih terkait dengan Konvensi dan Seminar BKE-PII 2010, telah diadakan Seminar bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang bertema Pengembangan Teknologi Broadband Wireless Access (BWA) Menuju Kemandirian Bangsa. Seminar diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang teknologi WIMAX, aplikasi WIMAX, regulasi terkini dan peluang bisnis baik bagi operator, vendor maupun masyarakat industri dalam negeri.

Tema ini dipilih karena kami menganggap bahwa BWA adalah next generation technology. Tentunya BWA akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kepentingan pembangunan bangsa kita, khususnya menuju masyarakat Informasi Indonesia dan diselaraskan dengan target bangsa kita dalam bidang TIK, ungkap Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) BPPT, Hammam Riza (25/11).

Menurutnya, pengambilan tema ini karena perkembangan dari regulasi, teknologi dan industri yang terkait dengan BWA semakin merucut sekarang ini. Diharapkan melalui seminar ini akan terjadi diskusi yang up to date dalam perkembangan BWA di Indonesia. Selain itu juga dapat memberikan pembelajaran dalam menyikapi teknologi BWA baik dari sisi regulasi, operator, vendor perangkat, maupun dari sisi litbangyasa penelitian dan perkembangan teknologi ini untuk kemandirian bangsa.

Senada dengan yang diungkapkan oleh Direktur PTIK, Kepala Pusat Data Informasi dan Standarisasi (PDIS) BPPT, Hary Budiarto mengatakan bahwa BWA terdiri dari suatu perangkat dan sistem yang mempunyai potensi dan peluang untuk menuju kemajuan dan kemandirian bangsa.

Apabila berbicara mengenai kaitan BWA dan kemandirian bangsa, Direktur Standarisasi, Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo), Azhar Hasyim mengatakan bahwa tentunya sangat terkait dengan bagaimana peranan perangkat BWA itu sendiri untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Penetrasi pertumbuhan 1% infrastruktur di BWA akan meningkatkan dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 6%. Akan tetapi sangat disayangkan, lokal content di Indonesia sangat kecil sekali padahal pemerintah sudah melakukan proteksi salah satunya adalah dengan meningkatkan kemampuan industri nasional, jelas Azhar.

Dalam sejarahnya, pada tahun 2007 pemerintah telah menetapkan standar BWA yang akan digunakan di Indonesia adalah jenis nomadik atau lazim disebut standar 'd'. Namun seiring perkembangan, standar tersebut dirasakan memiliki kelemahan karena sistem yang digunakan impor semua sehingga harga perangkat untuk customer (CPE) relatif mahal

Pada kesempatan yang sama, Direktur Enterprise and Wholesale, PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), Arief Yahya, mengatakan bahwa BWA menarik. Mengapa BWA menarik? BWA ini menarik karena banyak nature conflict, baik dari regulasi, bisnis maupun teknologi. Selama regulasi dan teknologi roadmapnya belum jelas, bisnisnya tidak akan berjalan. Jadi sebaiknya teknologi dikaji dulu, regulasi dibuat lalu bisnisnya jelas. Jadi tidak semua teknologi diadopsi.

Jadi yang terpenting dari BWA, lanjut Arief, affordability (keterjangkauan) yang menjadi kunci utama jika kita ingin menjual WIMAX, dan WIMAX memungkinkan untuk itu asalkan positioning tepat. Selain itu content and service serta availability merupakan hal terpenting untuk menumbuhkan BWA, tambahnya.

Untuk bisa menguasai teknologi di bidang telekomunikasi, sebelumnya otak dari teknologi tersebutlah yang harus dikuasai, yaitu Chip. Xirka merupakan satu-satunya perusahaan Chip WiMAX di Asia Tenggara dan salah satu diantara 8 Produsen Chip WiMAX SS di Dunia, serta satu-satunya perusahaan di Indonesia yang mengkhususkan pada Digital Signal Processing for Communication yang didukung lebih dari 60 R&D engineer, kata Director Of Technology, PT. XIRKA, Trio Adiono.

Ide dari Xirka adalah ingin menciptakan suatu teknologi yang tidak perlu membutuhkan biaya yang besar tetapi diinginkan dan dapat dipakai masyarakat, jadi bukan hanya untuk mendapat pujian dari negara lain, jelas Trio.

Untuk mewujudkan ide-ide tersebut, Xirka tidak bekerja sendiri atau survive sendiri karena bagaimana pun juga hidup membutuhkan semacam ekosistem yang baik di industri chip ini. Xirka bekerja sama membangun industri hilir dalam negeri, yang terdiri dari Operator, Regulator, Layanan Konten, Konsumen dan Akademik LPND, lanjut Trio.

Selain bekerjasama dengan stakeholder dalam negeri, Xirka juga bekerjasama dengan stakeholder luar negeri untuk masalah vendor atau pabrikan. Di luar negeri untuk membuat perangkat itu tidak simple, artinya ada RF, antena, software, tester dan sebagainya. Ekosistemnya juga sangat besar, jadi tidak hanya fokus pada satu chipset saja. Jadi Indonesia sebenarnya tidak hanya fokus pada perangkat wimax saja tetapi juga dalam membangun ekosistem ini, tegasnya.

BPPT dalam hal ini berupaya memikirkan agar industri BWA dapat berkembang, sehingga diperlukan susunan Sistem Inovasi Nasional (SIN) sebagai perekat untuk beberapa stakeholder didalamnya seperti regulator, pendidikan, litbang dan pelaku bisnis atau industrinya, ungkap Sarinanto dari Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) BPPT.

Berdasarkan sudut pandang makro mengenai broadband economy, kata Sarinanto, sejak tahun 2006 upaya persayaratan yang dilakukan untuk memaksimalkan kontribusi industri telekomunikasi dalam negeri adalah harus mengandung TKDN sebanyak 30% untuk Capital expenditures (CAPEX) dan 50% untuk operational expenditure (OPEX).

BPPT mengeluarkan rekomendasi tentang BWA kepada beberapa Kementerian terkait dengan membantu memberikan tahapan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Dan tindak lanjutnya BPPT melakukan upaya penyusunan roadmap Teknologi BWA Indonesia kemudian perbaikan konsep TKDN termasuk penyelenggaraan audit teknologi bagi verifikasi BWA, dan Konsorsium Teknologi BWA Indonesia, jelas Sarinanto.

Selain itu, BPPT juga berupaya dalam pengembangan Lab TIK di Puspiptek Serpong agar dapat dimanfaatkan untuk pengembangan industri BWA dalam negeri di Indonesia untuk mendapatkan BWA Certification Lab", tegasnya. (KYRA/humas)


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2019 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT