• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Ini Alasan Hujan Abu Vulkanik Gunung Kelud Sampai ke Bandung

Gunung Kelud di Jawa Timur meletus Kamis malam, 13 Februari 2014 lalu. Letusannya melemparkan material kerikil dan abu vulkanik ke udara. Akibatnya, hujan abu menyelimuti sejumlah banyak kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, bahkan hingga ke Bandung, Jawa Barat. Tri Handoko Seto, Kepala Bidang Pengkajian Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan, UPT Hujan Buatan BPPT, mengatakan memang banyak yang bertanya mengapa abu vulkanik letusan Gunung Kelud justru banyak yang jatuh di wilayah barat, padahal angin sedang berhembur dari barat ke timur.

 

"Memang benar bahwa kondisi angin di lapisan bawah di ketinggian sekitar satu kilo meter di atas permukaan laut bergerak dari wilayah barat ke timur. Tapi, angin di ketinggian lima kilo meter justru bergerak dari wilayah timur dan tenggara ke wilayah barat dan barat laut dengan kecepatan sekitar 10 sampai 20 knot," kata Seto, (17/2).

Seto yang juga pakar meteorologi tropis menambahkan, untuk diketahui, letusan Gunung Kelud yang berisi abu vulkanik bergerak ke atas sampai ketinggian 10 sampai 17 kilometer. Sementara lapisan atas yang berada lima kilometer di atas permukaan laut terus bergerak ke wilayah Barat. Itu yang menyebabkan hujan abu vulkanik bisa sampai ke wilayah Bandung.

"Tapi, daerah yang paling terpapar material kerikil dan abu vulkanik yang berukuran besar tentu daerah yang berada di sekitar Gunung Kelud karena adanya dampak gravitasi," tambah Seto.

Lalu, sampai kapan hujan abu vulkanik terus melanda? Seto menjelaskan, semuanya itu terjadi tergantung sumber abunya. Selama abu masih banyak berada di udara, maka akan sampai lama terjadinya. Tapi, karena sebagian besar abu sudah jatuh akibat adanya gravitasi dan hujan yang turun di beberapa lokasi di Jawa, maka selama tidak ada letusan baru hujan abu itu akan segera hilang.

 "Untuk mengantisipasi terjadi bencana serupa, BPPT siap membantu lembaga BNPB dan BNPD untuk menanggulangi masalah hujan abu vulkanik. Misalnya dengan menganalisis data-data di radar cuaca, maka akan diketahui informasi mengenai volume dan kerapatan debu vulkanik secara lebih detail. Dengan begitu para warga bisa waspada terhadap datangnya hujan abu vulkanik," tutup Tri Handoko. (tw/SYRA/Humas)

 


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2019 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT