• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Teknologi Hujan Buatan BPPT Salah Satu Solusi Perubahan Cuaca Ekstrim di Indonesia

Fenomena perubahan iklim telah terjadi di Bumi yang kita tinggali. Salah satu penyebabnya adalah efek rumah kaca. Perubahan iklim berdampak pada pemanasan global yang akhirnya menyebabkan pola musim yang tidak menentu. Mulai dari banjir, kekeringan di sejumlah wilayah, dan kebakaran hutan.

Salah satu cara mengatasi perubahan iklim adalah dengan menggunakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dimiliki oleh UPT Hujan Buatan BPPT, terutama dalam upaya migitasi bencana. Seperti untuk menangani banjir di Jakarta dan kebakaran hutan di Riau. Kepala UPT Hujan Buatan BPPT, F. Heru Widodo, menjelaskan TMC adalah usaha campur tangan manusia dalam pengendalian sumberdaya air di atmosfer untuk menambah curah hujan dan mengurangi intensitas curah hujan pada daerah tertentu untuk meminimalkan bencana alam yang disebabkan oleh iklim dan cuaca dengan memanfaatkan parameter cuaca. 

 

"TMC yang dilakukan oleh UPT Hujan Buatan BPPT adalah untuk mengendalikan cuaca ekstrim di Indonesia. Seperti untuk menambah curah hujan untuk pengisian air waduk di dekat lahan pertanian yang sedang kekeringan dan upaya penipisan asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Lalu untuk mengurangi intensitas curah hujan yang bertujuan untuk penanggulangan banjir, meminimalkan hujan di daerah pertambangan, perkebunan, dan lainnya," ungkap Heru, di acara Jumpa Pers Perubahan Cuaca Ekstrim di Indonesia, di Gedung BPPT, Jakarta, (26/3).

Heru menambahkan, tindakan TMC di Indonesia juga sudah diatur dalam undang-undang. Seperti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dalam pasal 38 ayat 1, yang menyatakan bahwa pengembangan fungsi dan manfaat air hujan dilaksanakan dengan mengembangkan Teknologi Modifikasi Cuaca.

"Kemudian, dalam konteks migitasi bencana kebakaran hutan dan lahan telah tercantum dalam Inpres Nomor 16 Tahun 2011 tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan. Sedangkan dalam konteks migitasi bencana banjir telah tercantum di Inpres Nomor 4 Tahun 2012, tentang Penanggulangan Bencana Banjir dan Tanah Longsor," ujar Heru.

Heru juga menyampaikan, selain untuk migitasi bencana, hujan buatan dapat juga dilakukan untuk kepentingan lain, seperti untuk menjaga pengendalian pangan di dalam negeri dengan melakukan pengisian waduk-waduk di dekat lahan pertanian yang sedang kekeringan. "Rencananya UPT Hujan Buatan BPPT akan melakukan TMC meningkatkan curah hujan di Kalimantan Selatan pada bulan April untuk irigasi dan listrik," ujarnya.

Sayangnya, pengoperasian TMC di Indonesia masih terkendala oleh minimnya peralatan dan dukungan pemerintah. Heru mengungkapkan, saat ini Indonesia sudah memiliki teknologinya, tapi masih terkendala oleh minimnya peralatan. Dia berharap TMC bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang sangat baik.

"Untuk mengendalikan cuaca ekstrim di Indonesia, idealnya TMC harus memiliki 15 pesawat. Saya mengusulkan agar TMC di Indonesia dilakukan di tiga region, yaitu barat, Tengah, dan timur. Lalu, masing-masing region itu dilengkapi oleh lima pesawat untuk melakukan operasi TMC, " ungkap Heru.

Jumlah pesawat menurut Heru sangat penting untuk memaksimalkan penerapan teknologi ini. "Kami sangat mengharapkan kedepannya jumlah pesawat ini dapat dipenuhi. Hal ini akan membuat teknologi anak bangsa ini lebih besar perannya, baik dalam hal mitigasi bencana, ketahanan pangan serta ketahanan energi," pungkas Heru. (tw/SYRA/Humas)

 


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2019 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT