Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT KEMBANGKAN BIOLOGICAL CARBON CAPTURE AND STORAGE (CCS)

Global Warming merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC, sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Berkaitan dengan hal tersebut, masing-masing negara sepakat untuk menurunkan emisi gas buangnya dan menurunkan gas karbonnya untuk mengurangi dampak pemanasan global yang timbul. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan mikroalga sebagai penangkap karbondioksida.

"Carbon capture and storage (CCS) merupakan teknik yang dapat digunakan dalam pengurangan karbon oleh negara-negara di dunia. Dalam teknik ini karbon ditangkap kemudian dipisahkan dan disimpan kembali secara fisik. Teknik ini biasa diterapkan pada area pertambangan yang banyak menghasilkan banyak CO2 yaitu 70% seperti pada tambang gas alam natuna. Melalui teknik ini, karbon yang tertangkap diinjeksikan kembali ke perut bumi untuk mendorong minyak-minyak didalam agar dapat keluar. Biaya yang dikeluarkan untuk menambang minyak akan menjadi lebih efisien‚, demikian dikatakan Direktur Pusat Teknologi Lingkungan (PTL) BPPT Kardono di ruang kerjanya (17/12).

BPPT, menurut Kardono, saat ini telah mengembangkan CCS secara biologi dengan menggunakan mikroalga. Mikroalga yang hidup secara alami di limbah-limbah dan air tawar, diseleksi menggunakan teknik bioteknologi sebelum dimasukan ke reaktor. Teknik pengembangan mikroalga dapat menggunakan dua cara yaitu dengan fotobioreaktor dan kolam kultur.

‚Di Balai Teknologi Lingkungan BPPT, Puspitek Serpong, kami mengembangkan CCS secara biologi dengan melakukan kultur mikroalga pada fotobioreaktor dan kolam kultur. Budidaya mikroalga ini, dapat mereduksi kadar CO2 yang diemisikan dari aktifitas industri. Pada skala laboratorium, mikroalga terbukti dapat menyerap karbondioksida sekitar 60.000 ppm per hari‚, jelasnya.

Kardono menilai, hal tersebut adalah bukti nyata bahwa mikroalga memiliki potensi yang besar dalam mereduksi CO2. ‚Perusahaan yang mengembangkan teknologi ini, selain ikut berkontribusi pada pengurangan emisi karbon, juga berkesempatan mendapatkan dana bantuan Clean Development Mechanism (CDM) dari Conference of the Parties (COP/MOP) of the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC)‚, tambahnya.

‚Seharusnya kita jangan hanya terfokus pada penyerapan karbondioksida di akhir proses atau end pipe, karena tetap saja karbondioksida yang terbuang lebih banyak daripada yang mampu diserap. Alangkah baiknya apabila kita fokus di awal proses, atau tidak menggunakan energi yang menghasilkan CO2 sama sekali. Pengembangan nuklir untuk energi alternatif adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi pemanasan global, hal ini dikarenakan nuklir tidak menghasilkan CO2‚, ungkap Kardono. (KYRA/humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id