Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Pilot  Project Pengolahan Sampah Proses Termal (PLTSa), Opsi Nyata Tuntaskan Permasalahan Timbunan Sampah Perkotaan

Deputi TPSA Hammam Riza melaporkan rencana pembangunan Pilot Project Pengolahan Sampah Proses Termal (PLTSa) dan kegunaannya dalam acara ground breaking di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantar Gerbang. 21-03-2018. (HumasBPPT-SAS)

 

Tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Indonesia, khususnya di kota-kota besar kerap menjadi soal pelik. Rerata permasalahan utama adalah, TPA eksisting kondisinya penuh akibatjumlah sampah yang terus meningkat, sertasulitnya mencari lahan TPA yang baru.

 

Konsep pengelolaan sampah seperti yang tercantum dalam UU No.18 Tahun 2008 yaitu pengurangan sampah di level produsen dan konsumen, serta penanganan sampah yang meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, dan pemrosesan akhir; dirasa belum mampu menyelesaikan permasalahan tersebut. Untuk itu,diperlukan teknologi yang dapat memusnahkan sampah secara cepat, signifikan dan ramah lingkungan.

 

Sebagai solusi dari permasalahan sampah tersebut, pemerintah pun menetapkan Perpres No. 58/2017 tentang Proyek Infrastruktur Strategis Nasional (PSN), yang menetapkan PLTSa menjadi salah satuprogram nasional tersebut.

 

Menindaklanjuti Perpres itupun, BPPT lantas bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, membangun Pilot Project Pengolahan Sampah Proses Termal (PLTSa) di Bantar Gebang, dengan kapasitas 50 Ton per hari.

 

Penandatanganan MoU dan perjanjian kerjasamadengan Pemprov DKI Jakarta telah dilaksanakan pada tanggal 20 Desember 2017. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Pusat Teknologi Lingkungan, Kedeputian Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA). (Bisa diikuti di @TPSA_BPPT #TPSA_Hanya1Bumi).

 

Dikatakan oleh Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA), Hammam Riza bahwa pembangunanpilot project PLTSa akan berdampak positif untuk mengatasi permasalahan TPA sampah secara nasional.

 

“PLTSa merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah dengan tujuan utama memusnahkan sampah secara cepat dan signifikan, bahkan dapat menghasilkan listrik,” ungkapnya.

 

Lebih lanjut Deputi TPSA BPPT meyakini bahwapilot project PLTSa ini dapat digunakan sebagaipercontohan akan teknologi pengolahan sampah yang ramah lingkungan serta dapat menyelesaikan permasalahan sampah secara tuntas. PLTSa menggunakan teknologi termal karena mampu memusnahkan sampah dalam waktu yang cepat dan signifikan. Teknologi termal terdiri dari insinerasi, gasifikasi, dan pirolisis. Diantarateknologi termal tersebut, teknologi yang dipilih adalah insinerasi menggunakan tungku jenis reciprocating grate.

 

Teknologi tersebut tambahnya, dipilih karena merupakan teknologi yang sudah proven, banyak dipakai untuk kegiatan Waste to Energy (WtE) di dunia, ramah lingkungan, ekonomis, cocok untuk jenis dan kondisi sampah di Indonesia, dan potensi TKDN nya tinggi.

 

“PLTSa yang dikembangkan oleh BPPT menggunakan sampah dari TPA Bantar Gebang yang nilai kalori (LHV) yang ditetapkan sebesar 1500 kkal/kg dengan kapasitas sebesar 50 ton sampah/hari dan mampu menghasilkan listrik sekitar 400 kW. Disyaratkan supaya produksi listrik dapat mencukupi kebutuhan internal peralatan PLTSa,” ujarnya.

 

Terkait komponen PLTSa, Deputi TPSA BPPT menuturkan ada 4 (empat) peralatan utama; yaitu bunker terbuat dari concrete yang dilengkapi dengan platform dan crane; ruang bakar dengan reciprocating grate yang didisain dapat membakar sampah dengan suhu diatas 950oC sehingga pembentukan dioxin dapat diminimalisir.

 

“Panas yang terbawa pada gas buang hasil pembakaran sampah, digunakan untuk mengkonversi air menjadi steam di dalam boiler dan  superheater menjadi super heat steam.Superheated steam yang dihasilkan digunakan untuk memutar turbin jenis total condensed dengan kapasitas 750 kW untuk menghasilkan tenaga listrik. Unit PLTSa juga dilengkapi dengan unit Air Polution Control (APC) untuk membersihkan bahan berbahaya yang terbawa dalam gas buang, yang terdiri dari peralatan Quencher, Adsorber/Absorber (menggunakan semprotan bahan kapur/lime dan karbon aktif), serta bag filter,” terangnya.

 

Pilot  Project Pengolahan Sampah Proses Termal (PLTSa) Bantar Gebang ini dibangun berdasarkan desain yang merupakan hasil kajian Tim BPPT, bekerjasama dengan konsultan dalam negeri, sedangkan pada saat konstruksi dari Pilot Project PLTSa ini, akan menggunakan EPC lokal yang berpengalaman dalam membangun peralatan sejenis.

 

“Sebagian besar peralatan PLTSa merupakan produksi dalam negeri, yang berarti meningkatkan TKDN. Sedangkan peralatan yang belum dapat diproduksi di dalam negeri adalah unit Reciprocating Grate, Turbin uap dan sebagian peralatan untuk Air Pollution Control (APC),” katanya.

 

Sebagai informasi setelah selesainya pembangunan Pilot  Project PLTSa di  Bantar Gebang maka pengoperasiannya nanti dikelola oleh Pemprov DKI Jakarta dengan pendampingan BPPT.  Selain itu akan dilakukan transfer pengetahuan kepada  pihak pengelola untuk menjamin keberlanjutan program ini. Transfer pengetahuan dan Alih teknologi akan dilakukan dalam bentuk teori dan praktek dilapangan (on Job training). (Humas/HMP)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id