Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT Siapkan Sistem Pemeringkatan Bahaya Kebakaran untuk Lahan Gambut

BPPT menggelar Seminar Nasional PTPSW 2018 dengan tema "Pengembangan Sistem Pemeringkatan Bahaya Kebakaran Lahan Gambut (INA-FDRS)".  

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Unggul Priyanto saat membuka acara menuturkan bahwa kajian dan riset di lahan gambut sejak lama telah dilakukan oleh BPPT, pun institusi lainnya, dalam hal jenis gambut, fisiografi, hidrologi dan morfologi lahan gambut, aspek sosial, aspek ekonomi, metodologi pemetaan sebaran dan ketebalan gambut.

 

“Hasilnya telah diimplementasikan dalam bentuk kebijakan pengelolaan lahan gambut, tata ruang wilayah, tata kelola pemanfaatan lahan gambut,” terangnya pada acara yang dilaksanakan di Kantor BPPT, Jakarta, Selasa (18/09/2018).

 

BPPT dikatakan olehnya, bermaksud berkontribusi untuk membantu percepatan dalam pengelolaan lahan gambut yang bermanfaat secara ekonomi namun tetap berlandaskan tata kelola lingkungan yang baik, serta mencegah terjadinya bencana, khususnya kebakaran di lahan gambut

 

“Semoga teknologi BPPT ini dapat dimanfaatkan guna mengoptimalisasikan pengelolaan lahan gambut yang berwawasan lingkungan. Kami juga harapkan sinergi dari para pemangku kepentingan, untuk mempercepat tujuan pemerintah dalam pengelolaan lahan gambut dan mitigasi kebakaran hutan pada lahan gambut,” ujarnya.

 

Sistem Pemeringkatan Bahaya Kebakaran (SPBK)

Menyoal solusi mitigasi kebakaran hutan dan lahan, khususnya pada lahan gambut, BPPT saat ini tengah mengembangkan Sistem Pemeringkatan Bahaya Kebakaran (SPBK) atau Fire Danger Rating System (FDRS).

 

 

SPBK atau FDRS ini saat ini sudah diterapkan di Indonesia, namun masih mengacu kepada sistem atau algoritma dari negara lain yang berada di daerah Subtropis dan bertumpu pada data cuaca, sehingga tidak seluruh parameternya menjadi sesuai dengan wilayah Indonesia.

 

Aplikasi sistem inipun dilakukan bersama dengan institusi terkait seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).  Lebih lanjut terkait SPBK ini bahwa selain komponen cuaca, diperlukan komponen lain yang sangat berkaitan dengan kebakaran yang terjadi di Indonesia, yaitu komponen Aktivitas Manusia dimana banyak kebakaran terjadi karena aktivitas yang tidak terkendali, jarak dan aksesibilitas menjadi pertimbangan utama.

 

Kemudian komponen lain adalah bahan bakaran yaitu antara lain berupa sebaran dan ketebalan gambut. Juga distribusi air gambut dan sumber air untuk mengatasi kekeringan gambut. Yang terakhir adalah komponen kerugian yang diderita dalam rupiah akibat kebakaran lahan gambut. Disini diperlukan Akuntansi Sumberdaya Alam (NRA/Natural Resources Accounting) untuk memodelkan dan mendapatkan nilai kerugian sekaligus nilai potensi kerugian jika terjadi kebakaran pada penggunaan lahan tertentu.

 

Sebagai informasi, seminar nasional ini  berkolaborasi dengan IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers) Indonesia Section,  inipun dipadu dengan helatan The 2018 IEEE Asia-Pacific Conference on Geoscience, Electronics and Remote Sensing Technology (AGERS) yang bertajuk "Best Practice for Disaster Mitigation using Geoscience, Electronic Science, and Remote Sensing Science". (Humas/HMP)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id