14 Tahun Tsunami Aceh, Indonesia Harus Memperkuat Teknologi Deteksi Dini Tsunami

 

“Bangun BUOY ataupun Kabel Bawah Laut, BPPT siap untuk membangun fasilitas teknologi deteksi dini tsunami. Ini penting, berkaca pada 14 tahun tsunami di Aceh tahun 2004 lalu, hingga bencana di Lombok, Palu, bahkan di Anyer tahun 2018 ini, patut menyadarkan betapa pentingnya Indonesia untuk segera membangun BUOY atau kabel bawah laut atau Cable Based Tsunameter.”

 

Demikian diungkapkan Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam BPPT, Hammam Riza saat sesi wawancara di Kantor BPPT, Jakarta, Rabu, (26/12/2018).

 

 

Terpaan berkali-kali musibah tsunami di negeri kita ini kata Deputi TPSA, membuat para perekayasa BPPT mencari solusi teknologi terbaik  sebagai peringatan dini tsunami.  Diakui olehnya bahwa Indonesia sempat menggunakan teknologi BUOY sebagai alat pendeteksi dini bencana tsunami.

 

“Saat itu memang BPPT dilibatkan bersama instansi pemerintah lainnya, dalam melakukan deployment BUOY ke Samudera Indonesia untuk dipasang di beberapa titik. Tapi ya, saat ini BUOY di Indonesia sudah tidak ada karena perilaku vandalisme yang dilakukan oknum,” ungkapnya.

 

Meski begitu ditegaskan Deputi Hammam bahwa pihaknya siap untuk membuat fasilitas BUOY kembali jika diperlukan.

 

"BPPT saat itu juga ditunjuk langsung dalam membangun BUOY pendeteksi tsunami. Saat ini kami pun siap jika ditunjuk untuk membuatnya lagi," katanya.

 

Ditegaskan olehnya, keberadaan BUOY dinilai penting dalam guna mengirimkan sinyal terkini ketika ada gelombang tinggi di tengah laut yang diduga berpotensi menjadi tsunami muncul.

 

“BUOY terus menerus mengirimkan sinyal ke pusat monitoring secara real time, jika ada gelombang yang melewatinya. Semakin tinggi dan kencang gelombang, maka sinyal yang dikirim frekuensi-nya akan semakin rapat dan bisa berkali-kali dalam hitungan detik,”  rincinya.

 

Hal inilah yang dapat menjadi dasar untuk mewaspadai serta mendukung kesiapsiagaan bencana. Adanya langkah mitigasi imbuhnya, sangat penting bagi masyarakat  atau penduduk yang bermukim di wilayah yang rentan terhadap terpaan bencana.

 

“Masyarakat di wilayah berpotensi bencana, khususnya tsunami harus  memiliki waktu evakuasi yang cukup. Untuk itu dibutuhkan teknologi yang mampu mendeteksi dini atau early warning system, baik untuk tsunami maupun bencana lainnya," kata Hammam.

 

Deteksi Tsunami Bawah Laut

 

Selain membangun fasilitas BUOY, BPPT disebut Deputi Hammam menawarkan teknologi lainnya yang memungkinkan untuk melengkapi keberadaan BUOY. Teknologi tersebut adalah Cable Based Tsunameter atau CBT.

 

"Teknologi CBT itu sebenarnya sudah digunakan oleh negara Jepang. Di sana sudah berjalan dan mampu mendeteksi tsunami dengan baik juga," ujarnya.

 

Namun perlu ditekankan bahwa kedua peralatan itu baik CBT dan BUOY adalah saling melengkapi, baik fungsi dan kegunaannya.

 

“Sifat keduanya adalah saling melengkapi, sehingga hasil deteksi dini yang menjadi parameternya, menjadi  semakin presisi dan akurat,” paparnya.

 

Terkait pembangunan CBT inipun Hammam menggagas bahwa sistem CBT dapat menjadi program nasional, seiring adanya program sistem komunikasi kabel laut broadband network Palapa Ring, yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Informatika.

 

“Jadi CBT ini merupakan kabel bawah laut yang dilengkapi sensor untuk mengukur perubahan tekanan dalam laut yang ekstrem, yang mengindikasikan tsunami.  Sensor lalu akan mengirimkan data melalui satelit kepada pusat penerima data,”  jelasnya.

 

Biaya vs Waktu

 

Lebih lanjut Deputi Hammam juga menyatakan kalau proses pembuatan fasilitas CBT, menghabiskan biaya yang lebih mahal dari pembuatan BUOY.

 

"Jika dibandingkan dari biaya, pembuatan BUOY bisa menghabiskan miliaran, CBT  mencapai triliunan. Dari aspek perawatannya CBT lebih murah, BUOY akan lebih mahal. Dari waktu pembangunan, BUOY lebih cepat bisa hitungan bulan, CBT akan lebih lama bisa tahunan. Ini  hitung-hitungan kalau buat baru ya,"  rincinya.

 

Disampaikan Hammam juga yang menjadi kendala pembangunan CBT ini adalah belum seluruh wilayah Indonesia memiliki jaringan kabel bawah laut Palapa Ring.  Untuk itu, Hammam memberi saran agar pembangunan BUOY juga tetap dilakukan untuk di beberapa titik.

 

"Jadi pembangunan CBT harus kita sadari belum tentu bisa meng-cover semuanya, karena Palapa Ring juga belum meng-cover seluruh wilayah di Indonesia.  Jadi ya memang ya, mau tidak mau pembangunan BUOY tetap harus dilakukan. Tinggal kita lengkapi dengan GPS dan dapat  diawasi titik deployment nya oleh TNI maupun Polri di perairan lepas,” sarannya.

 

Sebagai informasi, rentetan bencana yang melanda bumi pertiwi ini jelas membutuhkan sinergi antar pemangku kepentingan, yang juga diperkuat dengan adanya solusi dari sisi teknologi. Untuk itu Deputi Hammam berharap pemangku kepentingan terkait dapat segera ambil keputusan dalam membangun fasilitas deteksi dini tsunami.

 

“Membangun BUOY maupun kabel bawah laut atau CBT, BPPT siap jika ditunjuk. Indonesia harus mandiri dalam hal membangun kesiapsiagaan bencana, dengan teknologi yang bisa dibangun di negeri sendiri,” pungkasnya. (Humas/HMP)