Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Identifikasi Senyawa POPs Polutan Penyebab Kanker, BPPT Bersama KLHK dan UN IDO Luncurkan Lab Uji POPs (II)

www.bppt.go.id, Tangerang Selatan -- BPPT bersama KLHK dan PBB melalui UNIDO atau United Nations Industrial Development Organization, berupaya untuk melakukan identifikasi  Indonesia agar terbebas dari polutan penyebab kanker tersebut. Yakni dengan meluncurkan Lab Uji PCB di Gedung Geostech, Kawasan Puspiptek, Tangsel, Kamis (10/01/2019).

 

Disebutkan oleh Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) BPPT, Hammam Riza bahwa ada beragam polutan berbahaya, dikenal sebagai POPs atau Polutan Organik yang Persisten. Salah satunya adalah PCBs atau polychlorinated biphenyls yakni bahan kimia yang sangat berbahaya bagi tubuh.



"Sama halnya dengan merkuri dan timbal, zat ini sangat berbahaya. Bahkan ini sifatnya organik," ujarnya pada acara Peluncuran Lab Uji PCB di Gedung Geostech, Kawasan Puspiptek, Tangsel, Kamis (10/01/2019).

 

Pada kesempatan yang sama Direktur Pusat Teknologi Lingkungan BPPT, Rudi Nugroho memaparkan, dimana PCBs bersifat karsinogenik sehingga mahluk hidup yang terpapar secara kronik oleh bahan tersebut berpotensi mengalami kelainan sel. 



"PCBs dapat ditemukan dalam minyak transformator, kapasitor, cat dan bahan pewarna, plastik, kertas rendah karbon dan lain-lain," ungkapnya.

Melalui program hibah dituturkan Rudi, UNIDO menyediakan perangkat instrumentasi untuk analisis PCBs kepada Pemerintah Indonesia berupa satu unit Gas Chromatograph (GC) dengan dilengkapi Electron Capture Detector (ECD). 

Alat tersebut lanjutnya, ditempatkan di Laboratorium Pusat Teknologi Lingkungan (PTL) BPPT. Perangkat GC-ECD tersebut akan memperkuat kompetensi Laboratorium Lingkungan PTL di bidang pengujian PCBs serta POPs dari jenis yang lain. 

"Untuk aplikasi perdana GC-ECD tersebut, akan digunakan dalam pengukuran PCBs dalam sampel minyak transformer hasil survey bersama antara KLHK dengan UNIDO di berbagai entitas di Indonesia yang diperkirakan terdapat PCBs. Dengan itu kita akan dapat melakukan identifikasi wilayah yang tercemar untuk dapat diputuskan langkah selanjutnya yang diambil, baik remediasi atau isolasi di wilayah terdampak," tutupnya.

Mengamini pernyataan Direktur PTL, Deputi TPSA BPPT, Hammam Riza kembali merinci bahwa terkait dengan persoalan global tentang persistent organic pollutants (POPs), BPPT telah memiliki rekam jejak menyangkut hal tersebut. 

Sebagai contoh imbuhnya, BPPT telah melakukan riset tentang:

1) Pemulihan lahan pertanian terkontaminasi POPs dengan teknik bioremediasi dengan pendekatan biostimulation,

2) Pemulihan matriks tanah terkontaminasi minyak (mengandung POPs atau PAHs) dengan teknik fitoremediasi dengan memanfaatkan tanaman sebagai salah satu agensia biologik perombak POPs atau PAHs (polycylic aromatic hydrocarbons)

3) Pemulihan matriks tanah terkontaminasi minyak (mengandung POPs atau PAHs) dengan teknik bioremediasi dengan pendekatan biostimulation maupun bioaugmentation

4) Pemulihan matriks tanah terkontaminasi minyak (mengandung POPs atau PAHs) dengan teknik desorpsi termal

5) Subsitusi pestisida POPs dengan biopestisida

6) Penyusunan detail engineering design (DED) destruksi PCBs dengan teknologi hybrid-BCD  dan lain-lain


“Dengan rekam jejak tersebut BPPT merasa yakin dapat berkontribusi dalam pelaksanaan Stockholm Convention di Indonesia.  Untuk itu BPPT sangatlah terbuka untuk berkolaborasi dengan instansi lain maupun lembaga internasional,” pungkasnya. (Humas/HMP)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id