• 021 316 9457
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Inovasi Teknologi Sipalaga, Pantau Muka Air Lahan Gambut, Siap Antisipasi Karhutla

Sistem Pemantau Air Lahan Gambut (SIPALAGA) disiapkan pemerintah, guna mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat kekeringan



Inovasi teknologi Sipalaga dituturkan oleh Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Wilayah (PTPSDW) BPPT Yudi Anantasena, merupakan sebuah solusi teknologi yang dikembangkan oleh BPPT bersama Badan Restorasi Gambut (BRG).



“Sistem ini mampu mendeteksi tinggi muka air dan kelembaban sehingga bisa segera dilakukan upaya preventif utk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut jika kondisi mulai kering. Kerusakan lahan gambut bisa disebabkan pengeringan berlebihan sehingga lahan gambut kering ini memicu terjadinya kebakaran. Sistem ini nantinya dapat dimonitor secara online oleh aplikasi  pemantauan tinggi muka air (TMA) yang dikembangkan BPPT bersama BRG,” ungkapnya usai Peluncuran Aplikasi SIPALAGA di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Selasa (29/01/2019).



Dipaparkan oleh Yudi bahwa dalam pemantauan lahan gambut, BRG memerlukan informasi mengenai kondisi lahan gambut secara real time, sehingga lahan gambut dapat terpantau secara berkala.



“BRG telah melakukan pemasangan alat pemantau TMA sebanyak 142 buah yang telah dikemas kedalam sistem SIPALAGA hasil kerjasama dengan BPPT yang telah  dirintis sejak pertengahan tahun 2016 lalu,” terangnya.



Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan restorasi Gambut Nazir Foeadi pada saat peluncuran aplikasi SIPALAGA tersebut menyebut Sistem pemantau air lahan gambut (SIPALAGA) inipun dipersiapkan mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat kekeringan.


“Sistem tersebut diperkenalkan Badan Restorasi Gambut (BRG) sebagai upaya preventif. Kita ingin menjaga lahan gambut tetap basah. Cara terbaik yaitu membangun sensor yang membaca lahan secara real time,” ujarnya.



Sensor tersebut urainya, akan dipasang di setiap lahan gambut. Sistem Sipalaga ini bisa mendeteksi tinggi muka air (TMA) dan kebasahan lahan gambut, di ekosistem gambut secara langsung.



"Jadi kami ingin menjaga lahan gambut agar tetap basah dan cara terbaik adalah membangun sensor ketika air dibawah 0,4 meter," ucap Nazir.



Agar lahan gambut tetap basah kata Nazir, BRG akan memantau secara real time setiap 60 menit sekali. Kemudian setelah itu, data tersebut dikirim ke server BRG dan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk dilakukan pengecekan.



"Kalo airnya track-nya menurun terus, dan ramalan cuaca dari BMKG [Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika] tidak akan hujan selama 20 sampai 30 hari kedepan, berarti itu rawan," terangnya.



Jika hal yang tidak diinginkan tersebut terjadi, Kepala BRG itu segera menginformasjkan ke Satuan Petugas (Satgas) agar meningkatkan patroli.



"Kemudian Pemerintah daerah akan menjaga, dan fasilitator desa BRG supaya bisa masuk bersama Kepala Desa dan masyarakat agar membantu," tutupnya.

 

Sebagai informasi, Sistem ini dapat diakses di http://sipalaga.brg.go.id/ (Humas/HMP)


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 14
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9457
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2020 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT