• 021 316 9534
  • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

BPPT Terapkan AI Dukung Ketahanan Pangan Nasional 

  

 

Ketidakakuratan data produksi padi telah diduga oleh banyak pihak sejak tahun 1997. Studi yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) pada 1996/1997 telah menginsyaratkan estimasi luas panen sekitar 17,07 persen.

 

Persoalan yang sama juga terjadi pada luas lahan baku sawah yang dilaporkan cenderung meningkat meskipun fakta dilapangan menunjukan terjadinya pengalihan fungsi lahan sawah untuk industri, perumahan atau insfrastruktur yang tidak bisa diimbangi oleh pencetakan sawah baru.

 

Upaya untuk memperbaiki metodologi perhitungan produksi padi baru dilakukan pada tahun 2015.

 

BPS bekerjasama dengan BPPT, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (Kementerian ATR/BPN), Badan Informasi Geospasial (BIG) serta LAPAN berupaya memperbaiki metodologi perhitungan luas panen dengan menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA) dengan memanfaatkan citra satelit yang berasal dari BIG dan peta lahan baku sawah yang berasal dari Kementerian ATR/BPN untuk estimasi luas panen padi. 

 

Kepala BPPT Hammam Riza bangga bisa menghadirkan teknologi pengindraan untuk perhitungan luas lahan panen dan jumlah gabah kering giling dan hasil produksi beras nasional, yang merupakan kerjasama dengan seluruh mitra terutama dengan BPS yang memanfaatkan Kerangka Sample Area (KSA) sebagai metode dalam perhitungan jumlah total produksi beras, katanya di sela acara Rilis Data Luas Baku Lahan Sawah 2019, KSA Padi 2019, dan Soft launching Agriculture War Room (AWR) atau Pusat Komando Strategis Pembangunan Pertanian, di Kementerian Pertanian, Jakarta (04/02).

 

“Ini merupakan sebuah terobosan teknologi dalam penerapan teknologi informasi di bidang pertanian,” ungkap Hammam.

 

Dirinya mengungkapkan, kedepan BPPT ingin memperkuat AWR dengan artificial intellegence (AI) dan Internet of Thing (IoT) sehingga seluruh tahapan vegetasi dari berbagai komoditas pertanian dapat bergerak mengadopsi industri 4.0. 

 

“Dengan menggabungkan AI dengan agricultural intelegance maka menjadi AI kuadrat, ini akan menjadi terobosan,” ujarnya.

 

BPPT sebagai lembaga kaji terap lanjut Hammam, siap untuk mendampingi Kementerian Pertanian dalam memajukan informasi pertanian  melalui otomatisasi, sehingga menghadirkan data yang akurat dan realtime.

 

“Ini sangat penting bagi kita untuk menumbuhkan kekuatan ketahanan pangan,” tegasnya.

 

Inovasi Kerangka Sampel Area

 

Dalam acara softlaunching AWR di Kementerian Pertanian, Hammam juga menjelaskan, bahwa BPPT dan BPS baru saja merampungkan Data Lahan Baku Sawah Tahun 2019. Sinergi ini, melahirkan adanya satu data terkait lahan baku sawah Indonesia atau penghitungan luas panen dan produksi 2019.

 

Data lahan baku sawah tersebut, dikatakan Kepala BPPT, akan menjadi rujukan utama dalam menentukan kebijakan pangan terutama beras. Dalam proses penyempurnaan data yang dimulai sejak tahun 2018 lalu mengusung penerapan inovasi teknologi Kerangka Sampel Area (KSA)

 

“Kami bersama BPS, dan kementerian/lembaga lain, terus berkolaborasi melakukan penghitungan yang lebih akurat, agar data lahan baku sawah Tahun 2019 dapat menjadi rujukan yang valid,” paparnya

 

Dirinya kemudian mengungkap bahwa inovasi KSA merupakan tindak lanjut dari amanat atas kebijakan pangan pada 27 Januari 2016 lalu, di mana Presiden Joko Widodo saat itu meminta adanya langkah yang valid, dalam hal sistem data dan informasi pertanian.

 

“Inovasi KSA dapat memberikan data produktivitas pertanian yang lebih akurat karena cara pengambilan datanya yang harus dilaporkan langsung dari titik koordinat, pengamatannya menggunakan perangkat smartphone dari para mitra statistik di lapangan,” detil Hammam.

 

Lebih lanjut, Hammam mengungkapkan bahwa Metode KSA ini mulai digunakan sejak Januari 2018 untuk menyempurnakan data produksi padi.

 

“Dengan rilis penghitungan luas panen dan produksi 2019 oleh Kementerian Pertanian, ini menjadi bukti, bahwa teknologi berperan penting dalam menunjang akurasi data statistik,” tutup Hammam.



Sebagai informasi, hadir pada acara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B Panjaitan, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional  Sofyan Djallil serta para pejabat dilingkungan Kementerian Pertanian (Humas/HMP)

 

tag:

TPSA, PTPSW, KSA, AI, Hammam Riza


Hubungi Kami
Bagian Humas
Gedung B.J. Habibie Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340
(021) 316 9534
(021) 398 38729
humas@bppt.go.id
bppt.go.id

© 2020 Designed by Pusat Manajemen Informasi & Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat - BPPT