Print

TPSA BPPT TINGKATKAN JARINGAN KERJA MELALUI SARESEHAN TEKNOLOGI KEBUMIAN

Sarasehan ini merupakan ide awal dari Ridwan Djamaluddin setelah dilantik menjadi Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA). Tujuan dari acara ini bukan semata-mata untuk pamer kekuatan, unjuk gigi atau show off dari senior-senior TPSA, tetapi untuk memberikan sumbang saran dan kritik yang membangun dari berbagai sisi, sehingga dapat dimanfaatkan untuk membangun TPSA di masa mendatang.

{rokbox}images/stories/saresehantpsa.jpg{/rokbox}{rokbox}images/stories/saresehantpsa1.jpg{/rokbox}{rokbox}images/stories/saresehantpsa2.jpg{/rokbox}

{rokbox}images/stories/winter.jpg{/rokbox}

‚Sarasehan ini merupakan rangkaian kegiatan inisiatif yang diselenggarakan Deputi TPSA yang baru dalam rangka memperkenalkan personil-personil dan menghimpun masukan serta mempersiapkan upaya-upaya untuk meningkatkan jaringan kerja yang selama ini sudah terbangun maupun yang sudah dijalankan‚, ungkap Kepala BPPT, Marzan A Iskandar saat sambutan pembuka dalam acara Sarasehan Teknologi Kebumian di ruang Auditorium BPPT (07/07).

BPPT tidak hanya sekedar tempat untuk menghasilkan orang-orang ahli atau orang-orang yang bekerja secara teknis tetapi juga telah dipersiapkan untuk menghasilkan pemimpin-pemimpin. ‚Oleh karena itu, saya menugaskan secara khusus kepada deputi TPSA sekarang, untuk lebih memprioritaskan dan memfokuskan program kegiatan TPSA pada pengembangan kelautan dan mitigasi bencana‚, tegas Kepala BPPT.

TPSA terdiri dari 427 pegawai, 14 % dari seluruh pegawai BPPT, jumlah pegawai yang cukup banyak untuk menjalankan amanah dari Kepala BPPT. ‚Seperti yang sudah ditegaskan oleh Kepala BPPT bahwa TPSA harus memberikan perhatian lebih terhadap perairan Indonesia, oleh karena itulah salah satu alasan mengapa TPSA lebih banyak bergerak dibidang kelautan‚, kata Ridwan Djamaluddin,

Selama perjalannya, TPSA banyak menghasilkan output seperti hujan buatan, bouy tsunami dan Baruna Jaya. Selain itu, penghargaan-penghargaan yang membanggakan yang pernah diterima TPSA seperti rekor muri Yusuf Surachman menyelam menggunakan Submersible SHINKAI 6500 Jepang pada kedalaman 2050m di bawah permukaan laut, tahun 2004 Baruna Jaya merupakan unit kerja terbaik se-BPPT. Sedangkan pada tahun lalu, masuk dalam "101 Inovasi Indonesia 2009", dan yang tidak kalah membanggakan, Balai Teknologi Survey Kelautan terpilih sebagai pengelola keuangan negara terbaik kedua.

‚Dengan melihat berbagai output dan penghagaan yang diraih oleh TPSA, ini merupakan bukti bahwa TPSA telah mengeksplore perairan Indonesia. Dari segi BPPT kita akan lebih fokus pada teknologi untuk mitigasi bencana dan membuat standar-standar agar hidup masyarakat lebih aman. Lalu hal ketiga, sesuai arahan Kepala BPPT, yakni perubahan iklim atau isu pemanasan global, BPPT harus ikut bicara karena ini merupakan bisnis besar dunia, sehingga tugas BPPT harus mepelajari konteks pemanasan global dan memberikan kontribusi positif untuk memitigasinya‚, jelas Ridwan.

Seperti yang dijelaskan oleh Ridwan, terkait dengan achievment BPPT, menurut mantan Direktur TISDA sekaligus mantan Deputi TPSA, Indroyono Soesilo, yang sekarang menjabat sebagai Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, hubungan antara warga TPSA yang di dalam dan di luar struktur bagaikan konsep ‚piramida didalam kubus‚ (piramida tanpa kubus akan kedinginan dan kubus tanpa piramida akan keropos), artinya warga TPSA bersatu menjadi satu kesatuan kekuatan. ‚Dengan mengimplementasikan konsep tersebut, TPSA terbukti telah mengahasilkan penghargaan yang luar biasa, serta konsep tersebut telah menjadi kesepakatan TPSA‚.

Masih mengenai penghargaan BPPT, hal senada juga diungkapkan oleh guru besar ITB, MT. Zen bahwa yang harus diikhtiarkan dan diperjuangkan saat ini adalah intelectual independency, hal tersebut harus dimiliki agar bangsa kita tidak dijajah. ‚Saya yakin kedepannya, warga TPSA akan menjadi pemimpin‚, tegasnya.

BPPT sebagai lembaga yang mengkaji dan menerapkan teknologi, banyak menjalin kerjasama dengan instansi atau industri lain. ‚Saya sangat setuju sekali adanya kerjasama antara Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan BPPT dalam hal ini TPSA, yang merupakan potential join research. Rencana kerja tahun 2011 kedepannya, saya mengajak Ridwan Djamaluddin membuat studi monitoring iklim di maluku utara‚, kata Kepala BMKG, Sri Woro Budiati Harijono.

Selain bekerjasama dengan BMKG, BPPT dalam hal ini TPSA turut serta bekerja sama dengan Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal). Kepala Bakosurtanal, Asep Karsidi mengatakan bahwa Bakosurtanal diminta oleh Menteri Kehutanan untuk meneliti hutan-hutan di Indonesia, yang bekerja sama dengan BPPT (TPSA), LAPAN, dan Departemen Kehutanan. ‚Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan memonitoring kondisi kehutanan. Tugas Bakosurtanal cukup berat, oleh sebab itu saya butuh dukungan dari teman-teman di BPPT‚.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, Sugeng Tri Utomo, mengatakan pada umumnya tren yang disorot didunia adalah climate change dan penanggulangan bencana. Dua hal ini yang terkait dengan tugas-tugas di TPSA. Bagaimana itu diimplementasikan di tingkat nasional? ‚Kita beruntung sekali, dalam RPJM memasukkan lingkungan hidup yang notabenenya climate change dan penanggulangan bencana sebagai salah satu prioritas.‚, jelasnya.

Lebih lanjut, menurut Sugeng peluang yang dapat dijamah TPSA dalam penanggulangan bencana mengenai risk assesment. Setiap daerah harus menyusun, menginformasikan dan menyiapkan peta rawan bencana. Setelah mempunyai peta, lalu menyusun disaster management plan, disinilah unsur teknologi cukup tinggi, jadi keahlian dari rekan-rekan dapat dimanfaatkan untuk membantu daerah-daerah dalam membuat perencanaan dalam menanggulangi bencana. (KYRA/humas)