Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

PERLU TEKNOLOGI PENGURANGAN RISIKO DAN KAPASITAS KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT TERHADAP BENCANA BANJIR

Dalam menghadapi resiko bencana banjir pada dasarnya terdapat dua jenis upaya penanggulangan seperti mitigasi pengurangan dampak yang ditimbulkan oleh luapan dan derasnya air bah dan upaya adaptasi untuk meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menanggapi bencana banjir sehingga mampu menghindarkan diri dari dampak banjir. Hal demikian dikatakan Kepala BPPT Marzan A Iskandar saat sambutannya dalam acara workshop yang bertema Teknologi Pengurangan Risiko dan Penanganan Kapasitas Kesiapsiagaan Masyarakat terhadap Bencana Banjir di Jakarta (8/12).

Namun, menurutnya, dalam penanggulangan banjir tetap dibutuhkan cara-cara yang kompherensif dan maju, serta adanya improvement dari waktu ke waktu secara jelas. Oleh karena itulah BPPT berinisiatif untuk menyediakan alternatif-alternatif baru untuk mengurangi risiko banjir sesuai dengan kompetensinya di bidang pengkajian dan penerapan teknologi, seperti teknologi Zero Delta Q, ungkap Marzan.

Selanjutnya dijelaskan bahwa BPPT telah mengembangkan teknologi Zero Delta Q untuk mengurangi resiko banjir di Jakarta yang direncanakan dilaksanakan tiga tahun ke depan dari tahun 2011. kegiatan ini telah tertuang dalam Peraturan Pemerintah no.26 tahun 2008. Dengan demikian, menjadi suatu keharusan bagi setiap bangunan agar tidak mengakibatkan bertambahnya debit air ke sistem saluran drainase. Artinya harus adaya upaya baru agar bangunan dapat menahan air, paparnya.

Upaya mitigasi lain, sambungnya, adalah Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mengurangi curah hujan (rain reduction) guna mengantisipasi banjir di wilayah Jakarta. Konsep TMC rain reduction telah diaplikasikan dan dinilai sukses selama pelaksanaan event pesta olah raga regional Sea Games XXVI di Palembang. Sementara itu, upaya adaptasi yang dilakukan BPPT adalah sistem teknologi SIJAMPANG. Sistem ini ini mencoba memadukan informasi hujan melalui data radar, dan informasi lainnya yang tersedia di internet seperti data AS, CCTV maupun informasi yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat melalui sms, jelasnya lebih lanjut.

Pada kesempatan yang sama, Staf Ahli Menko Kesra Bidang Perubahan Iklim dan Indikasi Bencana, Asep D. Muhammad menegaskan memasuki musim penghujan yang diperkirakan banjir dari bulan November 2011 sampai Maret 2012, harus segera dilakukan antisipasi untuk meminimalisir dampak variasi tingkat kerusakan yang meliputi korban jiwa, sarana dan prasarana, pariwisata, bagunan penahan banjir, ekonomi,  transportasi dan sebagainya. Dengan demikian diharapkan agar masing-masing daerah tidak terkecuali DKI Jakarta segera mengantisipasi dampak bencana banjir dengan menyiapkan berbagai langkah strategis seperti membentuk dan mengaktifkan posko pengendalian banjir, pengerahan sumber daya berbasis potensi lokal, informasi penanggulangan banjir untuk masyarakat serta kegiatan penyuluhan dan sosialisi di wilayah rawan banjir, kata Asep dalam sambutannya yang mewakili Menkokesra.

Terkait dengan kesiapan DKI Jakarta dalam menghadapi bencana banjir, Wakil Kepala Bappeda DKI Jakarta, Mahendra menyampaikan sesuai dengan isu banjir yang akan melanda di Jakarta awal 2012, Pemkot DKI Jakarta terus berupaya untuk mengantisipasi ancaman banjir dengan melakukan pengerukan sungai atau normalisasi sungai dan kali. Selain itu, juga dilakukan penyelesaian titik genangan hingga perluasan gorong-gorong di jalan protokol yang diharapkan mampu menampung curah hujan dengan intensitas diatas normal, tambahnya.

Berdasarkan perspektif data klimatologi seratus tahunan, Kepala BMKG Sri Woro Budiati Harijono menegasakan secara data tidak ada siklus banjir tahunan. Karena kejadian banjir sangat tergantung dengan fenomena el nino dan la nina yang mempengarhi curah hujan. Dan kemunculan el nino dan la nina tidak mempunyai siklus reguler. BMKG bisa memprediksi iklim hingga 4-6 bulan ke depan, namun untuk cuaca harian baru bisa diprediksi hingga 4 hari sebelumnya. Dengan demikian untuk potensi banjir pada Januari 2012 di ibukota Jakarta cukup tinggi alasannya puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Desember 2011 dan Januari 2012, ungkapnya.

BMKG mengingatkan sejumlah kecamatan di ibukota yang berpotensi banjir tinggi yaitu Cengkareng, Grogol, Petamburan, Kalideres, Kebon jeruk, Taman Sari di Jakarta Barat. Sedangkan di Jakarta Pusat di Cempaka Putih, Gambir, Kemayoran, Menteng Sawah Besar, Senen dan Tanah Abang. Di Jakarta Selatan kecamatan Cilandak, Kebayoran Baru, Mampang, Pancoran, Pasar Minggu, Pesanggrahan dan Tebet. Jakarta Timur di Cakung, Ciayung, Ciracas Jatinegara, Pulo Gadung dan Kramat Jati serta Jakarta Utara di Cilincing, Kelaa Gading, Koja, Pademangan, Penjaringan dan Tanjung Priuk. (KYRAS/humas) 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id